Maklumat

Khusus untuk konten-konten sastra seperti puisi, cerpen dan esai silahkan kunjungi http://blog.edelweis-art.com. Terima kasih (Penulis)

Kamis, Mei 31, 2007

PUISI CINTA

kau permata
kau batu
kau tugu
yang selalu menjulang tegar
yang selalu bersinar cerlang
di hamparan musim-musim
aku hanya penziarah
yang mabuk kepayang
oleh kilauanmu
haruskah kau terus diam
membisu
membekukanku dalam tabung
waktu

pro Anggit


ANGGIT terbelalak. Matanya menyorot merah, marah, menatap baris-baris kata di lembaran mading sekolahnya yang terpajang di boks kaca di dinding samping perpustakaan.

Dua kali sudah--dalam seminggu ini, puisi gila nongol di mading yang ditujukan untuknya.

Iapun bergegas, kembali ke kelasnya. Dan ...

Brakk!!

Dibantingnya pintu keras-keras, mengejutkan teman-teman gengnya: Wiwit, Esy, Maf dan Sophie yang lagi ngumpul di kelas, juga beberapa siswa lainnya, termasuk seorang cowok kerempeng yang lagi asyik menyelami Mimpi-mimpi Einstein di bangkunya di pojok ruangan. Sontak, cowok itu melongokkan kepalanya yang tersembunyi di balik bukunya Alan Lightman itu. Namun iapun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum-senyum saat tahu itu adalah ulah si Xena, Anggit. Iapun kembali membenamkan kepalanya, kembali menghanyutkan konsentrasinya ke dalam arus narasi novel sci-fi itu.

"Gila. Dasar gila!" Anggit menyeringai sembari terus melangkah ke tempat duduknya di depan meja guru.

Wiwit dan Sophie menghampiri. Begitu pun Maf dan Esy.

"Ada apa, Git? Datang-datang ngeraung kayak singa kelaparan aja lo.

"Tenang dikit kenapa sih?" Wiwit langsung nerocosin Anggit sembari tanpa permisi nongkrongin diri di samping Anggit.

"Bodo. Dia emang gila. Gila!

"Dia pikir gue siapa sih? Seenaknya aja nulis-nulis puisi buat gue di mading. Tanpa nyebutin diri lagi."

"O.. itu to." Esy mengangguk-anggukkan kepalanya.

"O.. itu to," Anggit mencibir.

"Pokoknya gue `gak terima," Anggit kembali ngotot, "Awas, kalo tahu orangnya, bakal gue cincang abis dia!"

"Ih.. atut! Sadis amat, Nek. Nggak usah dicincang, Git. Potong dua aja. Kepala ama tubuh. Kalo pas cakep, kan kepalanya bisa buat gue, biar dipajang di kamar." Wiwit kembali nerocos.

Anggit melotot.

Wiwit-pun cengengesan. begitu pun Sophie, Esy dan Maf. Juga cowok kerempeng di pojokan yang diam-diam nguping, membuat Anggit semakin mendelik.

* * *

"SELAMAT, Git! Elo dapat lagi."

"Apaan?"

"Tuh!" Esy menunjuk ke mading. Dan benar.

...

meski hancur terberai
tubuhku
namun rinduku
cintaku
`kan selalu untukmu
oh, bidadariku
kau memang bintang terang
yang selalu menyinari
setiap malamku

pro Anggit

Muka Anggit nampak memerah. Cairan di kepalanya kembali mendidih.

"Eh, tapi gue tahu kok, Git, siapa penyair sableng itu. Kemarin, kan gue pinjam buku catatan ama Anto. Eh, pas gue bolak-balikin isinya, gue dapatin coretan-coretan, puisi-puisi ini." Esy kembali menunjuk mading.

Anggit-pun membelalakkan matanya. Menatap tajam kepada Esy. Begitu pun Wiwit, Maf dan Sophie yang ikut-ikutan surprised.

"Elo jangan bohong, ya?" Anggit menudingkan telunjuknya ke muka Esy.

"Swear deh. Abis kalo bukan dia, siapa lagi?" Esy mengangkat bahunya.

