Maklumat

Khusus untuk konten-konten sastra seperti puisi, cerpen dan esai silahkan kunjungi http://blog.edelweis-art.com. Terima kasih (Penulis)

Rabu, Maret 19, 2008

Berbagai Keajaiban Mengiringi Kelahiran Nabi Besar Muhammad saw

Oleh Anisah Bahyah Hj Ahmad*

Kelahiran Nabi Muhammad saw pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun ke 53 sebelum Hijriah atau hampir satu setengah abad silam, merupakan pembuka rahmat bagi alam semesta.

Berbagai keajaiban mengiringi masa-masa menjelang, saat dan setelah kelahiran beliau. Berbagai keajaiban yang dapat dikategorikan juga sebagai irhash. Irhash merupakan peristiwa luarbiasa (keajaiban) yang dialami oleh manusia yang normal sebagai pertanda bakal kenabiannya kelak.

Irhash
dibagi menjadi tiga:



  1. Irhash yang dinyatakan di dalam kitab yang tidak boleh diubah atau dipindah


  2. Tanda-tanda kerasulan yang dibuktikan melalui berita-berita dari orang alim melalui ilham dan sebagainya


  3. Kejadian luarbiasa yang berlaku semasa kelahiran Nabi




Tentang berbagai keajaiban yang mengiringi masa-masa menjelang, saat dan setelah kelahiran beliau, masih banyak kaum muslimin yang belum ataupun tidak mengetahui peristiwa-peristiwa di balik kelahiran beliau Nabi Muhammad saw. Ini dikarenakan masih banyaknya rahasia yang belum terungkap.

Oleh karena itu penulis terpanggil untuk menyingkap kembali peristiwa-peristiwa di balik kelahiran beliau Junjungan Besar Nabi Muhammad saw.

Sebenarnya banyak keajaiban yang berlaku sebelum kelahiran Nabi Muhammad s.a.w.

Pertama, ibunya, Aminah, saat sedang mengandung Nabi, beliau tidak merasa susah sebagaimana dialami oleh ibu-ibu yang hamil lainnya.

Kehamilannya disadari melalui berita yang dibawa oleh malaikat yang datang kepadanya ketika beliau sedang tidur. Malaikat mengatakan bahwa beliau telah mengandung seorang Nabi dan Junjungan seluruh umat manusia.

Selain itu kehamilannya ditandai dengan haidnya yang terputus dan berpindahnya cahaya dari wajah Abdullah--suami beliau atau ayah Nabi--ke wajah beliau.

Kedua, ketika Nur Muhammad masuk ke dalam rahim Aminah, Allah memerintahkan malaikat supaya membukakan pintu surga Firdaus dan memberitahu semua penghuni langit dan bumi.

Tanah-tanah di sekitar kawasan tersebut yang kering menjadi subur, pohon-pohon menjadi rimbun dan berbuah lebat. Begitu juga hewan-hewan di darat dan di laut sibuk membicarakannya.

Ketiga, tentara bergajah yang disebut di dalam Alqur'an surat Alfil, datang menyerang kota Mekkah. Pimpinan tentara tersebut menunggang seekor gajah besar bernama Mahmudi.

Saat mereka hampir sampai ke kota Mekkah, gajah-gajah itu berhenti dan berbalik mundur dengan izin Allah.

Namun demikian, sekumpulan burung Ababil datang menyerang dan menghancurkan mereka sebagaimana yang disebut di dalam Alqur'an. Peristiwa ini amat menakjubkan dan diriwayatkan dalam buku-buku sejarah.

Keempat, Aminah turut mengalami mimpi yang menakjubkan. Beliau menengadahkan tangan ke langit dan melihat sendiri malaikat turun dari langit. Ia diumpamakan kapas putih yang terapung di angkasa.

Kemudian malaikat tersebut berdiri di hadapannya. Ia berkata, "Kabar bahagia untuk Saudara, wahai ibu daripada seorang nabi. Putera saudara itu menjadi penolong dan pembebas manusia. Namakan dia Ahmad."

Semasa kelahiran Nabi Muhammad saw, Aminah ditemani Asiah dan Maryam. Ini merupakan satu isyarat bahwa Nabi Muhammad lebih tinggi derajatnya dari Nabi Isa dan Musa.

Hal ini diterangkan dalam kitab Taurat dan Injil bahwa akan datang seorang nabi pada akhir zaman.

Semasa beliau Nabi dilahirkan, ibunya menyaksikan nur atau cahaya keluar dari tubuh beliau. Cahaya tersebut bersinar sampai ke Istana Busra di Syria.

Cahaya itu terlihat seolah-olah anak panah dan pelangi yang dapat terlihat dari kota-kota yang jauh.

Ada juga yang berpendapat bahwa cahaya itu menerangi seluruh dunia. Ini dapat dijelaskan oleh sumber-sumber Arab yang paling awal yang menyatakan bahwa suatu cahaya terpancar dari rahim Aminah saat beliau Nabi dilahirkan.

Aminah sendiri melihat beliau Nabi berbaring dengan kedua tangannya mengangkat ke langit seperti seorang yang sedang berdoa.

Kemudian Aminah melihat awan turun menyelimuti beliau dan pula mendengar sebuah seruan, "Bimbinglah ia mengelilingi bumi Timur dan Barat, supaya mereka tahu, dan dialah yang akan menghapuskan segala perkara syirik."

Sesudah itu awan tersebut lenyap dari pandangan Aminah. Setengah riwayat menyatakan Nabi dilahirkan dalam keadaan memandang ke arah langit sambil meletakkan tangannya ke tanah sebagai tanda ketinggian martabatnya dari semua makhluk.

Dikatakan juga pada malam kelahiran beliau, berhala-berhala yang terdapat di Ka'bah mengalami kehancuran.

Menurut riwayat dari Abdul Mutalib, "Ketika aku sedang berada di Ka'bah, tiba-tiba berhala jatuh dari tempatnya dan sujud kepada Allah. Lalu aku mendengar suara dari dinding Ka'bah berkata, 'Telah lahir nabi pilihan yang akan membinasakan orang kafir dan mensucikanku dari berhala-berhala ini dan akan memerintahkan penyembahan kepada Yang Mahamengetahui.'"

Selain peristiwa-peristiwa tersebut, di tempat yang lain terjadi pula peristiwa yang menakjubkan. Satu goncangan terjadi di istana Kisra dan menyebabkan istana tersebut retak, manakala empat belas tiang penyangganya runtuh. Hal ini merupakan satu di antara tanda-tanda keruntuhan kerajaan tersebut.

Juga, api di negara Parsi yang tidak pernah padam hampir selama seribu tahun telah padam dengan sendirinya. Api tersebut merupakan api sembahan orang-orang Majusi yang dianggap sebagai tuhan. Peristiwa itu amat mengejutkan orang Parsi.

Dalam waktu yang sama, pada malam kelahiran Nabi, Tasik Sava yang dianggap suci tenggelam ke dalam tanah.

Setelah beliau lahir, tembakan bintang menjadi sering sebagai tanda bahwa pengetahuan iblis dan jin tentang perkara ghib sudah tamat.

Dalam riwayat yang sahih dan masyhur, ketika beliau Nabi diasuh oleh ibu susunya yaitu Halimatus Sa'diyah, ladang-ladang Halimah kembali menghijau setelah mengalami kemarau.

Begitu juga binatang-binatang ternaknya seperti kambing mengeluarkan susu yang banyak. Selain itu, Nabi tidak pernah diganggu walaupun oleh seekor lalat termasuk juga pakaian beliau.

Halimah dan suaminya juga beberapa kali melihat gumpalan awan kecil di atas kepala Nabi melindungi beliau dari panas matahari.

Ketika berusia empat tahun, saat beliau sedang bermain-main dengan saudara susuannya, tiba-tiba datang dua malaikat mendekati beliau yaitu malaikat Jibril dan Mika'il.

Kedua malaikat itu lalu membelah dada beliau dan mengeluarkan segumpal darah dan mencuci gumpalan darah itu dengan salju. Ada yang meriwayatkan bahwa gumpalan darah itu dicuci di dalam bejana emas dengan air zam-zam, lalu diletakkan kembali di tempatnya semula.

Hal ini jelas sebagaimana diterangkan dalam surah Al-insyirah ayat 1: "Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (wahai Muhammad)?"

Berdasarkan peristiwa tersebut jelaslah kelahiran Nabi Muhammad saw mempunyai keistimewaan tersendiri. Ini karena beliau adalah khatamul-anbiya, penutup para nabi.

Kejadian-kejadian luar biasa ini telah membuktikan kepada kita kemuliaan beliau di sisi Allah, sekaligus sebagai bukti kerasulannya.

Di samping bukti-bukti tersebut dijelaskan pula di dalam kitab-kitab terdahulu seperti Taurat, Zabur dan Injil tentang beliau sebagai rasul yang terakhir.

* Anisah Bahyah Hj Ahmad, pengajar di Kolej Poly-Tech MARA, Batu Pahat, Johor, Malaysia. Artikel ini diadaptasi dari sebuah tulisan Anisah di milis myMasjid. Didownload pada 19 Maret 2008

Minggu, Maret 09, 2008

Ajal

AKU hampir mati. Benar. Saat ini aku hampir mati. Ajal itu sungguh benar telah begitu dekat adanya.

Namun, meski begitu dekat-yang tidak dapat kutampik lagi kehadirannya, serasa sulit sekali kumenjangkaunya. Setiap kali kucoba merengkuhnya-yang bahkan kini tepat di sisiku, tak pernah juga kumampu melakukannya. Hingga yang kurasakan adalah semacam siksaan yang kembali dam kian mencekamku. Nafas yang tercekat di tenggorokan. Tubuh yang begitu kaku tak dapat kugerakkan satu bagian pun. Suara pun terbungkam kebisuan. Hanya mataku yang terbelalak nanar-dan tak bisa kukatupkan barang sejenak. Aku tak bisa menyahuti suara-suara di sekelilingku yang jelas-jelas kudengar menuntunku untuk "menyebut-nyebut" nama Tuhan. Lidahku benar-benar kelu. Benar-benar kaku.

Kematian sejatinya adalah puncak dari segala hal, segala ritual dan pencapaian kehidupan. Ia takkanlah datang sebelum kita merampungkan segalanya di dunia ini. Kematian adalah batas kesempurnaan hidup.

Lalu, apakah benar hidupku belum sempurna? Apakah benar hidupku belum seharusnya selesai sat ini? Tapi, kenapa pula ia menampakkan diri sekarang? Kenapa Ajal itu hadir di sini sekarang?

Tapi, kalau kuhitung-hitung, hampir semuanya juga telah kujalani dan kurengkuhi. Aku telah melewati masa kanak-kanakku. Masa remaja. Bersekolah. Meniti karir dan mendapatkan banyak pencapaian. Pekerjaanku sebagai seorang penulis, selalu kujalani dengan sunggguh-sungguh dan sempurna. Tulisan-tulisanku, yang bertebaran di banyak koran, majalah, jurnal, situs, milis dan buku, hampir selalu diterima orang dan seringkali juga menjadi bahan rujukan dan kutipan. Aku pun telah berkelana melanglangi negeri-negeri yang jauh. Eropa. Afrika. Aku tidaklah mempunyai masalah dengan orang-orang. Bahkan aku mempunyai banyak teman. Orang-orang pun mengenalku sebagai orang baik-baik. Kalau toh sesekali ada satu-dua orang yang berseberangan denganku, tak pernah juga terjadi "kekerasan". Aku menghormati mereka dan mereka pun menghormatiku. Berkeluarga…?? Aku pun mempunyai istri dan anak yang begitu mencintaiku dan juga kucintai, meski mereka kini tak bersamaku lagi (istriku telah mendahuluiku mati, dan anakku satu-satunya telah pergi pula menjalani kehidupannya sendiri bersama suami dan anak-anaknya di negeri lain).

Atau karena aku tidak bahagia? Ah, siapa bilang? Aku selama ini menikmati apa yang kujalani. Dan aku sungguh berusaha menjalani apa yang dapat kunikmati. Apa itu tidak bahagia? Kalaupun aku tidak bahagia, toh kebahagian-dan ketidakbahagiaan atau kesedihan-adalah seperti musim di mana panas dan hujan datang silih berganti. Dan boleh saja akhir musim adalah hujan bukan, meski awalnya adalah panas? Ataukah itu harus kembali kepada panas?

Tapi, aku pun, sebagai manusia, terlahir tanpa rasa bahagia dan juga tanpa rasa sedih. Aku lahir, tiba-tiba saja aku lahir. Hingga aku tumbuh, dan tiba-tiba kebahagian dan kesedihan itu mulai menghampiriku.

Atau… karena aku masih memiliki dan memendam perasaan-perasaan itu-kebahagian dan kesedihan? Tapi bagaimana caranya?

Ah, sungguh benar Ajal itu nyata kini di dekatku. Tapi kenapa aku tak kuasa juga menjamahnya? Padahal aku pun sudah lelah dan letih-dan begitu sakit-dengan siksaan-siksaan yang kurasakan…

Aku ingin berteriak saja. Aku ingin bangkit saja dan berlari sejauh-jauhnya. Biarlah Ajal kucampakkan saja di sini. Jika benar memang sekarang bukan, ataupun belum saatnya aku mati.

Tapi… aakh!!!

Ataukah karena Tuhan?

Ya, selama ini aku memang telah mengabaikan Tuhan. Hampir dalam separuh hidupku yang terakhir kujalani hingga saat ini, aku telah meninggalkan-Nya. Tapi, tunggu dulu. Tunggu…

Aku memang telah mengabaikan Tuhan bahkan telah meninggalkan-Nya. Tapi bukan berarti aku menafikan, aku menolak eksistensi-Nya. Tidak. Aku bukanlah orang yang percaya bahwa kehidupan ini ada dengan sendirinya. Buktinya, tak pernah sekalipun kulihat batu tiba-tiba saja berubah menjadi air-kalau memang kehidupan ini ada dengan sendirinya, hal ini wajar-wajar saja, toh? Aku pun bukanlah orang yang tidak percaya bahwa Tuhan itu mahaesa. Tuhan ada. Tuhan esa. Aku percaya. Sangat percaya.

Aku meninggalkan Tuhan, karena aku memang merasa tidak mampu mencapai-Nya. Aku meninggalkan beragama, karena aku tidak pernah dapat bisa beragama, tidak pernah mampu menjalani syariat-syariat1nya yang tidak pernah dapat kupahami.

Inilah mungkin persoalanku, dan persoalan mengapa Ajal seperti enggan terhadapku.

Orangtuaku bukanlah orang-orang yang buta soal agama, bukanlah orang-orang yang tak mengenal Tuhan. Bahkan emakku sendirilah yang mengajariku mengaji kitab suci dan menuntunku tatacara bersembahyang.

Bapakku pun dikenal sebagai orang alim2. Atau kyai. Bahkan salah satu adikku ada pula yang mewarisi kealimannya. Adikku, si Yusuf. Bahkan nampak ia lebih alim daripada Abah3. Si Yusuf temanku berdiskusi soal Tuhan dan agama. Meski selalu saja kami berseberangan paham. Namun ia pun tak pernah jemu pula mengajakku berbicara soal Tuhan-sekarang pun, yang terus membisikiku untuk "menyebut-nyebut" nama Tuhan, adalah Yusuf pula.

Tapi jangan disangka pula aku tak pernah belajar agama-seperti si Yusuf. Bahkan aku telah menghatamkan berkali-kali mengaji kitab suci, di mana yang pertama adalah sebelum aku menghatamkan pendidikanku di sekolah dasar. Aku bahkan hafal tatacara sembahyang (tentu saja dengan segala ucapan dan doa-doanya) dua tahun sebelum aku menghatamkan kitab suci, kali yang pertama tersebut. Aku pun telah mengaji kitab-kitab agama lainnya, kitab-kitab tauhid4 terutama.

Entahlah, apakah mungkin karena aku diciptakan dengan otak yang terlalu sempurna, hingga aku tak pernah dapat memahami Tuhan dan agama-Nya? Karena, semakin aku berusaha memahami Tuhan, semakin aku memikirkan-Nya, semakin aku tak (bisa) memahami-Nya. Tentang wujud. Tentang kekuasaan. Tentang kehendak. Tentang neraka. Tentang "kun fayakun5". Tentang sembahyang. Tentang manusia itu sendiri. Tentang aku. Tentang semua!

Bertahun-tahun, sejak mula kali aku belajar tentang Tuhan dan agama, aku selalu saja digelisahkan oleh pertanyaan-pertanyaan itu. Dan jawaban-jawaban yang kuterima pun selalu saja tak dapat memuaskan otakku. Termasuk jawaban-jawaban dari Yusuf.

Tapi benar. Aku tak pernah menolak eksistensi-Nya. Meski kemudian aku benar-benar meninggalkan-Nya. Hingga kini, ia tiba-tiba kembali mengusikku.

Yusuf pernah berkata bahwa kematian adalah sama juga kembali kepada Tuhan. Meski ia pun tidak menggugat pendapatku tentang kematian adalah puncak kesempurnaan hidup itu. Dan soal yang Yusuf katakan ini, aku pun sedikit banyak bersepaham.

Pertama, Tuhan memang ada. Itu mutlak.

Kedua, alam, manusia, kehidupan ini, tidaklah tercipta dengan sendirinya.

Tapi, kembali untuk surga dan neraka?

Ah!!

Ajal itu sungguh dekat sekali denganku. Tapi sungguh ia pun terasa sangat jauh. Jauh. Sementara nama Tuhan pun hanya berputar-putar di bibir Yusuf, tak dapat juga berpindah dan menggerakkan lidahku.

* * *

"KAMU memang salah. Kamu memang keliru dengan meninggalkan Tuhan selama ini."

Nafasku tiba-tiba terasa terhenti. Tenggorokanku serasa benar-benar tercekat. Tiba-tiba sang Ajal berbicara kepadaku.

"Tapi…" Ah, tiba-tiba saja suaraku pun dapat keluar. Meski itu pun hanya dapat didengar olehku sendiri dan sang Ajal. Sementara Yusuf dan orang-orang lainnya yang berada di sekitarku, tak dapat mendengar suaraku-dan juga suara sang Ajal yang mana wujudnya pun hanya aku yang dapat melihatnya. Ini nampak dari raut wajah dan sikap mereka yang sama sekali tak ada perubahan.

"Ya, kau keliru. Kau munafik dengan meninggalkan-Nya selama ini," sang Ajal kembali berbicara. "Kau hanya berpura-pura mengakui eksistensi-Nya. Padahal sebenarnya pikiranmu, Ia telah tidak ada sama sekali.

"Siapapun yang mengakui keberadaan-Nya, pasti akan mengimani-Nya, akan menjalankan apa-apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa-apa yang dilarang-Nya.

"Sementara kamu..? Ah. Sembahyang pun tak pernah. Bahkan sekedar mengingat-Nya di dalam hatimu."

"Tapi aku mempercayai-Nya? Aku mempercayai pula bahwa hidup ini, alam ini, adalah ciptaan-Nya, adalah milik-Nya. Dan segalanya bakal kembali pada-Nya."

"Omong kosong!" sang Ajal menghardikku dengan tatapan yang penuh amarah. Benar-benar meremukkan persendianku.

"Kamu tak pernah mempercayai-Nya!"

"Baiklah. Kalau saja kau bisa menjelaskan segalanya padaku…" Tiba-tiba ada semacam keberanian yang menyeruak dari dalam hatiku. Tepatnya dari dalam kepalaku, dari dalam otakku. Letupan keputusasaan yang selama ini terpendam.

"Apalagi yang mesti kujelaskan? Bukankah selama ini kau telah membacanya, kau telah memahaminya dari semua yang Ia paparkan padamu?"

"Justeru karena selama ini pemahaman yang Ia berikan tak pernah bisa bersepaham dengan pemahamanku."

"Tentang apa? Neraka? Takdir? Agama?"

"Semuanya. Semuanya tak pernah dapat kupahami."

"Aku kasihan padamu, Anak Adam. Ternyata otak yang dianugerahkan-Nya padamu, tak pernah kau gunakan."

"Tapi selama ini aku mencoba memahami-Nya dengan otakku pula? Bahkan seluruh daya otakku telah aku gunakan untuk memahami-Nya?"

"Tapi kau mengendalikan otakmu hanya dengan hawa nafsumu.

"Kau tak pernah menggunakan otakmu dengan nuranimu, dengan hatimu. Kalau toh kau menggunakan hatimu, tapi hatimu telah dikuasai pula oleh hawa nafsumu." Sang Ajal menjeda ucapannya. "Tapi baiklah. Aku memang diperintahkan oleh-Nya untuk dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadaku. Aku diperintahkan untuk mengingatkan dan menuntun kembali semua makhluk untuk mentafakuri-Nya, untuk dapat memahami-Nya.

"Tapi, sebelum aku menjelaskannya, aku ingin bertanya dulu kepadamu. Apa sebenarnya yang kau maknai tentang hidup ini?"

Ada semacam pukulan yang kurasakan telak menghantam tepat di ulu hatiku. Justeru selama inilah pertanyaan ini yang selalu mengganjal di hatiku. Kini, tiba-tiba pertanyaan itu ditujukan padaku. Tapi belum lagi aku menyahutinya…

"Aku tahu kau pasti tidak dapat menjawabnya." Sang Ajal terkekeh. "Memang rumit." Ia mencibirku.

"Baiklah. Mungkin dapat kusederhanakan, apa yang telah Tuhan berikan padamu untuk menjalani kehidupan ini? Ya… kau percaya Ia itu ada, kan?" sang Ajal seperti mengejekku.

Namun, lagi-lagi, belum juga aku menyahutinya, ia telah menimpaliku, "Benar, Tuhan telah memberkatimu dengan otak, hati dan hawa nafsu. Anugerah-anugerah yang sungguh besar, yang tidaklah Ia berikan pada makhluk-makhluk lain yang lebih dulu diciptakan-Nya. Termasuk malaikat."

"Lalu, apa yang telah kau lakukan dengan anugerah-anugerah itu? Apa yang telah kau dapatkan dengan anugerah-anugerah itu? Kau percaya Tuhan itu ada, kan?" sang Ajal kembali mengejekku. Benar. Sang Ajal benar-benar mengejekku sekarang.

"Tapi kenapa harus ada neraka? Kenapa bukan surga saja yang Ia ciptakan? Atau tak perlu juga ada semua itu…?" Aku menatap sang Ajal tajam.

"Kau sungguh memang tak pernah menerima eksistensi-Nya. Dasar munafik!" kembali sang Ajal menyeringai marah. "Neraka dan surga Ia ciptakan karena Ia ciptakan otak buat kalian."

"Tapi untuk apa kami diberi otak, diberi iradat6, jika segala keputusan tetap saja Ia yang mengendalikan??? Arogan!"

"Soal segala keputusan ada pada kekuasaan-Nya, itu memang benar. Tapi, Dia arogan? Kamu keliru. Benar-benar keliru. Meski jika saja Ia arogan, itu pun adalah hak-Nya. Karena Ia memang mahamutlak.

"Gunakan otakmu, dong! Justeru dengan Ia tak menciptakan neraka, itu berarti benar bahwa Ia arogan. Toh segala keputusan yang Ia ambil pun sejatinya adalah keadilan-keadilan. Coba sebutkan satu hal saja yang Ia putuskan yang tidak merupakan keadilan?

"Kalian diberi otak sebagai anugerah kekuasaan yang tidak diberikan pada makhluk lain. Anugerah untuk berkehendak. Namun, kewajiban kalian pula untuk mempertanggungjawabkan kekuasaan itu, bahwa Tuhan telah memberikan aturan ini-itu yang akan kalian terima ataupun tinggalkan. Tuhan mahaadil, kan?

"Dan kalian diberi otak, akal, diberi kekuasaan, diberi iradat, bukan untuk lepas dari takdir-Nya. Tapi justeru untuk bisa benar-benar masuk ke dalam takdir-Nya. Ia ciptakan neraka-dan juga surga, sebagai kompensasi atas kekuasaan dan iradat kalian itu. Neraka dan surga adalah wujud kemahaadilan-Nya. Jia Ia tak menciptakan surga dan neraka, berarti Ia menolak apa yang Ia ciptakan sendiri."

"Berarti Ia tidak mahamutlak dong? Kekuasaan dan iradat-Nya tidak mutlak, karena telah diberikan pada kami pula?"

"Ha ha ha…" sang Ajal terkekeh. "Manusia, kamu jangan terlalu picik dan bodoh dengan berpikir demikian. Kekuasaan dan iradat diberikan pada kalian adalah sebatas kekuasaan dan iradat untuk mencapai takdir-Nya. Sedang kekuasaan dan iradat yang dimiliki-Nya tidaklah terbatas pada apapun. Ia telah ada sebelum semuanya ada. Ia mutlak di luar kefanaan dan keterbatasan segala sesuatu."

"Lalu, 'kun fayakun'? Apa itu bukan sebuah wujud arogansi? Dan juga sembahyang?"

"Sekali lagi manusia, kemutlakan adalah milik-Nya semata. Itulah hakekat dari kemahaesaan-Nya. Jika kau meragukan 'kun fayakun'-Nya, lalu apa pula yang selama ini kau yakini sebagai kemahaesaan-Nya? Kau katakan kau percaya Ia mahaesa, kan?"

"Mahaesa karena Ia harus mahaesa."

"Benar, tapi atas dasar apa? Kalau Ia tidak bisa ber-'kun fayakun', berarti Ia tidak mahamutlak, Ia tidak mahaesa. Ia ada yang menguasai."

"Tapi itu bertentangan dengan prinsip penciptaan akal, surga serta neraka seperti yang kau bilang dong?"

"Prinsip yang mana? Kekuasaan dan iradat kalian?"

"Kemahaadilan-Nya!"

"Kun fayakun tidaklah bertentangan dengan prinsip apapun. Justeru semua prinsip berakar padanya. Adanya kekuasaan kalian, adanya kehidupan ini, adanya surga dan neraka …

"Sembahyang sendiri adalah wujud kemutlakan kekuasaan dan iradat-Nya.

"Bagaimana kau bisa membuat orang lain memahami pikiranmu tanpa dengan kau menuliskannya?"

"Tapi itu tak harus dengan sembahyang, bukan?"

"Benar. Bagi kamu, tanpa menulis pun kamu tetap akan menjadi penulis karena kau memang bisa melakukannya. Begitu pun bagi seorang pelukis, ia tak harus melukis untuk menjadi pelukis, jika ia benar bisa melakukannya. Tapi bagi orang-orang lain? Mereka membutuhkan wujud nyata untuk mengetahui eksistensi sesuatu, untuk mengetahui kebenarannya.

"Tuhan tetaplah Tuhan tanpa kalian harus bersembahyang pada-Nya. Tapi kalian membutuhkan sembahyang untuk bisa menggapai eksistensi-Nya sebagai diri-Nya."

Sang Ajal terdiam. Agak lama. Seperti memberiku tawaran. Hingga…

"Baiklah. Sekarang, terserah kamu untuk tetap bersikukuh dengan pemahamanmu, atau kembali akan menerima kekuasan-Nya, menerima eksistensi-Nya.

"Yang jelas aku telah memperingatkanmu. Dan waktuku sudah habis.

"Aku hanya sekali saja diperintahkan untuk menjemputmu. Sekali ini, dan aku takkan kembali lagi. Tugasku tak bisa diulur-ulur. Tugasku tak bisa ditawar-tawar.

"Soal nanti kau akan protes kembali, itu nanti pada saat mahkamah-Nya digelar.

"Aku harus segera membawamu. Membawamu kembali pada-Nya. Entah kau akan menolak-Nya. Entah Ia akan menolakmu."

Dan lanskap pun gelap. Yusuf dan semua yang ada di sekelilingku tak lagi dapat kulihat. Semua suara tak dapat lagi kudengar.

Hanya kini aku dan sang Ajal, yang kemudian membawaku pergi kembali pada Tuhan. Tuhan yang memang tak pernah tiada.

______________

1 syariat = ajaran; tuntunan; peraturan
2 alim = pandai serta taat beragama
3 abah = ayah; bapak
4 tauhid = keilahian
5 kun fayakun = wewenang Tuhan untuk mengadakan-dan meniadakan-segala sesuatu dengan seketika dan tiba-tiba, dengan semau sendiri-Nya (lih. antara lain: Alqur`an 36:82)
6 iradat = kemampuan dan kekuasaan untuk berkehendak

Selasa, Maret 04, 2008

Surat (Lama) dari Ibu

melihatmu tumbuh dewasa
adalah semacam
menelan pil pahit
aku tahu aku akan
bahagia
namun aku pun harus
menahan kepedihan
bahwa aku telah kehilangan
anak semata wayangku
bocah yang tangisannya
tak pernah membuatku
sedih
–karena kau selalu
terlelap kemudian di pelukanku
tapi bunga memang harus mekar
burung memang harus terbang
dari sarangnya
musim memang harus berganti
maka
pergilah anakku
gapai bintang kejoramu
gapai matahari jinggamu yang
kerapkali kau ceritakan di saat-saat senja
yang kerapkali kau gumamkan saat lelap malam
hingga, saat kau mempunyai
buah hati nanti
kau pun kan tahu
bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
saat kau melihat burung kecilmu itu
mulai belajar meniti dan menuruni
ranting pepohonan
bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
saat kau melihat bunga kecilmu
mulai mengembangkan kelopaknya
bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
saat musim panasmu
tak lekas berganti hujan
karena kau belum siap
karena kau memang tak pernah siap
menggigil karena tak ada teriknya
kamu pasti kan tahu anakku
pasti

2007/2008