Maklumat

Khusus untuk konten-konten sastra seperti puisi, cerpen dan esai silahkan kunjungi http://blog.edelweis-art.com. Terima kasih (Penulis)

Selasa, Desember 11, 2007

LILIN YANG TAK (BISA) BERCAHAYA


“BAIKNYA
kita akhiri saja perkawinan kita,” Suta tiba-tiba saja menghentikan makan paginya. Dibiarkannya makanan tersisa banyak di piringnya. Ia tatap wanita di hadapannya, istrinya, yang hanya dapat mengerutkan kening seraya menghentikan pula kunyahan di mulutnya.

“Ya, aku rasa, kita sebaiknya mengakhiri perkawinan kita,” Suta mengulang ucapannya, menegaskan pernyatannya.

“Tapi kenapa kita harus mengakhiri perkawinan kita? Toh selama ini kita baik-baik saja, bukan? Aku mencintaimu dan sebaliknya, kau mencintaiku juga. Iya, kan?” sang istri masih menatap Suta.

Suta menghela nafasnya. Dalam. Menahannya beberapa saat, lalu menghembuskannya kembali dengan berat. Sejenak ia alihkan pandangan ke rimbunan bunga-bunga yang nampak dari jendela samping rumah.

“Kau mencintaiku juga, kan?” sang istri mengulang ucapannya. Masih menatap Suta.

“Atau, karena aku tak bisa memberimu keturunan? Karena aku …?”

“Bukan. Bukan itu!” Suta mengalihkan kembali pandangannya, menatap kembali istrinya dengan kuat. “Aku tak pernah menganggap ketidakhadiran anak dalam perkawinan kita sebagai kekurangan darimu. Justeru aku yang merasa sangat berdosa padamu.”

“Berdosa padaku?” sang istri kian tak mengerti.

Sejenak, sekali lagi, Suta kembali menghela nafasnya. Dalam. Dan berat.

“Ya, karena terus terang, aku tak pernah bisa mencintaimu!

“Maafkan aku. Aku tak bisa lagi terus-menerus menghianatimu, menipumu.

“Tujuh tahun perkawinan kita, aku hanya merasa seperti hidup dalam panggung opera.

“Aku hidup hanya sebagai pemain sandiwara.

“Aku memang selalu berusaha mencintaimu, mencintai wanita yang dipilihkan Ibu untuk menjadi istriku.

“Aku berusaha menuruti ucapan Ibu bahwa kau adalah wanita baik, yang pasti bisa mengurus suami, mengurusku, mencintaiku.

“Dan memang aku menemukan kebenarannya.

“Kau memang wanita baik. Penuh kejujuran. Kesetiaan.

“Tapi, entahlah. Saat aku mencoba mencintaimu, selalu saja aku tak mampu.

“Aku selalu gagal.

“Aku tak bisa!”

Sang istri pun menangis. Lelaki yang telah bertahun-tahun dikenalnya sebagai sosok yang penuh kasih, pelindung, penyayang itu, hingga ia sampai lupa untuk menanyakan soal cinta padanya—hingga baru saat ini ia menanyakannya, tiba-tiba menyatakan kalau ia tak pernah mencintai dirinya.

Sang istri menangis. Namun bukan karena kehilangan cintanya. Bukan karena ternyata keliru mengartikan sikap-sikap lelakinya itu selama ini.

Ia menangis, karena kini ia baru tahu ada kepedihan yang begitu sangat, mengganjal di hati Suta. Beban, yang bertahun-tahun menghimpit perasaannya, memasungcintanya. Dan ia tak pernah dapat merasakannya. Seperti lilin, ia merasa tak pernah bisa memberikan cahaya pada cintanya itu.

“Dan wanita itu?” sang istri masih menatap Suta, menatap suaminya, dan membiarkan matanya tetap basah.

“Ibu tak pernah merestui hubungan kami.

“Bertahun-tahun aku mencoba meyakinkan Ibu bahwa ia tidaklah seperti bapaknya; lelaki yang pernah menyakiti Ibu, yang pernah menjadi kekasih Ibu namun kemudian meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain.”

“Dan kau menyerah?”

“Aku tak pernah ingin menyakiti Ibu. Apalagi setelah meninggalnya Bapak saat aku masih balita, Ibulah yang memikul segala beban hidupku.

“Ibu begitu menyayangiku. Selalu memenuhi apa yang kuinginkan. Apapun yang kuminta selalu diturutinya.

“Kecuali wanita itu. Laras.”

“Dan sekarang, karena Ibu telah tiada …” sang istri sengaja menggantungkan ucapannya. Ia masih saja melekatkan pandangannya, menatap lelakinya itu.

Lima bulan yang lalu, Laras pergi untuk selama-lamanya, karena kanker. Dan ia tak pernah menikah.”

Sang istri mengangkat tubuhnya. Menuju jendela. Menebarkan pandangan ke rimbunan bunga-bunga di halaman.

Dan pada pagi berikutnya, mereka pun tak lagi satu meja. Dan mereka tak pernah lagi makan pagi bersama.

Sampai hari-hari terus berlalu. Tahun-tahun terus berlalu.

Mereka kini memilih jalannya sendiri-sendiri.

Suta memutuskan untuk berlayar dan mengembara. Mengarungi samudera demi samudera. Menjelajahi sudut demi sudut dunia.

Sang istri memutuskan untuk membuka panti asuhan.

Mereka memutuskan untuk tetap sendiri-sendiri, sampai akhir hidupnya.

Selasa, November 20, 2007

Langit Senja

ah, selalu saja ada tersisa di langit senja
entah mendung
entah gerimis
entah angin yang tak bercuaca
padahal sungguh aku ingin benar-benar menikmati senja
bersama lazuardinya
yang benar-benar jingga
hanya jingga!

Kamis, Oktober 25, 2007

Surat untuk Penyair Muda

Rainer Maria Rilke*


Sebelum tintamu menjadi darah, kata-kata
akan tetap sebagai bunyi; kebisingan lain
di tengah hingar-bingar dunia: Deru mobil,
guntur meriam dan gunjing murah koran got.

Kau meniup seruling tapi kau sendirilah serulingnya
: itulah nasibmu, Kepenyairan adalah ziarah
tanpa peta, pelayaran tanpa bintang.
Padahal dunia menawarkan begitu banyak jalan.

Berhentilah menulis kalau kau tak rela hidupmu
jadi sajen di candi dewata yang tak dikenal.
Menulislah kalau kau yakin sajakmu menjadi sepi
: Keheningan pertapa saat roh memandang dirinya.

(Saini KM: Surat untuk Penyair Muda dalam antologi puisi Pernyataan Cinta, 1999)


KAU tanyakan apakah sajak-sajakmu bagus. Kau tanyakan padaku. Sebelumnya kau pun telah bertanya pada yang lain. Kau kirim sajak-sajakmu itu ke berbagai majalah. Kau banding-bandingkan dengan sajak-sajak yang lain. Dan kau pun jadi terganggu ketika ada redaktur yang menolak upayamu itu. Kini (karena kau izinkan aku menasehatimu), aku minta kau jangan lagi melakukan semua ikhtiar semacam itu. Kau melihat ke luar, dan dari segala-galanya itulah yang kini harus tidak boleh kau lakukan.

Tidak ada orang yang bisa menasehati dan menolongmu, tak seorang pun. Hanya satu-satunya cara yang ada: pergilah masuk ke dalam dirimu. Temukan sebab atau alasan yang mendorongmu menulis: perhatikan apakah alasan itu menumbuhkan akar yang dalam di ceruk-ceruk hatimu. Buatlah pengakuan pada dirimu sendiri, apa kau harus mati jika sekiranya kau dilarang menulis. Pertama-tama tanyakan dirimu dalam ketenangan malam: haruskah aku menulis? Menukiklah ke dalam lubuk dirimu agar kau mendapat jawaban yang dalam. Dan jika jawabannya "ya", jika pertanyaan yang khidmat tadi dijawab dengan sederhana dan mantap "aku harus", maka binalah dirimu sesuai dengan keharusan itu. Hidupmu, baik pada saat-saat yang paling remeh dan sepele sekalipun, haruslah merupakan bukti dan kesaksian dari dorongan menulis itu.

Kemudian cobalah dekati alam. Lantas usahakan seakan-akan kau adalah salah seorang dari orang-orang pertama yang mengatakan apa yang kau lihat dan apa yang kau alami, yang kau cintai dan kehilangan-kehilanganmu. Jangan tulis sajak cinta. Jauhi dahulu bentuk-bentuk yang sangat familiar dan biasa itu. Karena bentuk yang semacam itu adalah yang paling sulit.

Di dalam tradisi yang bertaburan dengan karya bagus dan sebagian cemerlang itu, diperlukan kekuatan besar dan penuh dewasa untuk bisa memberi sumbangan individual. Maka itu, dari tema-tema umum, berpalinglah pada apa yang diberikan oleh kehidupanmu sehari-hari; lukislah dukacita dan keinginan-keinginanmu. Pikiran-pikiran yang melintas dalam dirimu. Dan keyakinanmu dalam suatu keindahan tertentu. Lukiskan semuanya itu dengan sepenuh hati, sungguh-sungguh, rendah hati dan ikhlas. Gunakanlah benda-benda di sekitarmu, imaji-imaji dirimu dan kenangan-kenanganmu untuk mengekspresikan dirimu.

Jika kehidupanmu sehari-hari terasa miskin dan gersang, jangan sesalkan dirimu, katakanlah pada dirimu, kepenyairanmu tidak cukup untuk dapat menggali kekayaan dirimu. Karena bagi setiap pencipta tidak ada kegersangan dan tidak ada tempat yang penting dan gersang. Bahkan jika kau sekiranya berada dalam penjara dengan tembok-temboknya yang menjauhkanmu dari suara dunia--bukankah kau masih memiliki masa kanak-kanakmu sebagai gudang khazanah kenangan yang kaya-raya? Perhatikanlah itu. Cobalah bangkitkan kembali sensasi-sensasi yang tenggelam dari masa lampau yang jauh itu. Kepribadianmu akan lebih kuat tumbuhnya, kesunyianmu akan berkembang menjadi tempat tinggal yang temaram di mana suara-suara yang lain lewat di kejauhan. Dan jika dari menengok ke dalam ini, dari menyelam ke dalam ini, dari menyelam ke dalam dunia pribadimu ini, akan muncul sajak-sajak, tidak usah kau tanyakan pada siapapun apa sajakmu itu sajak yang baik. Juga tak perlu kau upayakan agar majalah dan koran-koran menaruh perhatian terhadap karya-karyamu itu. Karena karyamu itu adalah milikmu yang sejati dan berharga, suatu bagian dan suara dari kehidupanmu. Suatu karya seni menjadi baik jika tumbuh dari kebutuhan yang wajar. Dari cara ia berasal. Di situlah letaknya. Penilaian yang benar; tidak ada cara lain. maka itu, aku tidak bisa memberi nasehat kecuali ini: pergilah masuk ke dalam dirimu, galilah sampai ke dasar tempat kehidupanmu berasal. Pada sumbernya itu, kau akan mendapatkan jawaban apakah kau memang "harus" mencipta. Dengarkan suaranya, tanpa terlalu cerewet menyimak kata-kata. Barangkali memang sudah merupakan panggilan bahwa kau harus jadi seniman. Maka terimalah takdirmu itu, tanggungkan naik bebannya maupun kebesarannya, tanpa minta-minta penghargaan dari luar dirimu. Karena seorang pencipta haruslah menjadi sebuah dunia bagi dirinya sendiri, dan menemukan segala-galanya di dalam dirinya sendiri, serta di dalam Alam tempat dirinya berada.

Namun setelah masuk ke dalam diri dan ke dalam kesendirianmu, mungkin kau harus melepaskan keinginanmu untuk menjadi penyair (bagi saya, seseorang bisa hidup tanpa harus menulis daripada sama sekali berspekulasi untuk itu). meskipun demikian, upaya memusatkan perhatian ke dalam diri sendiri yang kuanjurkan itu, tidaklah sia-sia. Bagaimanapun juga hidupmu sejak itu akan menemukan jalannya sendiri. Dan kuharapkan hidupmu menjadi baik dan kaya serta tinggi pencapaiannya lebih dari apa yang bisa aku ucapkan.

Apalagi yang harus kukatakan? Rasanya segalanya telah mendapat tekanan yang wajar. Akhirnya aku ingin menasehati agar mau menumbuhkan dirimu secara serius. Tidak ada cara yang leih ganas menghalangi pertumbuhanmu keculai dengan melihat ke luar, dan upaya mengharapkan jawaban dari luar, terhadap pertanyaan-pertanyaanmu yang paling dalam dan saat-saatmu yang paling hening bisa menjawabnya.

* diambil dari buletin Puitika (Sanggar Sastra Tasik) edisi-3/th.I/November-Desember/1999; terjemahan Sutardji Calzoum Bachri dari Letters to a Young Poet karya Rainer Maria Rilke (Jerman)

Selasa, September 25, 2007

Saat Kau Katakan Padaku bahwa Kau Mencintaiku*

ingin kupanggil bintang-bintang
turun dari langit
ingin kuhidup dalam hari
yang abadi
ingin kuubah dunia
hanya untukmu
segala yang tidak mungkin
ingin kulakukan

ingin kumendekapmu
di bawah hujan
ingin kukecup senyummu
dan rasakan kesedihan itu
kutahu betapa indahnya
memandangmu
dalam dunia kepalsuan
kaulah keniscayaan itu

dan kasih
setiap kali kau menyentuhku
kumenjadi kuat
kuingin melindungimu
tak peduli di manapun kau berada
dan membawamu
semua yang kau tanyakan
tak ada yang sulit bagiku
kubersinar seperti lilin di kegelapan
saat kau katakan padaku bahwa kau mencintaiku

kungin membuatmu tahu
aku apa adanya
menunjukanmu akan kesepian
dan apa itu adanya
kau melangkah ke dalam hidupku
menghentikan airmataku
segalanya menjadi mudah kini
kumemilikimu di sini

dan kasih
setiap kali kau menyentuhku
kumenjadi kuat
kuingin melindungimu
tak peduli di manapun kau berada
dan membawamu
semua yang kau tanyakan
tak ada yang sulit bagiku
kubersinar seperti lilin di kegelapan
saat kau katakan padaku bahwa kau mencintaiku

di dunia yang tanpamu
ku'kan selalu merindu
segala yang kuinginkan adalah cintamu 'tuk membuatku lebih tegar

dan kasih
setiap kali kau menyentuhku
kumenjadi kuat
kuingin melindungimu
tak peduli di manapun kau berada
dan membawamu
semua yang kau tanyakan
tak ada yang sulit bagiku
kubersinar seperti lilin di kegelapan
saat kau katakan padaku bahwa kau mencintaiku

kau mencintaiku
saat kau katakan padaku bahwa kau mencintaiku

* diterjemahkan bebas dari lirik lagu When You Tell Me that You Love Me [Diana Rose]
referensi tautan: The Other Side of ...

Sabtu, September 08, 2007

MENYUSUR KABUT


SENJA belum lagi sempurna. Namun mendung yang kian menggelayuti langit puncak, membuat lanskap menjadi gelap. Mentari pun seperti telah enggan bercahaya. Mempercepat malam menghadirkan dirinya.

Di balkon sebuah kamar pada lantai dua sebuah hotel yang berhadapan dengan hamparan perbukitan yang rimbun dengan pepohonan, di atas sebuah kursi rotan yang menyandar ke dinding, Pram masih mengeja kata demi kata di layar PDA-nya, mengeja e-mail dari Elinda yang telah dikirim perempuan itu dua jam yang lalu dari Pontianak namun baru saja Pram buka sekarang. Kesibukannya sejak pagi hari tadi meliput sebuah simposium ekologi internasional tentang krisis pemanasan global yang kian menggejala dewasa ini memang telah banyak menyita waktunya hingga iapun baru sempat membaca e-mail dari Elinda itu sekarang, saat jeda acara.

Berkali-kali sudah Pram membaca e-mail itu. Hingga kata demi kata seperti telah terhafal betul di kepalanya. Namun entahlah, seperti ada sesuatu yang belum juga ia mengerti. Kehadiran Elinda dalam hidupnya, sejak awal dikenalnya dua tahun silam memang tak pernah bisa ia definisikan sebagai apa. Sebagai teman, rasanya Elinda tidak cukup ia anggap hanya sebagai teman. Hubungan yang terjalin begitu akrab dengan perempuan itu, dengan kerinduan yang kerap menggejolak di dadanya saat berada jauh darinya, meski sudah hampir tujuh bulan ini hubungan itu merenggang, terlebih lagi sebulan terakhir di mana komunikasinya seperti putus sama sekali dengan Elinda, hingga akhirnya tiba-tiba saja ia mendapati e-mail Elinda itu di inbox-nya. Sebagai pacar? Ah, rasanya Pram pun belum—atau tepatnya tidak pernah—berani untuk mendefinisikan sejauh itu. Toh di samping Elinda, dalam kehidupannya telah ada Lilis, perempuan lain yang telah dikenalnya jauh sebelum Elinda yang telah dan masih juga ia cintai dan juga begitu mencintainya. Perempuan yang kini bahkan telah resmi menjadi istrinya. Menjadi Nyonya Prambudi Setyono.

Yeah..., Pram menghela nafas dalam-dalam. Ia mencoba melerai kegalauan yang mulai menyeruak di hatinya.

Pandangannnya kini beralih ke angkasa. Sorot matanya nampak menerawang jauh. Menembus dan menyusuri kabut.

* * *

"MAS Pram, nih ada temanku yang mau kenalan!"

"Hallo?! Mas Pram??!"

"Ya?!"

"Aku Elinda. Temannya Nela..."

Itulah perkenalan Pram dengan Elinda yang terjadi saat ia tengah ngobrol di telpon dengan Nela, teman ngefans di sebuah radio di Tegal. Pram memang pernah tinggal di kawasan pesisir pantura Jawa Tengah itu, tepatnya di Brebes, kota tetangga Tegal. Lebih dari setahun Pram tinggal di sana. Saat itu ia masih magang sebagai wartawan sebuah suratkabar nasional yang berkantor pusat di Jakarta sebelum kemudian dipindahkan ke Semarang—yang merupakan juga kota asal dan kelahirannya—dan akhirnya ditarik dan ditempatkan di kantor pusat hingga sekarang. Di sela-sela kesibukannya bertugas itulah, Pram seringkali pula mendengarkan siaran tembang-tembang nostalgia—yang menjadi favoritnya—dari sebuah radio swasta yang kemudian membawanya menjadi salah satu fans bersama Nela, yang kemudian mempertemukannya dengan Elinda.

Dan begitulah, keakrabanpun dengan mudah terjalin di antara mereka, di antara Pram dan Elinda. Terlebih, saat-saat itu ada kesamaan nasib yang mereka miliki. 'Broken heart'!

Ya, saat-saat itu Pram memang sedang menghadapi 'perang dingin' dengan Lilis, perempuan yang telah dipacarinya sejak awal kelas tiga SMA enam tahun sebelumnya. Kekerasan watak dan keegoisan yang sama-sama Pram dan Lilis miliki, yang kerapkali pula menghantam hubungan mereka, telah membuahkan satu konflik hebat hingga Lilis dan Pram sepakat untuk mengakhiri hubungan. Toh, baik Pram maupun Lilis kemudian tak pernah bisa melepaskan begitu saja bayangan yang lain dari ingatan masing-masing. Cinta yang telah begitu terpatri. Meski, bagi Pram, kehadiran Elinda pun sedikit banyak telah meredam kekacauan hatinya. Ingatan terhadap Lilis, sedikit banyak terlewati oleh sejarah barunya bersama Elinda.

* * *

ELINDA saat itu baru pulang dari Batam setelah bertahun-tahun bekerja di kantor sebuah perusahaan elektronik asing. Ia memutuskan keluar dari pekerjaannya dan kembali ke Tegal, karena memang merasa sudah tidak bisa bertahan hidup di sana. Kekecewaan dan sakit hati yang ditorehkan Irza, pacarnya, yang berpaling pada perempuan lain, dan itu adalah Wina, teman sekantor mereka yang membuatnya terpaksa mengambil keputusan itu. Padahal karirnya pun telah cukup lumayan di perusahaan.

Awal Elinda berkenalan dengan Pram, sebenarnya memang hanya iseng nimbrung ngobrol dengan teman Nela itu yang kebetulan saat itu ia sedang bermain ke rumah sahabat karibnya sejak kanak-kanak itu. Toh, bagi Elinda, rasa sakit yang begitu hebat akibat ingatan atas pengalaman pahitnya dengan Irza, telah cukup rapat menutup hatinya untuk kehadiran lelaki lain sebagai pengganti Irza. Namun dari keakraban demi keakraban yang terjalin kemudian dengan Pram, seperti telah menumbuhkan sebentuk benih baru di hatinya. Entah apa. Namun sama seperti Pram, ada rasa rindu dan kehilangan pula yang ia rasakan pada Pram saat ia lama tak berjumpa ataupun bercakap-cakap dengan lelaki itu. Hingga kemudian Elinda mendapatkan pekerjaan baru di Cirebon pada sebuah biro perjalanan dan Pram pun kemudian berpindah-pindah tugas hingga akhirnya ke Jakarta, keakraban itu tetap saja berlanjut, meski kini hanya lewat telpon dan internet. Dan benih itu pun tumbuh menjadi bunga-bunga di hati Elinda yang kian lama kian bermekaran.

* * *

TOH hubungan Pram dan Lilis pun akhirnya kembali membaik. Barangkali karena kedekatan kembali yang kini ada di antara mereka. Lilis pun sekarang tinggal di Jakarta. Ia diterima kerja di sebuah bank swasta asing. Hingga akhirnya mereka sepakat untuk menikah. Sementara itu hubungan Pram dengan Elinda perlahan merenggang, yang pada satu sisi, membuat Elinda harus menanggung kembali kekecewaan. Terlebih saat kemudian Pram mengabari bahwa dirinya telah kembali dengan Lilis dan bahkan telah menikah dengannya. Elinda seperti merasakan kembali sayatan yang begitu keras dan perih di hatinya. Ia memang menyadari sejauh ini hubungannya dengan Pram memang hubungan yang tanpa "status". Tak pernah sekalipun dirinya dan Pram membicarakan tentang cinta ataupun perasaan satu sama lain. Namun memang demikianlah yang ada di hati Elinda. Sebuah rasa kehilangan yang bahkan tidak ia rasakan saat ditinggalkan Irza dulu. Dan begitu menyakitkan.

* * *


Dear Mas Pram,

Mungkin ini e-mail terakhir yang aku tulis untukmu, karena terus terang, setelah ini aku tak tahu harus menulis apa dan harus bersikap bagaimana lagi kepadamu.

Terus terang saat ini aku merasa seperti Sinta yang terkurung di rimba raya Alengka dan merasa bodoh karena harus terbelenggu kesetiaan kepada Rama.

Begitulah, aku memang tak pernah bisa melepaskan perasaanku terhadapmu.

Andai waktu bisa diputar kembali. Setidaknya aku bisa mengutarakan perasanku padamu, sebelum jarak kembali merengkuh kebersamaan kita sekarang ini.

Toh aku pun memang tak berhak menyalahkanmu ataupun Lilis. Lilis memang telah hadir lebih awal daripadaku.

Mas Pram,

Namun boleh, kan aku bertanya padamu? Betulkah selama ini kau tidak mencintaiku pula?

Jujur sajalah, Mas. Toh itu tak akan merubah keadaan. Kau akan tetap bersama Lilis, dan aku tak mungkin merebutmu dari Lilis.

Mas Pram,

Asal kau tahu, kehadiranmu sungguh telah menyembuhkan sayapku yang patah. Meski mungkin tak pernah kausadari. Dan kepergianmu kini, sungguh telah mematahkannya kembali.

Elinda

Ps.

Sekarang aku dipindahtugaskan ke Pontianak. Biarlah. Barangkali sayapku akan dapat pulih kembali di sini. Hingga ia dapat mengembang dan membawaku kembali terbang menyusuri hidup yang penuh kabut.

Semoga perpisahan kita, tidak merapatkan kembali hatiku untuk lelaki.

* * *

TATAPAN Pram masih mengangkasa. Ada kabut pula yang mulai menebal di matanya. Menyusup masuk ke hatinya.

Ya, andai waktu bisa diputar kembali, gumam Pram lirih dalam hati.

Pram kembali menghela nafasnya dalam-dalam. Menghalau kegetiran yang semakin menjalari hatinya.

Akhirnya, iapun beranjak masuk ke dalam. Membiarkan pintu kamarnya tetap terbuka. Membiarkan kabut terus dan kian masuk menyelimuti hatinya.

Buitenzorg, Desember 2005
buat Irma:
thanks for the all!

Kamis, Juli 26, 2007

MASA LALU ...


KADANG
, saat membuka kembali lembaran-lembaran "masa lalu", atau menyusuri kembali jalan-jalan, menyinggahi kembali tempat-tempat, ataupun menikmati kembali hal-hal yang dulu pernah terakrabi, serasa ada yang menyeri di dada. Entah apa. Serasa ada yang menggumpal pula dalam lubuk mata. Semacam kerinduan dan ... rasa kehilangan.

Yah.. gedung-gedung sekolah, tanah-tanah lapang dan jalan-jalan setapak tempat dulu bermain-main dan berlari-lari saat kanak-kanak (yang sebagiannya kini telah hilang), film-film kartun, diary, foto-foto, ...

Kadang, mengingat kembali semua kenangan yang pernah dijalani, ada keinginan pula untuk mengulangnya kembali: meleburkan kembali diri pada peristiwa-peristiwa itu ... Terlebih di saat-saat kepenatan dan keletihan hidup yang kadang tiba-tiba menyergap tanpa peduli sekarang ini.

Ah, betapa nikmatnya barangkali dapat menikmati semua itu kembali. Menikmati hidup dengan kenakalan-kenakalan kecil yang polos. Dengan peristiwa-peristiwa baru yang tak pernah menawarkan kebosanan. Dengan rutinitas yang selalu terindukan dan terimpikan pada malam hari.

Yah.. tapi waktu pun memang adalah sebuah garis bujur ke depan yang, meski kadang tidak lurus namun tak pernah mempunyai lengkungan ke belakang. Emosi dan perasaan selalu tumbuh seperti cemara yang kadang gugur dan bersemi namun tak pernah bisa kembali menjelma sebagai tunas ataupun mengecil kembali.

Dan kenangan-kenangan itu, masa lalu itu, memang barangkali adalah hal yang sepatutnya cukup dimiliki, sekarang, sebagai pelepas lelah dan kepenatan hati. Kembali ke masa lalu adalah kembali menjalani hidup sekarang, hidup saat ini. Karena peristiwa-peristiwa sekarang, kelak akan menjadi masa lalu pula.

Biarlah "masa lalu" kita nikmati terus kesinambungannya dalam kebugaran semangatnya, dalam kesukacitaan emosinya. Hingga kelak, seluruh "masa lalu" kita, kan dapat terwariskan pada anak-anak dan cucu-cucu kita, sebagai dongeng dan cerita yang bisa mewariskan pula semangat yang sama pada mereka saat menyimaknya, seperti yang kita alami saat merangkainya, penuh sukacita!

Rabu, Juli 25, 2007

PERNYATAAN SIKAP SASTRAWAN ODE KAMPUNG (2)

Serang, Banten, 20-22 Juli 2007:

Kondisi Sastra Indonesia saat ini memperlihatkan gejala berlangsungnya dominasi sebuah komunitas dan azas yang dianutnya terhadap komunitas-komunitas sastra lainnya. Dominasi itu bahkan tampil dalam bentuknya yang paling arogan, yaitu merasa berhak merumuskan dan memetakan perkembangan sastra menurut standar estetika dan ideologi yang dianutnya. Kondisi ini jelas meresahkan komunitas-komunitas sastra yang ada di Indonesia karena kontraproduktif dan destruktif bagi perkembangan sastra Indonesia yang sehat, setara, dan bermartabat.

Dalam menyikapi kondisi ini, kami sastrawan dan penggiat komunitas-komunitas sastra memaklumatkan Pernyataan Sikap sebagai berikut:

1. Menolak arogansi dan dominasi sebuah komunitas atas komunitas lainnya.
2. Menolak eksploitasi seksual sebagai standar estetika.
3. Menolak bantuan asing yang memperalat keindonesiaan kebudayaan kita.

Bagi kami sastra adalah ekspresi seni yang merefleksikan keindonesiaan kebudayaan kita di mana moralitas merupakan salah satu pilar utamanya. Terkait dengan itu sudah tentu sastrawan memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat (pembaca). Oleh karena itu kami menentang sikap ketidakpedulian pemerintah terhadap musibah-musibah yang disebabkan baik oleh perusahaan, individu, maupun kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat, misalnya tragedi lumpur gas Lapindo di Sidoarjo. Kami juga mengecam keras sastrawan yang nyata-nyata tidak mempedulikan musibah-musibah tersebut, bahkan berafiliasi dengan pengusaha yang mengakibatkan musibah tersebut.

Demikianlah Pernyataan Sikap ini kami buat sebagai pendirian kami terhadap kondisi sastra Indonesia saat ini, sekaligus solidaritas terhadap korban-korban musibah kejahatan kapitalisme di seluruh Indonesia.

Kami yang menyuarakan dan mendukung pernyataan ini:
01. Wowok Hesti Prabowo (Tangerang) 02. Saut Situmorang (Yogyakarta) 03. Kusprihyanto Namma (Ngawi) 04. Wan Anwar (Serang) 05. Hasan Bisri BFC (Bekasi) 06. Ahmadun Y. Herfanda (Jakarta) 07. Helvy Tiana Rosa (Jakarta) 08. Viddy AD Daeri (Lamongan) 09. Yanusa Nugroho (Ciputat) 10. Raudal Tanjung Banua (Yogya) 11. Gola Gong (Serang) 12. Maman S. Mahayana (Jakarta) 13. Diah Hadaning (Bogor) 14. Jumari Hs (Kudus) 15. Chavcay Saefullah (Lebak) 16. Toto St. Radik (Serang) 17. Ruby Ach. Baedhawy (Serang) 18. Firman Venayaksa (Serang) 19. Slamet Raharjo Rais (Jakarta) 20. Arie MP.Tamba (Jakarta) 21. Ahmad Nurullah (Jakarta) 22. Bonnie Triyana (Jakarta) 23. Dwi Fitria (Jakarta) 24. Doddi Ahmad Fauzi (Jakarta) 25. Mat Don (Bandung) 26. Ahmad Supena (Pandeglang) 27. Mahdi Duri (Tangerang) 28. Bonari Nabonenar (Malang) 29. Asma Nadia (Depok) 30. Nur Wahida Idris (Yogyakarta) 31. Y. Thendra BP (Yogyakarta) 32. Damhuri Muhammad 33. Katrin Bandell (Yogya) 34. Din Sadja (Banda Aceh) 35. Fahmi Faqih (Surabaya) 36. Idris Pasaribu (Medan) 37. Indriyan Koto (Medan) 38. Muda Wijaya (Bali) 39. Pranita Dewi (Bali) 40. Sindu Putra (Lombok) 41. Suharyoto Sastrosuwignyo (Riau) 42. Asep Semboja (Depok) 43. M. Arman AZ (Lampung) 44. Bilven Ultimus (Bandung) 45. Pramita Gayatri (Serang) 46. Ayuni Hasna (Bandung) 47. Sri Alhidayati (Bandung) 48. Suci Zwastydikaningtyas (Bandung) 49. Riksariote M. Padl (bandung) 50. Solmah (Bekasi) 51. Herti (Bekasi) 52. Hayyu (Bekasi) 53. Endah Hamasah (Thullabi) 54. Nabila (DKI) 55. Manik Susanti 56. Nurfahmi Taufik el-Sha’b 57. Benny Rhamdani (Bandung) 58. Selvy (Bandung) 59. Azura Dayana (Palembang) 60. Dani Ardiansyah (Bogor) 61. Uryati zulkifli (DKI) 62. Ervan ( DKI) 63. Andi Tenri Dala (DKI) 64. Azimah Rahayu (DKI) 65. Habiburrahman el-Shirazy 66. Elili al-Maliky 67. Wahyu Heriyadi 68. Lusiana Monohevita 69. Asma Sembiring (Bogor) 70. Yeli Sarvina (Bogor) 71. Dwi Ferriyati (Bekasi) 72. Hayyu Alynda (Bekasi) 73. herti Windya (Bekasi) 74. Nadiah Abidin (Bekasi) 75. Ima Akip (Bekasi) 76. Lina M (Ciputat) 77. Murni (Ciputat) 78. Giyanto Subagio (Jakarta) 79. Santo (Cilegon) 80. Meiliana (DKI) 81. Ambhita Dhyaningrum (Solo) 82. Lia Oktavia (DKI) 83. Endah (Bandung) 84. Ahmad Lamuna (DKI) 85. Billy Antoro (DKI) 86. Wildan Nugraha (DKI) 87. M. Rhadyal Wilson (Bukitingi) 88. Asril Novian Alifi (Surabaya) 89. Jairi Irawan ( Surabaya) 90. ... 91. Langlang Randhawa (Serang) 92. Muhzen Den (Serang) 93. Renhard Renn (Serang) 94. Fikar W. Eda (Aceh) 95. Acep Iwan Saidi (Bandung) 96. Usman Didi Khamdani (Brebes) 97. Diah S. (Tegal) 98. Cunong Suraja (Bogor) 99. Muhamad Husen (Jambi) 100. Leonowen (Jakarta) 101. Rahmat Ali (Jakarta) 102. Makanudin RS (Bekasi) 103. Ali Ibnu Anwar ( Jawa Timur) 104. Syarif Hidayatullah (Depok) 105. Moh Hamzah Arsa (Madura) 106. Mita Indrawati (Padang) 107. Suci Zwastydikaningtyas (Bandung) 108. Sri al-Hidayati (Bandung) 109. Nabilah (DKI) 110. Siti Sarah (DKI) 111. Rina Yulian (DKI) 112. Lilyani Taurisia WM (DKI) 113. Rina Prihatin (DKI) 114. Dwi Hariyanto (Serang) 115. Rachmat Nugraha (Jakarta) 116. Ressa Novita (Jakarta) 117. Sokat (DKI) 118. Koko Nata Kusuma (DKI) 119. Ali Muakhir (bandung) 120. M. Ifan Hidayatullah (Bandung) 121. Denny Prabowo (Depok) 122. Ratono Fadillah (Depok) 123. Sulistami Prihandini (Depok) 124. Nurhadiansyah (Depok) 125. Trimanto (Depok) 126. Birulaut (DKI) 127. Rahmadiyanti (DKI) 128. Riki Cahya (Jabar) 129. Aswi (Bandung) 130. Lian Kagura (Bandung) 131. Duddy Fachruddin (Bandung) 132. Alang Nemo (Bandung) 133. Epri Tsaqib Adew Habtsa (Bandung) 134. Tena Avragnai (Bandung) 135. Gatot Aryo (Bogor) 136. Andika (Jambi) 137. Widzar al-Ghiffary (Bandung) 138. Azizi Irawan Dwi Poetra (Serang)

Senin, Juli 16, 2007

DONGENG ISTANA KACA


EVA sungguh menyesalkan sikap dan keputusan Redo yang tiba-tiba memutuskan hubungan dengan dirinya. Padahal, sebelumnya, tidak ada satu hal pun yang melanda mereka. Hubungan mereka baik-baik saja adanya.


Ia pun mencari-cari alasan apa sebenarnya yang membuat lelaki yang selama ini nampak tegar itu tiba-tiba lemah dan menyerah. Dan ia pun lebih menyesalkan Redo, saat ia tahu ternyata keputusan itu tidak lebih hanya karena tumor yang diderita kekasihnya itu—yang bahkan tidak pernah ia ketahui karena selalu disembunyikan Redo sampai akhirnya penyakit itu kambuh lagi dan mengantar Redo ke rumah sakit sekarang.


Eva menyesalkan pemikiran Redo tentang cinta yang dianggapnya hanya gula-gula.


“Kamu keliru. Kamu pikir, aku mencintaimu hanya untuk bersenang-senang?” Eva menatap tajam kekasihnya yang terbaring lesu di kasur putih.


“Tidak! Itu salah!


“Cinta bukan hanya hanya cerita soal keindahan, kesenangan. Tapi cinta juga adalah cerita tentang keletihan hidup, keperihan hidup, beban hidup …


“Seperti saat kau beri aku dongeng tentang istana kaca yang indah, maka sekarang, saat kau hanya bisa memberiku cerita sedih hidupmu, aku pun akan setia menyimaknya. Tetap setia di sisimu, menemanimu, mencintaimu, sampai kau sembuh kembali dan, kau pun bisa mengulang kembali cerita tentang istana kaca itu.”


“Tapi aku tidak bisa lagi memberimu kebahagiaan? Toh aku kini hanya seorang yang lemah yang bahkan tidak punya keberdayaan hanya untuk menghadapi satu masalahku sendiri!”


“Kebahagiaan? Kamu pikir apa itu kebahagiaan?


“Justeru dengan aku tidak bisa menemanimu di saat-saat kamu sedang sakit dan tidak berdaya seperti sekarang ini, aku sungguh merasa amat tidak bahagia.”


Ya. Bagi Eva, kebahagiaan memang bukan hanya karena merasakan manisnya cinta, tapi kebahagiaan juga adalah saat ia bisa memberi sesuatu yang berarti pada seseorang yang ia cintai, pada kekasihnya itu. Dapat menjadi teman saat ia butuh dan sendirian. Seperti sekarang. Dan cinta baginya memang bukan hanya dongeng istana kaca. Tapi cinta juga adalah cerita tentang susahnya hidup, soal sakit dan juga ketidakbedayaan. Dan justeru dengan cinta, cerita tentang susahnya hidup, tentang sakit dan segala beban, jadi seperti cerita tentang kemewahan yang gemerlap dan tanpa beban di istana kaca.



WARNA-WARNI CINTA*


LIMA
hari sudah Rendi terbaring koma di rumah sakit. Dan, tidak ada tanda-tanda ia akan siuman ataupun pulih kembali. Tubuhnya begitu lemah. Nafasnya begitu lelah.


Ya, Rendi tidak punya kekuatan lagi. Tidak punya semangat lagi untuk meneruskan hidupnya. Ia tidak punya harapan lagi untuk hidup. Satu-satunya harapan yang ia punya, ternyata pun adalah cuma sebuah harapan semu: Arin.


Ya, sekian waktu ia cintai perempuan itu. Sekian waktu dengan penuh harapan, semangat. Arin adalah cintanya. Semangat hidupnya. Baginya, tidak ada yang lebih berarti dalam hidup selain dapat terus bersama-sama dengan Arin. Ia tidak bisa membayangkan jika perempuan itu ternyata tidak bisa membalas cintanya. Baginya, Arin adalah segala-galanya.


Dan, benar. Saat kemudian ia mengungkapkan isi hatinya pada Arin, ia pun tak dapat menerima kenyataan ketika kemudian Arin benar-benar menolaknya.


Ia pun patah arang. Kecewa. Marah. Meski tak tahu pada siapa mesti marah. Pada Arin? Ah, ia tidak punya kekuatan untuk menyakiti perempuan itu. Meski, apa yang dilakukan perempuan itu, sungguh telah menyakiti hatinya.


Hari-hari pun kemudian ia lalui dengan hampa. Tanpa asa. Kosong. Tanpa tujuan. Penolakan Arin baginya adalah akhir dari segalanya. Hingga, saat kemudian sebuah kecelakaan mengantar dirinya ke rumah sakit, ke titik koma hidupnya, ia pun tidak menyesal jika lantas mesti mati. Baginya, keberakhiran cintanya pada Arin sama saja dengan keberakhiran hidup.


Namun, lain Rendi dalam menyikapi cinta, lain pula Arin. Bagi Arin, cinta itu ibarat pakaian. Jika memang tidak pas dikenakan, kenapa pula mesti dipaksakan? Dan seperti pakaian, cinta, kalaupun cocok baginya tapi suatu kali menjadi terasa tidak nyaman, tidak pas lagi baginya, saatnya pula mesti dilepaskan.


Dan bagi Arin, Rendi adalah pakaian yang tidak sesuai baginya.


Hingga, saat kemudian ia tahu Rendi di rumah sakit dan tengah koma karena dirinya, ia pun tidak sedih. Tidak menyesal. Toh, ia setia menemani dan menunggui lelaki itu siuman. Ia berharap, saat siuman, Rendi bisa lebih memahami dan menerima kenyataan.


Namun, siapa berhak menyalahkan mereka? Siapa berhak menyalahkan Rendi jika ia tidak bisa melepaskan diri dari belenggu cinta Arin? Siapa berhak menyalahkan Arin jika ia anggap Rendi sekedar seseorang yang kebetulan lewat dan berpapasan dengan dirinya di sebuah jalan simpang kehidupan yang kemudian ia tinggalkan kembali, ia lupakan kembali, karena ia rasa arah mereka saling berseberangan dan tidak ada yang mesti terpaksa diubah.


Cinta memang sebenarnya tak mempunyai warna. Merah, kuning, hijau, atau biru, atau kelabu, atau bahkan hitam, itu hanya bias yang kita rasakan karena perbedaan cara dalam memandang dan menerjemahkannya.


Dan Rendi, Arin, juga kita semua, berhak untuk memilih warna cinta masing-masing. Yang tidak harus sama dengan yang lain.


* diterbitkan di koran tren edisi 74/2004

Sabtu, Juli 07, 2007

DUNIA DENGAN PENUH CINTA ...



DUNIA dengan penuh cinta adalah dunia dengan penuh kebahagiaan. Kehidupan hadir sebagai sesuatu yang indah dan menyenangkan. Segala sesuatu ada dan berjalan seolah tanpa beban dan cela. Detik-detik waktu yang bergulir seolah adalah untaian mutiara yang sangat berharga untuk dilepaskan. Semua orang seakan enggan untuk mengakhiri hidupnya.


Orang-orang saling mengasihi. Anak-anak sama berbakti pada orangtuanya dan para orangtua pun menyayangi anak-anaknya. Para ibu selalu mengasuh anak-anaknya dengan tulus. Selalu mendengarkan keluh kesah mereka dengan riang. Menjadi teman saat mereka kesepian. Menjadi perawat yang selalu siaga. Menjadi guru yang senantiasa mengajari tentang dasar-dasar kehidupan: cinta kasih pada semua. Hingga mereka dewasa. Hingga mereka membina rumah tangganya sendiri. Bahkan hingga mereka mempunyai anak-anak pula. Para ibu tak pernah lelah berbagi. Tak pernah berhenti mencurahkan kasih sayangnya. Juga pada sang suami, sang ayah dari anak-anaknya tercinta. Selalu menemani sang Arjuna, dalam duka maupun suka.


Para ayah pun, tak pernah menutup pintu hatinya, bagi anak-anak dan istri tercinta. Membiarkannya selalu terbuka, sebagai rumah dan tempat berlindung dari segala bahaya dan rasa tidak aman.


Dunia dengan penuh cinta. Dunia di mana setiap orang yang berpapasan di jalan, saling menyunggingkan seyuman. Tak ada tatap curiga apalagi permusuhan.


Semua berjalan begitu damai. Begitu teratur. Begitu melodis. Ritmis. Indah. Seperti aliran air sungai di pegunungan. Seperti alunan musik orkestra yang memainkan simfoni-simfoni.


Dunia dengan penuh cinta. Dunia harapan kita semua. Dunia milik kita bersama.


PETA CINTA


DUNIA dengan penuh cinta, memang adalah dunia harapan kita semua. Dunia impian kita bersama. Namun, sejatinya, kehadiran ataupun ketiadaan, dapat dirasakan ataupun tidaknya cinta, tergantung pada diri & perasaan masing-masing kita, masing-masing orang dalam menyikapinya. Ada orang-orang yang bisa menyadari serta menerima kehadiran cinta itu sebagai satu anugerah. Hingga mereka pun dengan sukarela, atas nama cinta, mau membangun kehidupan ini dengan penuh kasih sayang, ketentraman, kedamaian. Saling menghormati. Saling menghargai. Tak ada caci maki pada mulut mereka. Tak ada tatap curiga dan permusuhan pada mata mereka. Tak ada iri dengki. Dalam kemajemukannya, mereka saling menerima. Saling mengisi dan melengkapi. Hingga dunia pun tercipta sebagai satu wilayah yang, sering kita sebut sebagai wilayah surga dunia, yang senantiasa menghadirkan kisah-kisah indah.


Ada pula orang-orang yang sejatinya memiliki cinta, namun tidak seperti orang-orang yang pertama, mereka tidak menyadari akan keberadaan cinta. Hingga mereka seringkali pangling dengan cinta. Mereka adalah orang-orang yang seringkali melangkah dengan tergesa-gesa dan ragu-ragu. Berbicara dengan diulang-ulang. Seringkali duduk menyendiri di pojok kamarnya yang gelap—padahal beberapa waktu sebelumnya mereka asyik riang tertawa-tawa di luar. Mereka mudah kita kenali. Matanya cekung. Sinar matanya redup. Mereka berjingkat-jingkat—seperti takut meninggalkan jejak—saat masuk ke rumah orang lain. Pandangannya selalu mengadu. Mereka adalah orang-orang yang tidur larut malam dan akan terbangun pagi-pagi sekali. Mereka selalu mengenakan pakaian yang paling bagus yang mereka miliki. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa memerlukan teman dalam perjalanan pulangnya, sebab mereka seringkali lupa dengan rumah mereka sendiri. Mereka seringkali bingung kemana harus pulang.


Ada pula orang-orang yang tak lagi memiliki cinta. Mereka telah kehilangan cinta ataupun memutuskan untuk tidak memiliki cinta dalam hidupnya. Jika kita bertemu dengan mereka, kita pun akan mudah mengenali mereka. Mata mereka selalu menyala—namun pandangannya kosong. Mulut mereka selalu berbusa. Mereka selalu mengenakan pakaian yang sama atau jika berganti-ganti, maka dalam sehari, mereka bisa berganti berpuluh kali. Langkah kakinya berat dan berdebu. Mereka selalu melolong saat purnama tiba—persis seperti srigala. Mereka lebih suka tidur di kolong—padahal ranjang mereka empuk-empuk. Mereka adalah orang-orang yang sakit. Mereka adalah orang-orang yang sangat perlu dikasihani. Sangat perlu!


Selasa, Juli 03, 2007

PADAMU CINTA

tiba-tiba aku merasa rindu padamu
padahal tiga puluh menit yang lalu
baru saja kukecup keningmu

tiba-tiba aku merasa sangat kehilanganmu
padahal bertahun-tahun telah kita
lalui hari-hari dalam kebersamaan

tiba-tiba aku merasa sangat asing padamu
padahal cinta yang telah kita semai
telah tumbuh sebagai bocah

ah, betapa cinta kian tak kumengerti
di saat aku kian mencoba tuk
berdamai dengannya

apakah hanya kepura-puraan dan
kepalsuan yang telah kita jalani
sebab masih saja ada luka-luka
di sana-sini?

aku ingin bisa memelukmu erat
tanpa harus membisikkan 'I love you'
aku ingin bisa pergi dengan tenang
tanpa harus menanggung kerinduan
yang menikam dan terus merasuk di dadadu

aku ingin bisa menggenggam cinta
seperti aku menggenggam sapu tangan putih
yang bisa kuberikan sewaktu-waktu padamu
tuk menghapus airmata yang tiba-tiba
membasahi pipimu
sungguh aku ingin bisa mengucap 'I love you'
padamu
tanpa harus terburu-buru mengejar bis kota
yang tak menentu ...

Ruas tol Cawang, 280507 12:11


EPISODE JINGGA (2)

mungkin bila angin
mengejakan kembali ceritanya
tentang muasal cinta
seperti langit senantiasa mengejakan
cerita
tentang muasal bulan dan matahari
kita akan lebih mengerti
tentang elegi dan rapsodi
seperti kita mengerti
tentang malam dan siang
hingga tapak-tapak langkah kita
tak pernah gamang menjejeak
pada enklave senyap sekalipun
tapi cinta memang bukan
bulan dan matahari
cinta bukanlah sejarah
yang mempunyai ruang
untuk mengulang muasalnya
maka kitapun
harus
mengubur dalam-dalam
kesangsian ini
menguatkan terus
langkah kita
sebab cinta pun
kan senantiasa
mengulang terus
elegi dan rapsodi
yang sama
percayalah!

Buitenzorg, 2005


Selasa, Juni 12, 2007

Memperingati Hari Antimadat Sedunia (26 Juni)

SAAT HIDUP BEGITU BERAT DAN MENYAKITKAN
NARKOBA BUKANLAH OBAT DAN PENYELESAIAN

IDEALNYA, hidup adalah sesuatu yang indah. Hidup, kita jalani dengan penuh keindahan. Tanpa beban. Penuh kemudahan. Apa yang kita inginkan dalam hidup ini dapat kita raih, dapat kita capai dengan penuh kemudahan.

Kehidupan rumah yang harmonis. Lingkungan yang ramah dan bersahabat. Studi yang lancar. Kerja yang nyaman.

Namun hidup, seringkali, memang tak seindah yang dibayangkan. Kenyataan hidup, lebih serring bertentangan dengan yang kita idamkan. Hidup sebagai sesuatu yang berat. Hidup sebagai hal yang menyakitkan.

Kacaunya kehidupan rumah. gagalnya hubungan dengan lingkungan. Gagalnya studi. Beragamnya persoalan kerja.

Cita-cita hidup yang gagal mendapatkan pencapaiannya, yang pada kondisinya, memang begitu menekan kita, memberatkan kita. Membuat kita lelah dan sakit.

Kita pun kemudian mencoba mencari penyelesaiannya. Mencoba mengangkat beban itu.

Kesana-kemari kita berlari-lari mencari jawaban. Mencari pertolongan. Mencari obat, penawar atas kesakitan hidup yang kita rasakan.

Namun, tak jarang kita pun seringkali tersasar, keblinger, salah mencari penyelesaian.

Salah satunya, pada narkoba.

Ya, narkoba!

Narkoba, yang dengan begitu meyakinkan, menawarkan pertolongan. Menawarkan penyelesaian atas kesulitan hidup kita, mengangkat beban berat hidup kita.

Dan, memang, kita pun mendapatkannya, mendapatkan pertolongan itu. beban hidup yang begitu menghimpit, dengan kehadiran narkoba, serasa terangkat dan terlepas dari diri kita. Kesakitan hidup yang begitu nyeri merajam, serasa hilang dengan datangnya narkoba.

Narkoba, ibarat pahlawan bagi kita atas kesulitan hidup yang kita rasakan.

Toh sebenarnya, itu hanyalah utopia. Hanya euforia utopis. Hanya fatamorgana belaka. Karena pada saatnya kelak, justeru narkobalah yang akan merampas hidup kita.

Narkoba bukanlah penyelesaian yang bisa membuat hidup lebih hidup. Narkoba hanyalah "setan" yang membuat berat beban hidup kian berlipat. Membuat persoalan hidup semakin rumit. Menjadikan kita budak atas penderitaan jiwa dan raga.

Sudah banyak bukti kita saksikan. Tak kurang berita di media massa: radio, suratkabar, televisi ataupun internet yang mengungkap sekian juta orang yang akhirnya hanya tambah merana gara-gara narkoba. Bahkan tidak sedikit di antaranya yang akhirnya mesti kehilangan nyawa. (Sekedar gambaran, berdasarkan data dari BNN, sekitar 1,5 persen dari seluruh populasi penduduk Indonesia, atau sekitar 3,2 sampai 3,6 juta orang Indonesia merupakan pemakai narkoba yang mana sekitar 15 ribu orang setiap tahunnya akhirnya meregang nyawa gara-gara narkoba. ironisnya, 78 persen korban tewas tersebut merupakan anak muda berusia antara 19-21 tahun.)

Akankah kita mengulangnya?

Akankah kita membiarkan kebodohan itu, kekonyolan itu terulang pada diri kita?

Seyogyanya kita sadari dan perhitungkan benar-benar segala keputusan kita, segala tindakan kita. Sesungguhnya Tuhan takkanlah memberikan beban, memberikan kesulitan pada kita di luar kemampuan kita. Saat Dia memberikan beban pada kita, saat itu pula Dia siapkan, Dia berikan penyelesaiannya. Inna ma'al-'usri yusran; sesungguhnya bersama kesulitan itu disertakan kemudahan. Demikian janji-Nya dalam salah satu firman-Nya.

Dan, kerja keras tanpa mengenal putus asa, disertai keimanan dan kepasrahan diri sepenuhnya atas kuasa-Nya, itulah sebenar-benar penyelesaian. Bukannya melarikan diri dari persoalan, dan menyerahkan diri pada "setan". Pada narkoba.

Ingatlah, narkoba bukan teman. Bukan obat. Bukan penyelesaian.

Ia nyata mengancam kita di balik "senyum"-nya yang menawan.

Senyum narkoba adalah senyum setan. Senyum kesengsaraan hidup kita.

Salam!


ADAKAH KAU TAHU, ANAKKU?

--in memoriam: Laleh - Laden

adakah dunia ini bulat, anakku?
ataukah ia sebuah tabung kosong?
tidak adakah orang-orang sae lakon panggung kita?
kenapa harus Anoman yang elek yang membumihanguskan Alengka
bukannya Rama yang gumagus itu?
kenapa Karna yang menjadi tokoh Kurusetra
padahal ia hanyalah seorang anak buangan?
kenapa harus Einstein yang amburadul itu
yang menuntaskan omong-kosong sains?
kenapa harus Edison?
kenapa harus Muhammad yang ummi itu?
kenapa, anakku?
kenapa harus Sumanto, Amrozi, ...?
adakah Tuhan membisikkan nawaitu-nya membangun dunia ini
kepadamu, ngger; nduk?
lalu kenapa harus ada rasionalitas di meja makan kita
jika pisau-pisaunya tak mampu memisahkan Laleh - Laden?
tak mampu membedah dan membelah kegelisahan mereka yang
berlaksa-laksa tahun
menjadi mimpi buruk yang
menggelisahkan tidur mereka?
anakku,
adakah kau tahu?

210703/250903


Sabtu, Juni 02, 2007

MENGATASI DEPRESI KARENA SAKIT HATI

SAKIT HATI, baik karena diputus pacar, difitnah orang ataupun gagal melakukan suatu kerjaan, suatu usaha, memang satu hal yang sangat menjengkelkan.

Sering membuat kacau urusan bahkan juga membuat kita depresi dan patah semangat. Bahkan Megi Z. pun sempat 'berkomentar', "... lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ..." (padahal sakit gigi sendiri sudah begitu menjengkelkannya?!)

Tapi bagaimanapun, yang namanya sakit, penyakit, pasti ada obatnya. Kullu daa-in dawaa-un. Termasuk untuk sakit hati itu.

Dan bicara soal obat sakit hati, ada 'resep' yang kiranya bisa kita coba manfaatkan.

Hadapi dengan Lapang Dada

Melupakan hal-hal yang membuat kita depresi, membuat kita sakit hati, secara teoritis, memang ada benarnya. Tapi, meski lupa itu juga sifat manusia, toh kadang 'melupakan' justeru membuat sakit hati tambah nyeri. Karena biasanya, makin dilupakan, makin lengket saja kenangan menempel di ingatan.

So?

Ya, nikmati saja! Dalam arti, tidak usah kita ngotot harus melupakan, harus menyingkirkan masa lalu. Toh, ia pun bagian dari keberadaan kita hari ini dan esok hari. Tanpa masa lalu, tidak ada cerita kita hari ini dan esok hari. Dan bila perlu, kita buatkan file-nya, kita 'diary'-kan. Dengan catatan, kita melakukannya dengan lapang dada, dengan pikiran jernih.

Coba Pahami dan Mengerti

Kita buatkan dokumennya, setidaknya, untuk bahan introspeksi. Sebagai parameter untuk kita melangkah lebih jauh. Segala kegagalan, keruwetan, kekacauan, kita 'garisbawahi'. Kita pahami dan lalu coba kita mengerti, mengapa dan bagimana itu terjadi. Untuk selanjutnya, kita ambil hikmahnya, agar tidak terulang di kemudian hari. dan yang terpenting, kita dapat menyadari, jika segala sesuatu itu punya arti, meski tidak kita mengerti. Hal kegagalan sekalipun. Mungkin dengan kegagalan, akan menjadikan kita lebih baik sekarang dan untuk masa yang akan datang.


Percayalah, Tuhan tidak akan membebani hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak sanggup dipikulnya.

Bicarakan dengan Teman

Tidak bisa? Masih tetap ruwet? Ya, mungkin kita butuh orang lain utuk 'curhat'. Orangtua, kakak, saudara, teman atau siapa saja yang bisa diajak 'bicara' tentang apa yang sedang kita alami, yang membuat kita 'break'. Tidak usah risih atau malu-malu. Toh kita, manusia, adalah zoon politicon, yang diciptakan untuk hidup mesti bersama-sama dengan yang lain. Ya, barangkali saja dengan kita 'curhat' ke orang lain, persoalan bisa terselesaikan. Atau setidaknya, ada sedikit beban yang bisa terangkat. Ada yang menemani kesuntukan kita. Bukan berarti menyusahkan orang lain sih. Tapi, hidup untuk saling mengisi dan melengkapi, bukan? Untuk saling berbagi rasa?!

Pasrah dengan Yang di Atas

Belum berhasil juga? Mungkin memang ada yang 'error' dengan kita. So, jika sudah begitu, kiranya kita perlu pendekatan lagi dengan Yang di Atas. Toh Dia yang menciptakan segala keadaan kita, yang menentukan segala nasib kita. Mungkin selama ini kita sudah 'menjauhi'-Nya. Dan, dengan 'kesusahan' yang kita alami, Tuhan ingin menegur kita untuk 'kembali'. Saat segala usaha tidak bisa lagi memberi jawaban untuk semua soal, doa adalah satu-satunya hal yang masih dapat diharapkan. Tentu, kita melakukannya dengan sepenuh kepasrahan hati, tidak ada rasa curiga kalau Tuhan akan tidak menerima. Tuhan itu bagaimana kita memandang, bagaimana kita menilai-Nya. Jika kita memandang-nya baik, Tuhan 'pasti' baik. Jika kita menilai-Nya tidak baik, ya ... akanlah kesusahan selamanya kita alami. Toh Tuhan sendiri yang menjanjikan, "Ud-'unii astajib lakum" (berdoalah, mintalah pada-Ku, niscaya Aku kabulkan!)

Oke, semoga sakit hati kita, segala kesusahan kita, tidak terus berkelanjutan.

Salam!


Kamis, Mei 31, 2007

P E R G I


dan seperti air
biarkan cinta mengalir
mengembara
bebas
mencari muaranya

KEMBALI, perempuan itu menghela nafasnya. Begitu dalam dan berat. Mencoba menyingkirkan gundah yang meresah, yang mengganjal di hatinya, menyekat segala vitalitasnya. Namun, kembali, iapun tak kuasa. Semakin ia mencoba, semakin kuat gundah itu meresah, semakin kuat gundah itu mengganjal. Hanya keperihanlah yang akhirnya, kembali, menghujami hatinya, menyayat–nyayat perasaannya.

Ya, haruskah aku pergi? Masih ada artinyakah aku menemui Yuda?

Perempuan itu beranjak dari duduknya di tepian ranjang, menuju jendela kamarnya yang masih terbuka. Ditebarkannya pandangan ke hamparan langit yang meluas sepi. Tanpa bintang. Tanpa bulan. Hanya terwarnai kegelapan. Kegelapan yang begitu pekat. Seperti kehidupannya yang dirasanya tanpa sinar. Hampa tanpa asa. Hanya keragu-raguan dan kegamangan yang selalu menyelimuti. Entah sampai kapan.

Sekian lama ia pandangi lanskap kelam itu. Mengembarai sudut demi sudut.

Sekali lagi, perempuan itu menghela nafasnya, sebelum akhirnya, meninggalkan jendela.

* * *

“MAAFKAN aku, Yud. Tapi memang itulah kenyataannya. Sungguh aku tak bisa merindukanmu lagi, Yud.” Akhirnya kalimat itu terucap juga dari mulutnya, dari mulut perempuan itu. Elma. Setelah sekian lama hanya menggantung-gantung di benaknya. Menjadi beban segala langkah kehidupannya. Ada kelegaan namun juga rasa bersalah yang mendalam yang terlintas dari matanya yang kini lekat menatap Yuda, lelaki di depannya yang telah sekian lama bersamanya menyusuri jalanan kehidupan yang panjang, terjal dan penuh liku. Lelaki yang pernah menjadi bagian dari sejarah hidupnya, memberinya warna dan arti yang tidak sedikit.

Namun Yuda masih diam. Lelaki itu masih juga tidak berkata-kata. Ia masih terpaku di depan lukisan yang tergantung di dinding beranda depan rumahnya. Lukisan sepasang merpati yang terbang melintas di bawah awan pada lanskap langit merah. Lukisan yang diterimanya dua tahun silam. Lukisan yang terkirim bersama sebuah puisi yang ditulis perempuan yang datang dari tempatnya yang jauh kini di Eropa itu pada sebuah surat putih, untuknya:



dan seperti air
biarkan cinta mengalir
mengembara
bebas
mencari muaranya

Sekian lama ia terpaku memandangi lukisan itu, menelusuri garis demi garis di sana. Begitu lekat, seperti mengeja sesuatu.

Sesaat, iapun membalikkan tubuhnya menatap Elma yang terduduk. Namun ia masih juga diam.

“Aku tahu kau begitu terluka. Toh aku pun merasakan keperihan yang sama.

“Jangan katakan aku tak pernah tulus mencintaimu. Bahkan bertahun-tahun, sejak kita belajar tentang kehidupan di sekolah hingga kita benar-benar menjalani kehidupan itu, kaulah lelaki yang selalu mengisi mimpi-mimpiku, menjadi teman, tema dan inspirasi. Meski pada akhirnya, rasa itu pun memendar…

I don`t know why. Tapi, …. Itulah kenyataannya.

“Namun aku pun tak pernah bermaksud menghianatimu. Menafikan cintamu. Toh, betapapun sakitnya aku mempertahankan perasaan itu, aku tak pernah ingin melepasnya.

“Tiga tahun aku lalui hari-hari dalam kegamangan. Tanpa perasaan. Tanpa kepastian. Sampai akhirnya kuputuskan untuk menulis puisi itu, mengirimkan lukisan itu padamu.

“Aku lelah. Aku telah lelah. Aku tak bisa lagi terus lari dan sembunyi.

“Maafan aku, Yud.” Elma menundukkan wajahnya, Sementara Yuda masih saja diam.

Lelaki itu melempar pandangannya. Ke kebiruan langit yang mulai temaram.

Suasana kembali hening. Hanya angin yang mendesah lirih dari pepohonan di halaman yang sesekali menghampiri, menyapu wajah mereka dan menggeraikan rambut panjang Elma yang dibiarkan tanpa ikatan, seolah memahami betapa pelik-rumit persoalan yang sedang mereka hadapi.

“Lalu, untuk apa kau kembali?” Yuda kembali menatap Elma.

“Asti.”

“Asti?”

“Ya, rekanan kamu. Dua bulan lalu dia ke Den Haag, kan mengikuti sebuah seminar ekologi?

“Aku pun di sana saat itu, untuk sebuah pameran lukisan pada kampanye antieksploitasi satwa Greenpeace. Kau tahu, kan kini satwa banyak dieksploitasi, diperdagangkan hanya atas nilai keuntungan materi, tak dipedulikan lagi apakah satwa-satwa itu tersakiti atau tidak?”

“Asti telah menceritakan segalanya, Yud. Kebetulan kami menginap pada hotel yang sama, pada kamar yang saling bersebelahan.

“Segalanya, Yud. Tentang keterpurukanmu, ….

I`m sorry. Please, be brave.

Yuda menghela nafas. “Elma, … Entahlah. Aku memang begitu terpukul. Kepergianmu yang tiba-tiba, begitu menyentakku. Toh kuakui itu pun adalah salahku. Aku telah menyia-nyiakanmu. Menelantarkan cintamu. Aku hanya memikirkan urusanku. Hanya mementingkan pekerjaan, mementingkan organisasi, proyek, … Aku hanya mementingkan diriku sendiri. Hingga kaupun jenuh. Bosan. Kecewa. Dan ketika aku menyadari betapa berartinya dirimu dalam hidupku, kau telah memutuskan `tuk pergi.

“Memang akulah yang bersalah, El. Namun, bagaimanapun, bahwa benih cinta yang telah kau semai, tenyata kini bertunas bahkan berakar kuat di hatiku. Kalau akhirnya kau tak bisa mencintaiku, but, please, mulai sekarang mulailah untuk bisa mencintaiku. Setidaknya, karena ada benih yang sama yang pernah tumbuh pula di hatimu. Meski itu kering. Meski itu layu. Percayalah, dengan kau setia merawatnya, memupuknya, lambat laun benih itu pun akan tumbuh kembali.”

If I could, Yud. But, it`s over!

“Benih itu telah mati dan, bagaimanapun, tidak mungkin lagi untuk kita pertahankan.”

No, Yud.” Elma menggelengkan kepalanya. “Please, jangan kau paksa aku `tuk memilih sesuatu yang tidak pernah aku mengerti.” Elma terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara dari sudut-sudut matanya, mulai mengalir bulir-bulir bening membasahi kedua pipinya.

Yuda mendesah. “Apakah ada benih lain yang telah tumbuh di hatimu?”

Elma mengangguk. Meski ragu. “Maafkan, Yud. Aku tidak ingin mengulang kesalahan `tuk yang kedua kali. Aku tak ingin melukai satu hati lagi!”

Yuda memejamkan matanya, mencoba menghalau perih yang semakin menusuk-nusuk hatinya.

Hening kembali menyela.

“Entahlah, El. Mungkin ini yang dinamakan karma.

“Aku masih sayang kamu. Dan aku pun yakin kau masih sayang padaku. Aku yakin benih itu belum mati.” Yuda menjeda kata-katanya. Diraihnya tangan Elma. Digenggamnya erat.

“Pergilah, kalau memang itu yang kau pikir terbaik. Terbanglah, kemanapun kau ingin terbang. Dan, jika kepakan sayapmu telah lelah, kembalilah. Sebelum mentari tenggelam. Sebelum gelap menghadang.

“Terbanglah tinggi. Pergilah. Kembalilah. Jika kau telah lelah!”

Yuda melepas tangan Elma dari genggamannya. Melepas segala ikatan yang pernah ia berikan pada perempuan itu. Segala cinta. Segala asa. Membiarkannya kembali bebas mengembara, mengarungi angkasa luas kehidupan. Toh iapun yakin, merpatinya itu pun `kan kembali pulang padanya. Seperti keyakinannnya pada matahari yang `kan kembali terbit esok hari.

Angin membeku di ambang senja yang menyemburatkan jingga di tepian barat cakrawala. Sepasang walet melintas, berkejaran, terus jauh ke utara.

Perempuan itu, masih terpaku.

* * *

JAM berdentang dua kali. Waktu telah beranjak dini.

Dari jendela kamarnya, perempuan itu, Elma, kembali ke tepian ranjang.

Diambilnya travel bag yang tergeletak di atas ranjang yang telah diisinya dengan setumpuk pakaian. Dipangkunya benda hitam itu.

Lima tahun sudah sejak kepulangannya ke Tanah Air, menemui Yuda.

Lima tahun yang penuh dengan pengembaraan-pengembaraan. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu hati ke hati lain. Dari satu lelaki ke lelaki lain. Namun, semuanya pun sama. Semua hanya menyisakan persoalan-persoalan. Kekecewaan. Hingga, ia pun lelah.

Tiba-tiba ia menyesali keputusannya. Tiba-tiba ia merasa rindu pada lelaki itu. Tiba-tiba ia merasakan arti kehadiran lelaki itu dalam hidupnya.

“Dan, jika kepakan sayapmu telah lelah, kembalilah.”

Kini ia benar-benar lelah. Namun, mungkinkah ia kembali?

Lima tahu sudah ia tinggalkan lelaki itu. Tanpa kabar apapun. Tanpa berita apapun. Tak ada surat. Tak ada telpon. Tak ada e-mail. Tak ada apapun yang ia kirimkan pada lelaki itu. Sementara surat-surat, deringan telpon dan e-mail dari lelaki itu, terus datang dan datang.

Ya, mungkinkah ia kembali?

Elma menarik nafas dalam-dalam. Sesayat luka kembali tergores di hatinya. Mengucurkan perih yang terus saja membasahi kalbunya.

Diturunkannya travel bag dari pangkuannya. Diletakkannya di atas lantai. Akhirnya, iapun merebahkan diri. Dan memejamkan mata. Membiarkan jendela kamarnya terus terbuka.

Di atas meja, tergeletak sebuah tiket penerbangan Roma – Jakarta. Dan di sampingnya, sebuah undangan baru nampak terbuka. Undangan perkawinan, dari Yuda.

PUISI CINTA

kau permata
kau batu
kau tugu
yang selalu menjulang tegar
yang selalu bersinar cerlang
di hamparan musim-musim
aku hanya penziarah
yang mabuk kepayang
oleh kilauanmu
haruskah kau terus diam
membisu
membekukanku dalam tabung
waktu

pro Anggit


ANGGIT terbelalak. Matanya menyorot merah, marah, menatap baris-baris kata di lembaran mading sekolahnya yang terpajang di boks kaca di dinding samping perpustakaan.

Dua kali sudah--dalam seminggu ini, puisi gila nongol di mading yang ditujukan untuknya.

Iapun bergegas, kembali ke kelasnya. Dan ...

Brakk!!

Dibantingnya pintu keras-keras, mengejutkan teman-teman gengnya: Wiwit, Esy, Maf dan Sophie yang lagi ngumpul di kelas, juga beberapa siswa lainnya, termasuk seorang cowok kerempeng yang lagi asyik menyelami Mimpi-mimpi Einstein di bangkunya di pojok ruangan. Sontak, cowok itu melongokkan kepalanya yang tersembunyi di balik bukunya Alan Lightman itu. Namun iapun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum-senyum saat tahu itu adalah ulah si Xena, Anggit. Iapun kembali membenamkan kepalanya, kembali menghanyutkan konsentrasinya ke dalam arus narasi novel sci-fi itu.

"Gila. Dasar gila!" Anggit menyeringai sembari terus melangkah ke tempat duduknya di depan meja guru.

Wiwit dan Sophie menghampiri. Begitu pun Maf dan Esy.

"Ada apa, Git? Datang-datang ngeraung kayak singa kelaparan aja lo.

"Tenang dikit kenapa sih?" Wiwit langsung nerocosin Anggit sembari tanpa permisi nongkrongin diri di samping Anggit.

"Bodo. Dia emang gila. Gila!

"Dia pikir gue siapa sih? Seenaknya aja nulis-nulis puisi buat gue di mading. Tanpa nyebutin diri lagi."

"O.. itu to." Esy mengangguk-anggukkan kepalanya.

"O.. itu to," Anggit mencibir.

"Pokoknya gue `gak terima," Anggit kembali ngotot, "Awas, kalo tahu orangnya, bakal gue cincang abis dia!"

"Ih.. atut! Sadis amat, Nek. Nggak usah dicincang, Git. Potong dua aja. Kepala ama tubuh. Kalo pas cakep, kan kepalanya bisa buat gue, biar dipajang di kamar." Wiwit kembali nerocos.

Anggit melotot.

Wiwit-pun cengengesan. begitu pun Sophie, Esy dan Maf. Juga cowok kerempeng di pojokan yang diam-diam nguping, membuat Anggit semakin mendelik.

* * *

"SELAMAT, Git! Elo dapat lagi."

"Apaan?"

"Tuh!" Esy menunjuk ke mading. Dan benar.

...

meski hancur terberai
tubuhku
namun rinduku
cintaku
`kan selalu untukmu
oh, bidadariku
kau memang bintang terang
yang selalu menyinari
setiap malamku

pro Anggit

Muka Anggit nampak memerah. Cairan di kepalanya kembali mendidih.

"Eh, tapi gue tahu kok, Git, siapa penyair sableng itu. Kemarin, kan gue pinjam buku catatan ama Anto. Eh, pas gue bolak-balikin isinya, gue dapatin coretan-coretan, puisi-puisi ini." Esy kembali menunjuk mading.

Anggit-pun membelalakkan matanya. Menatap tajam kepada Esy. Begitu pun Wiwit, Maf dan Sophie yang ikut-ikutan surprised.

"Elo jangan bohong, ya?" Anggit menudingkan telunjuknya ke muka Esy.

"Swear deh. Abis kalo bukan dia, siapa lagi?" Esy mengangkat bahunya.

"Oke deh. Gue percaya aja ama elo." Anggit tersenyum. "Ya, sekarang gue mesti bikin pembalasan." Anggit lantas ngacir, bergegas mencari cowok yang dimaksud. Keruan Esy, Wiwit, Sophie dan Maf jadi saling pandang.

"Bakal ada perang Baratayuda nih!" celetuk Maf sembari menggerakkan kakinya, menguntit Anggit, diikuti yang lain.

* * *

DENGAN isi kepala yang hampir meledak, Anggit pergi ke kelasnya. Mencari manusia Adam yang telah berani-beraninya mempermain-mainkan dirinya di mading sekolah. Ia pengen minta pertanggungjawaban cowok itu!

Sementara Wiwit, Esy, Sophie dan Maf terus mengikuti dari belakang.

Di dalam kelas, Anggit mendapati sosok yang dicarinya, Anto, cowok kerempeng kepala suku II.1, lagi mojok di singgasananya. Sendirian dalam kelas, cowok itu asyik corat-coret di atas paper book-nya. Anggit-pun menghampiri dan, dengan suara altonya yang berguntur-guntur, Anggit menggertak cowok itu sembari kedua tangannya keras menggebrak meja.

"Bangun!"

Anto nampak terkejut. Namun, dengan cepat, ia bisa mnguasai diri. Dan, dengan tanpa menyadari dosanya sedikitpun, ia justeru nyengir pada Anggit. Lalu kembali memain-mainkan pulpennya.

Anggit semakin sewot. "Elo budek atau tuli sih? Bangun!" Anggit beringsut ke samping meja, merebut pulpen dan mencekal pundak Anto, menariknya ke atas. Mau tak mau Anto pun menurutinya. Ia nggak mau atasan bajunya sobek hanya lantaran egois pada cewek itu. No, terlalu mahal!

"Tenang dulu dong, Neng. Yang adem ngomongnya. Emang ada apa sih? Sekolah kita diserbu teroris?" sergah Anto sembari menepiskan tangan Anggit dari pundaknya.

"Teroris, teroris. Elo yang teroris."

"Lho, kok malah aku yang teroris?"

"Ah.., udah deh ngaku. Elo, kan yang corat-coret puisi-puisi itu?"

"Puisi-puisi ...?"

"Udah deh, `gak usah ngebego. Elo, kan penyair sinting itu?"

Anggit benar-benar murka pada Anto. Ia pengen segera ngasih pelajaran pada cowok yang kurang ajar itu. Ia mau cowok itu ngaku dan lantas ampun-ampunan minta maaf pada dirinya.

Namun Anto nggak langsung menjawab. Ia justeru membetulkan krah bajunya yang sempat acak-acakan oleh cengkraman Anggit. Membuat Anggit makin melototkan matanya.

Sementara teman-teman geng Anggit, nampak menahan-nahan nafas, mengikuti adegan demi adegan itu dari balik jendela kaca kelas. Mereka tahu betul gimana Anggit kalo udah murka. Jangankan Anto yang kerempeng. Pak Septo, guru Matematika yang kekar lagi killer pun, pernah keok diceramahin Anggit gara-gara keliru ngasih nilai PR-nya.

Cukup lama Anto diam. Membuat dag-dig-dug di dada Sophie cs kian kencang.

Namun, Anto pun kemudian menganggukkan kepalanya. Toh, bukannya minta maaf. Ia justeru balik tanya pada Anggit.

"So?" Kini balik Anto yang menatap Anggit. Ia pengen lihat seberapa murka cewek itu bakal maki-maki dirinya.

"Jadi..?" Gigi Anggit nampak gemeretak. Namun, tiba-tiba cewek itupun menubruk Anto, mendekapnya. Membuat Anto terlongo-longo. Begitu pun Sophie dan kawan-kawan.

"Ngomong dong yang jelas. He.. he.. he.. gue juga, sayang ama elo kok," ucap Anggit sembari terus mendekap Anto. Sontak, Anto melototkan matanya. Kian terlongo-longo. Sementara Anggit cuman cengar-cengir, terus mendekapnya. Namun, Anto pun kemudian balik mendekap Anggit.

Berputar-putar. Mengayun-ayunkan bidadari pujaannya itu., dan ... melepaskannya.

Ah, dasar cinta!

PUISI BUKANLAH "SPEECH ACT"

DALAM sebuah perbincangan SMS, seorang teman di Semarang yang telah lama ‘jatuh hati’ pada puisi—dan kerapkali pula intens mempelajari puisi—dengan begitu pesimistis mengeluh, kendati ia telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memahami (bahasa) puisi, tetap saja ia kerepotan untuk bisa mengerti apa yang dimaksudkan oleh puisi. Hingga puisi pun, baginya, tak lain memang adalah ‘makhluk aneh’ yang mungkin tidak harus ‘dipusingkan’ keberadaannya.


Ironis! Sungguh saya dapat membayangkan betapa ‘putus asa’-nya ia karena kebuntuan yang dialaminya itu.


Toh ini bukanlah satu-satunya keluhan tentang puisi yang pernah saya temui. Seperti kali lain pada sebuah acara pembacaan puisi yang dilakukan oleh “presiden” penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Seorang penonton, mahasiswa sebuah PTN terkemuka di Jakarta yang berada di sebelah saya, mencak-mencak karena dirinya merasa tidak mudeng dengan apa yang dibacakan sang “presiden”, hingga ia pun ngeloyor meninggalkan tempat padahal pembacaan-pembacaan puisi lainnya masih ngantri di belakang.


Sungguh ironis. Nasib puisi sungguh begitu ironis. Di saat ia mencoba menyuarakan simpati dan empatinya terhadap berbagai polemik dan persoalan kehidupan, lingkungan (orang-orang) seakan tidak pernah dapat mendengarkan suaranya itu, meski ia telah lantang mengeluarkan seluruh potensinya. Suara puisi tetap saja bisu dan sunyi di tengah hingar-bingar suara-suara lain.


Namun, benarkah itu memang karena kesalahan penyair (sebagai “agen” puisi) yang tidak pandai mempresentasikan puisi? Atau, jangan-jangan itu justeru karena kesalahan kita, audiens, yang tidak mampu menangkap dan memahami suara (baca: pesan) puisi?


Anyway, sebelum kita ‘memvonis’ siapa yang salah dalam hal ini, ada baiknya kita ulas kembali tentang apa sebenarnya puisi itu sendiri.


Sebagai karya sastra, sebagaimana diterangkan A. Teeuw dari Universitas Leiden (Belanda) dalam bukunya Sastra dan Ilmu Sastra, puisi bukanlah speech act (tindak tutur yang normal) di mana ambiguitas dalam situasi puisi justeru built-in; pemaknaan puisi diserahkan kepada pembaca dengan merujuk pada kata-kata teksnya. Dan kata-kata teks itu sendiri, merupakan suatu ikatan yang menyeluruh, atau dengan meminjam istilah Saini KM, puisi merupakan “organisasi kata”. Pemaknaan puisi adalah menyeluruh pada kata-kata yang ada. Jadi, tidak bisa kita mengartikan sebuah puisi dengan membaca satu bait—apalagi satu baris—nya saja. Dan, makna kata pada puisi sendiri bersifat khas, di mana satu kata pada sebuah puisi, akan dapat berbeda konotasi dan orientasinya pada puisi lainnnya. Seperti kata tuhan dalam Saksikan oleh-Mu, Tuhan-ku/Ombak yang pecah tak lagi merdu (Elegi Pantai Kuta, 121002; Furry Setya Raharja) dan dalam yang mutakhir adalah membunuh tuhan (Jakarta, bukan Kotaku; Apito Lahire), di mana tuhan pada puisi yang pertama jelas-jelas yang dimaksud adalah tuhan pada sejati-Nya, baik dzat maupun sifat-Nya, berbeda dengan tuhan pada puisi kedua yang hanya sebagai simbol dari keimanan dan atau rasa/sifat keilahian yang ada dalam hati.


Adapun mengenai ilmu atau kaidah kebahasaan yang sering juga dipersoalkan, itu pun memang harus dikuasai oleh penyair dalam mengelola puisinya. Namun demikian, kaidah kebahasaan di sini bukanlah pada soal penggunaan tanda baca ataupun pemakaian besar kecilnya huruf. Toh, bagaimanapun, puisi itu berbeda dengan prosa. Dalam hal ini, penyair dibebaskan untuk memilih bentuk puisinya apakah itu menggunakan titik atau tidak, memakai huruf besar atau kecil, dan sebagainya, yang dikenal sebagai licenciae poetica—atau ‘kebebasan kreatif’ menurut istilah Jamal T. Suryanata. Kaidah kebahasaan yang dimaksud mengarah pada kata-kata teksnya yang harus ‘membumi’ di mana secara nalar dapat dipahami artinya, tidak ngawang-awang, lepas dari konteks pemaknaan yang selama ini disepakati bersama. Kata-kata tersebut harus inklusif terhadap pemahaman bersama. Seperti saat menggunakan kata "angsa putih", maka konotasi ataupun orientasi maknanya harus mengacu kepada "seekor unggas berleher panjang dengan bulu-bulu tubuhnya berwarna putih …", bukannya hewan lain atau entah apa yang maknanya eksklusif hanya disepakati si penyair sendiri. Apalagi menggunakan kata-kata yang sama sekali tidak ada dalam kamus bahasa apapun kecuali kamus bahasa si penyair.


Namun demikian, aspek kebahasaan, seperti dikutip Teeuw dari seorang ahli puisi asal Inggris, Jonathan Culler dalam bukunya di atas, pun bukanlah yang pertama-tama menjadikan sebuah tulisan sebagai puisi, melainkan konvensi, type of reading (cara baca) yang
‘dipaksakan’ pada pembaca hingga pembaca paham bahwa itu adalah puisi, yaitu meliputi, pertama, jarak dan diksi (distance and deixis). Kata diksi adalah kata yang referennya berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi pembicara serta saat dan tempat dituturkannya kata itu. misalnya aku, ini, di sini, kemarin dan lain-lain. Diksi berfungsi ikut membina dunia rekaan, mengarahkan pembaca sebagai persona yang meditatif, perenung. Puisi yang disajikan sebagai pernyataan pribadi dibaca dalam konteks referensi yang dibina dan memberi puisi itu koherensinya. Membaca puisi adalah lepas dari situasi tindak ujaran yang biasa; arti kata dalam pemakaian bahasa sehari-hari dimanfaatkan sekaligus dibuang untuk memberi makna pada puisi.


Seperti tentang puisi Joko Pinurbo: Pohon Cemara berikut:

Di depan rumahmu ia betah berjaga mengawal sepi,
dari jauh terlihat tenang dan tinggi.
Jaman berubah cepat, andaikan nasib dapat diralat,
dan pohon cemara masih saja serindang mimpi.


Pada dahannya masih tergantung sepotong celana:
gambar panah di pantat kanan, gambar hati
di pantat kiri; dicumbu angin ia menari-nari.


Burung bulan suka bersarang di ranting-rantingnya,
bulunya berhamburan di tangkai-tangkainya.


Aku pulang di malam yang tak kauduga.
Hallo, itu celana kok sudah beda pantatnya:
panah telah patah, hati telah berdarah;
darahnya kausimpan di botol yang tidak mudah pecah.


(2005)


Kata malam, aku dan atau kau pada puisi di atas, akan dapat berbeda referennya, ketika puisi tersebut dibaca orang lain. Aku bukan lagi aku sebagai Joko Pinurbo (penyair) tapi mungkin si A atau si B yang ‘berkepentingan’ dengan puisi tersebut. Kau tak lagi kau seperti yang dimaksud penyair saat menulis puisi tapi mungkin entah siapa, begitu pun malam tidak lagi menjadi malam pada pengalaman penyair tapi bisa jadi malam yang lain, mengacu pada referensi pengalaman pembacanya. Jarak (ruang dan waktu)-nya berubah menuruti ‘kepentingan’ yang ada.


Kedua, keseluruhan yang organik (organic wholes). Harapan koherensi dan kebulatan makna yang menentukan kegiatan penafsiran oleh pembaca, sebagaimana diterangkan di depan. Menafsirkan sebuah puisi adalah mengandaikan kebulatan, kemudian memberi makna pada kesenjangannya.


Ketiga, tema dan perwujudan (theme and ephiphany). Puisi diandaikan memiliki kekayaan implisit yang menjadikan usaha untuk memahaminya cukup menarik. Puisi yang pada lahirnya dapat kita baca sebagai peristiwa insidental atau pengalaman individual, mau tak mau kita berikan makna universal dan manusiawi.


Contohnya puisi Aku-nya Chairil Anwar yang pada lahirnya ditulis penyair sebagai resepsi pengalaman individual hidupnya yang perih—antara lain akibat perceraian orangtuanya, sebagimana pernah diceritakan karibnya, Asrul Sani, tiba-tiba saja menjadi universal. Puisi Aku dianggap sebagai “proklamasi” Angkatan ’45—seperti larik Aku ini binatang jalang yang sering dimaknai sebagai “yel” pemberontakan atau perjuangan melawan tradisi yang begitu ‘mengungkungi’ kala itu (tahun 1940-an).


Begitu pun puisi Pohon Cemara di atas dan puisi-puisi lainnya yang ‘sebenarnya’ merupakan pengalaman individual penyair, mau tak mau, ketika puisi hadir di tengah-tengah khalayak pembaca universal, itu pun menjadi pengalaman universal yang menjadi terserah untuk dimaknai atau disikapi oleh siapapun.


Demikianlah dan dari uraian di atas, kiranya dapat dipahami sekarang mengapa puisi selama ini sulit dipahami. Ini tidak lain karena konvensi yang ada pada puisi memang tak pernah dipahami secara utuh. Baik oleh penyair yang karenanya menjadikan puisinya “semau gue’ hingga yang terjadi kemudian adalah puisinya menjadi ‘gelap’, juga pembaca yang membaca dan menafsirkan puisi dengan ‘semau gue’ pula.


Thus, marilah kita bersama mulai menyikapi puisi dengan lebih ‘arif’, lebih intens dan sungguh-sungguh, hingga saat puisi (kembali) menyuarakan dirinya kita pun dapat mendengar dan menikmatinya dengan seksama, menangkap apa-apa yang disuarakan (baca: dipesankan) olehnya. Suara-suara puisi tidak lagi terbungkus kebisuan, namun dapat nyaring dan memberi kita makna dan pencerahan.

Senin, Mei 28, 2007

MEREDEFINISIKAN HUKUM ISLAM


BUKAN suatu kebetulan kiranya, jika Islam diturunkan Allah di jazirah Arab. Sebagaimana diketahui, Arab saat menjelang Islam diturunkan, merupakan wilayah dengan peradaban yang begitu parah. Tradisi mabuk-mabukan, kekerasan, perjudian, penguburan bayi perempuan hidup-hidup (ma`dul-banat), perbudakan, adalah contoh dari kerapuhan moral masyarakatnya. Termasuk, pelecehan seksual dan pelacuran. Toh, di tengah kondisi yang chaos itu, Islam bisa eksis bahkan berperan menyapu rupa kesangaran tersebut. Me-make up kembali `wajah` masyarakat yang bopeng penuh ke-jahil-an. Hingga ia pun diterima sebagai way of life yang niscaya.


Ini sebenarnya bukti bahwa Islam, betapapun, pada esensinya, memang dapat diterima adanya.


Lalu, mengapa sekarang, di saat peradaban umat manusia digembar-gemborkan kemajuannya, Islam justeru nampak hadir sebagai benalu? Islam, sebagaimana agama-agama lainnya, dianggap hanya sekumpulan dogma yang mengekang manusia, menjadi represi kekuasaan manusia atas kebebasannya, bahkan bagi banyak umat Islam sendiri, dan di `negara Islam` sekalipun.


Islam tidak lagi dianggap rahmatun lil `alamin. Islam tidak lebih hanya sebuah teror-isme, sebuah bom waktu yang kapanpun siap meledak, memporak-porandakan `peradaban`.


Sebenarnya, kalau mau kita kaji, ini merupakan kekeliruan kita sendiri. Pertama, adanya penafsiran dan pengejawantahan yang kaku (kalau tidak keliru) atas hukum-hukum Islam. Fundamentalisme agama (: kembali kepada Alqur`an dan Assunnah) kita definisikan `apa adanya`. Kita cenderung mengadopsi hukum-hukum--Alqur`an dan Assunnah--secara mentah-mentah, leksikal. Hingga yang kita dapati--atas hukum-hukum itu--pun adalah sesuatu yang memberatkan. Tidak relevan dengan perkembangan. Kuno. Padahal hukum-hukum itu sendiri fleksibel dan dinamis adanya. Tidak kaku dan dapat disesuaikan/dikembangkan menurut keadaan yang ada. Selalu ada toleransi pada setiap hukum. Tidak pernah ada `paksaan` dalam suatu hukum. Seperti halnya kewajiban untuk berdiri dalam shalat. Karena suatu keadaan yang tidak memungkinkan untuk berdiri (karena sakit, misalnya), maka kewajiban itu dapat gugur. Shalat kemudian bisa dikerjakan dengan duduk dan atau berbaring. Begitu pun dengan kewajiban berpuasa yang karena suatu sebab dapat ditinggalkan dan atau di-qadha` (diulang) di kemudian hari ataupun diganti dengan fidyah (tebusan).


Kedua, pemerintah (raja; presiden)--pada negara Islam--sebagai pelaksana daulat hukum agama, seringkali over dalam menafsirkan kedudukan. Kedudukan baginya adalah kekuasaan. Negara sama dengan privacy. Pemerintah merupakan `wakil` Tuhan (Allah) yang absolut, tidak dapat diganggu gugat, atas negara/rakyat. Fungsi sesungguhnya bahwa pemerintah adalah pelayan negara/rakyat, acapkali dilupakan dan ditinggalkan. Hingga yang ada kemudian adalah sebuah bentuk negara, sebuah pemerintahan yang otoriter. Rakyat ditekan dengan undang-undang yang berdalihkan agama. Dan, celakanya, banyak masyarakat/rakyatnya pun yang `mengamininya`.


Demikianlah, maka jika kekeliruan-kekeliruan itu dapat kita benahi, sesungguhnyalah Islam akan tetap dapat diterima. Islam senantiasa dapat dipercaya menjadi solusi atas segala persoalan yang terjadi.


Kamis, Mei 24, 2007

KETIKA MANUSIA HARUS (SALING) MENJAGA CINTA


KETIKA seseorang memutuskan untuk melakukan sesuatu, sesungguhnya ia telah meneguhkan dirinya pada apa yang dinamakan cinta. Kegiatannya berjalan, berangkat dari rasa cinta yang bangkit dalam dirinya. Seorang ayah yang bersusah payah mencari nafkah di bawah sengatan terik mentari dan cekaman gigil dingin hujan, ia melakukan hal itu karena kecintaannya pada anak-istrinya, pada keluarganya. Juga seorang anak yang mati-matian menjalani pendidikan, semata demi masa depannya yang tidak diingininya suram. Atau seorang sahabat, kakak, adik, kerabat yang mau melakukan sesuatu demi orang lain, demi keluarga, demi karib, demi saudaranya yang padahal kadang memberatkan dirinya, karena ia tidak ingin mengecewakan mereka, karena ia mencintai mereka.

Sunnatullah
Demikianlah, cinta adalah sunnatullah, suatu keniscayaan. Cinta ada dan akan terus mengada sepanjang kehidupan itu ada. Cinta yang membuat manusia punya alasan untuk meneruskan hidupnya. Cinta yang membuat manusia mau bertahan di belantara liar dunia ini. Cinta yang membuat dunia terasa damai dan indah.
Ketika Adam baru diciptakan Allah, betapa ia merasakan hidup sebagai suatu kehampaan, meski dalam glamour kemewahan surga. Namun, saat kemudian Allah ciptakan Hawa, iapun merasakan hidup menjadi bergairah. Hidup sebagai sesuatu yang indah. Meski kemudian dalam penuh kesusahan dunia. Hawa adalah sebuah cinta bagi Adam.

Tragedi
Namun, ada kalanya juga cinta mengalami dekadensi, erosi. Bahkan seringkali tumbuh secara tidak wajar, liar. Yang kemudian menimbulkan ekses yang negatif, naïf, fatal: pertentangan, pertikaian, bahkan peperangan. Hal ini terjadi karena ketidakmampuan mengendalikan cinta: salah menafsirkan cinta, menempatkan cinta pada tempat yang tidak semestinya.
Kisah Kabil adalah kisah yang bisa dijadikan ibrah atas tragedi yang terjadi karena hal itu. Ketika demikian besarnya cinta Kabil pada Iqlima namun ia tidak bisa mengejawantahkannya dengan `benar`, hingga kemudian yang timbul adalah ketidakpuasan. Kedengkian. Dan, pembunuhan.
Demikian halnya kisah Bandung Bondowoso - Roro Jonggrang, Dayang Sumbi - Sangkuriang yang harus mengalami sad ending karena tidak bisa menyikapi cinta yang ada.
Juga ketika orang-orang melanglang dunia demi mencari kekuasaan, invasi ke negara-negara lain, atau ketika mereka menduduki jabatan, memegang kekuasaan yang kemudian sewenang-wenang, menumpuk kekayaan dengan segala cara, korupsi, sebenarnya itu pun wujud dari sebuah cinta. Kecintaan pada bangsanya, pada dirinya-untuk memperbaiki nasib. Sayang, pewujudan cintanya tidak dijalankan pada lajur yang semestinya. Karena apa yang terjadi pada pewujudan cinta tersebut, justeru dengan merusak ke-cinta-an lain, merusak nasib yang lain.

Cinta Semestinya
Demikian, sehingga cinta pun tidak bisa disewenang-wenangkan.
Benar, cinta adalah hak asasi. Namun, bahwa hak asasi itu pun ada berbarengan dengan hak asasi-hak asasi orang lain. Maka, tidak benar, demi cinta, karena cinta, kita menghalalkan segala cara.
Seyogyanyalah kita saling menjaga cinta yang ada pada diri kita. Hendaknya kita arif dalam menyikapi cinta, mengejawantahkan cinta. Hingga tragedi ala Kabil - Habil, Dayang Sumbi - Sangkuriang, Malinkundang, Romeo - Juliet, Roro Jonggrang - Bandung Bondowoso, perang dunia, kerusuhan Poso, kerusuhan Ambon, pertikaian tanah Rencong, teror Kuta, perkelahian pelajar, tawuran antarwarga, tidak lagi terulang. Kita bisa menghindarinya. Setidaknya, meminimalisasikannya.
Cinta itu anugerah. Sepatutnyalah kita menjaga anugerah itu agar tidak menjadi sesuatu yang tercela dan menimbulkan ketercelaan.

SAJAK DI PERSIMPANGAN

(Surat Putih 3)


akhirnya kita sampai di sini, di tapal batas ini,

pada persimpangan ketika

cinta dan dendam

berbaur pada satu jalanan.

bukan aku hendak mengabaikanmu

tapi kesetiaan adalah

sejarah tentang luka. dan,

kemunafikan.

memandangmu aku seperti melihat

gunung berapi yang bergemuruh

menahan lahar

sementara tanah yang aku pijak

adalah biru laut yang setiap senja

menenggelamkan matahari.

lalu, aku menemukan kembali

arti kasih yang pernah kita urai.

bukan hujan setelah terik

seperti yang sering kita maknai dan rasai.

tapi kasih adalah lazuardi pada

senja hari.


140300


Surat Putih 1

Surat Putih 2



SURAT PUTIH 2


melewati hari dalam sepi

kadang dingin mencekam

menyelimuti tidurku

menawarkan mimpi-mimpi kelam

tentangmu

--setiap bangun tidur

aku selalu tertegun

meraba dan menatapi

senyummu dalam wajah

potret beku

lalu kembali segumpal

pilu menghantam

hari-hari yang panjang

dalam doa dan penantian

panjang menyeret angan

menyusuri jalanan ke

masa depan

--tumpuan harapan dan impian

bersamamu

aku selalu mengerti

bahwa dunia tidak hanya hari ini

tapi adalah kemarin dan esok hari



160399


Surat Putih 1

Surat Putih 3