"Oke deh. Gue percaya aja ama elo." Anggit tersenyum. "Ya, sekarang gue mesti bikin pembalasan." Anggit lantas ngacir, bergegas mencari cowok yang dimaksud. Keruan Esy, Wiwit, Sophie dan Maf jadi saling pandang.

"Bakal ada perang Baratayuda nih!" celetuk Maf sembari menggerakkan kakinya, menguntit Anggit, diikuti yang lain.

* * *

DENGAN isi kepala yang hampir meledak, Anggit pergi ke kelasnya. Mencari manusia Adam yang telah berani-beraninya mempermain-mainkan dirinya di mading sekolah. Ia pengen minta pertanggungjawaban cowok itu!

Sementara Wiwit, Esy, Sophie dan Maf terus mengikuti dari belakang.

Di dalam kelas, Anggit mendapati sosok yang dicarinya, Anto, cowok kerempeng kepala suku II.1, lagi mojok di singgasananya. Sendirian dalam kelas, cowok itu asyik corat-coret di atas paper book-nya. Anggit-pun menghampiri dan, dengan suara altonya yang berguntur-guntur, Anggit menggertak cowok itu sembari kedua tangannya keras menggebrak meja.

"Bangun!"

Anto nampak terkejut. Namun, dengan cepat, ia bisa mnguasai diri. Dan, dengan tanpa menyadari dosanya sedikitpun, ia justeru nyengir pada Anggit. Lalu kembali memain-mainkan pulpennya.

Anggit semakin sewot. "Elo budek atau tuli sih? Bangun!" Anggit beringsut ke samping meja, merebut pulpen dan mencekal pundak Anto, menariknya ke atas. Mau tak mau Anto pun menurutinya. Ia nggak mau atasan bajunya sobek hanya lantaran egois pada cewek itu. No, terlalu mahal!

"Tenang dulu dong, Neng. Yang adem ngomongnya. Emang ada apa sih? Sekolah kita diserbu teroris?" sergah Anto sembari menepiskan tangan Anggit dari pundaknya.

"Teroris, teroris. Elo yang teroris."

"Lho, kok malah aku yang teroris?"

"Ah.., udah deh ngaku. Elo, kan yang corat-coret puisi-puisi itu?"

"Puisi-puisi ...?"

"Udah deh, `gak usah ngebego. Elo, kan penyair sinting itu?"

Anggit benar-benar murka pada Anto. Ia pengen segera ngasih pelajaran pada cowok yang kurang ajar itu. Ia mau cowok itu ngaku dan lantas ampun-ampunan minta maaf pada dirinya.

Namun Anto nggak langsung menjawab. Ia justeru membetulkan krah bajunya yang sempat acak-acakan oleh cengkraman Anggit. Membuat Anggit makin melototkan matanya.

Sementara teman-teman geng Anggit, nampak menahan-nahan nafas, mengikuti adegan demi adegan itu dari balik jendela kaca kelas. Mereka tahu betul gimana Anggit kalo udah murka. Jangankan Anto yang kerempeng. Pak Septo, guru Matematika yang kekar lagi killer pun, pernah keok diceramahin Anggit gara-gara keliru ngasih nilai PR-nya.

Cukup lama Anto diam. Membuat dag-dig-dug di dada Sophie cs kian kencang.

Namun, Anto pun kemudian menganggukkan kepalanya. Toh, bukannya minta maaf. Ia justeru balik tanya pada Anggit.

"So?" Kini balik Anto yang menatap Anggit. Ia pengen lihat seberapa murka cewek itu bakal maki-maki dirinya.

"Jadi..?" Gigi Anggit nampak gemeretak. Namun, tiba-tiba cewek itupun menubruk Anto, mendekapnya. Membuat Anto terlongo-longo. Begitu pun Sophie dan kawan-kawan.

"Ngomong dong yang jelas. He.. he.. he.. gue juga, sayang ama elo kok," ucap Anggit sembari terus mendekap Anto. Sontak, Anto melototkan matanya. Kian terlongo-longo. Sementara Anggit cuman cengar-cengir, terus mendekapnya. Namun, Anto pun kemudian balik mendekap Anggit.

Berputar-putar. Mengayun-ayunkan bidadari pujaannya itu., dan ... melepaskannya.

Ah, dasar cinta!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar