Maklumat

Khusus untuk konten-konten sastra seperti puisi, cerpen dan esai silahkan kunjungi http://blog.edelweis-art.com. Terima kasih (Penulis)

Kamis, Mei 31, 2007

P E R G I


dan seperti air
biarkan cinta mengalir
mengembara
bebas
mencari muaranya

KEMBALI, perempuan itu menghela nafasnya. Begitu dalam dan berat. Mencoba menyingkirkan gundah yang meresah, yang mengganjal di hatinya, menyekat segala vitalitasnya. Namun, kembali, iapun tak kuasa. Semakin ia mencoba, semakin kuat gundah itu meresah, semakin kuat gundah itu mengganjal. Hanya keperihanlah yang akhirnya, kembali, menghujami hatinya, menyayat–nyayat perasaannya.

Ya, haruskah aku pergi? Masih ada artinyakah aku menemui Yuda?

Perempuan itu beranjak dari duduknya di tepian ranjang, menuju jendela kamarnya yang masih terbuka. Ditebarkannya pandangan ke hamparan langit yang meluas sepi. Tanpa bintang. Tanpa bulan. Hanya terwarnai kegelapan. Kegelapan yang begitu pekat. Seperti kehidupannya yang dirasanya tanpa sinar. Hampa tanpa asa. Hanya keragu-raguan dan kegamangan yang selalu menyelimuti. Entah sampai kapan.

Sekian lama ia pandangi lanskap kelam itu. Mengembarai sudut demi sudut.

Sekali lagi, perempuan itu menghela nafasnya, sebelum akhirnya, meninggalkan jendela.

* * *

“MAAFKAN aku, Yud. Tapi memang itulah kenyataannya. Sungguh aku tak bisa merindukanmu lagi, Yud.” Akhirnya kalimat itu terucap juga dari mulutnya, dari mulut perempuan itu. Elma. Setelah sekian lama hanya menggantung-gantung di benaknya. Menjadi beban segala langkah kehidupannya. Ada kelegaan namun juga rasa bersalah yang mendalam yang terlintas dari matanya yang kini lekat menatap Yuda, lelaki di depannya yang telah sekian lama bersamanya menyusuri jalanan kehidupan yang panjang, terjal dan penuh liku. Lelaki yang pernah menjadi bagian dari sejarah hidupnya, memberinya warna dan arti yang tidak sedikit.

Namun Yuda masih diam. Lelaki itu masih juga tidak berkata-kata. Ia masih terpaku di depan lukisan yang tergantung di dinding beranda depan rumahnya. Lukisan sepasang merpati yang terbang melintas di bawah awan pada lanskap langit merah. Lukisan yang diterimanya dua tahun silam. Lukisan yang terkirim bersama sebuah puisi yang ditulis perempuan yang datang dari tempatnya yang jauh kini di Eropa itu pada sebuah surat putih, untuknya:



dan seperti air
biarkan cinta mengalir
mengembara
bebas
mencari muaranya

Sekian lama ia terpaku memandangi lukisan itu, menelusuri garis demi garis di sana. Begitu lekat, seperti mengeja sesuatu.

Sesaat, iapun membalikkan tubuhnya menatap Elma yang terduduk. Namun ia masih juga diam.

“Aku tahu kau begitu terluka. Toh aku pun merasakan keperihan yang sama.

“Jangan katakan aku tak pernah tulus mencintaimu. Bahkan bertahun-tahun, sejak kita belajar tentang kehidupan di sekolah hingga kita benar-benar menjalani kehidupan itu, kaulah lelaki yang selalu mengisi mimpi-mimpiku, menjadi teman, tema dan inspirasi. Meski pada akhirnya, rasa itu pun memendar…

I don`t know why. Tapi, …. Itulah kenyataannya.

“Namun aku pun tak pernah bermaksud menghianatimu. Menafikan cintamu. Toh, betapapun sakitnya aku mempertahankan perasaan itu, aku tak pernah ingin melepasnya.

“Tiga tahun aku lalui hari-hari dalam kegamangan. Tanpa perasaan. Tanpa kepastian. Sampai akhirnya kuputuskan untuk menulis puisi itu, mengirimkan lukisan itu padamu.

“Aku lelah. Aku telah lelah. Aku tak bisa lagi terus lari dan sembunyi.

“Maafan aku, Yud.” Elma menundukkan wajahnya, Sementara Yuda masih saja diam.

Lelaki itu melempar pandangannya. Ke kebiruan langit yang mulai temaram.

Suasana kembali hening. Hanya angin yang mendesah lirih dari pepohonan di halaman yang sesekali menghampiri, menyapu wajah mereka dan menggeraikan rambut panjang Elma yang dibiarkan tanpa ikatan, seolah memahami betapa pelik-rumit persoalan yang sedang mereka hadapi.

“Lalu, untuk apa kau kembali?” Yuda kembali menatap Elma.

“Asti.”

“Asti?”

“Ya, rekanan kamu. Dua bulan lalu dia ke Den Haag, kan mengikuti sebuah seminar ekologi?

“Aku pun di sana saat itu, untuk sebuah pameran lukisan pada kampanye antieksploitasi satwa Greenpeace. Kau tahu, kan kini satwa banyak dieksploitasi, diperdagangkan hanya atas nilai keuntungan materi, tak dipedulikan lagi apakah satwa-satwa itu tersakiti atau tidak?”

“Asti telah menceritakan segalanya, Yud. Kebetulan kami menginap pada hotel yang sama, pada kamar yang saling bersebelahan.

“Segalanya, Yud. Tentang keterpurukanmu, ….

I`m sorry. Please, be brave.

Yuda menghela nafas. “Elma, … Entahlah. Aku memang begitu terpukul. Kepergianmu yang tiba-tiba, begitu menyentakku. Toh kuakui itu pun adalah salahku. Aku telah menyia-nyiakanmu. Menelantarkan cintamu. Aku hanya memikirkan urusanku. Hanya mementingkan pekerjaan, mementingkan organisasi, proyek, … Aku hanya mementingkan diriku sendiri. Hingga kaupun jenuh. Bosan. Kecewa. Dan ketika aku menyadari betapa berartinya dirimu dalam hidupku, kau telah memutuskan `tuk pergi.

“Memang akulah yang bersalah, El. Namun, bagaimanapun, bahwa benih cinta yang telah kau semai, tenyata kini bertunas bahkan berakar kuat di hatiku. Kalau akhirnya kau tak bisa mencintaiku, but, please, mulai sekarang mulailah untuk bisa mencintaiku. Setidaknya, karena ada benih yang sama yang pernah tumbuh pula di hatimu. Meski itu kering. Meski itu layu. Percayalah, dengan kau setia merawatnya, memupuknya, lambat laun benih itu pun akan tumbuh kembali.”

If I could, Yud. But, it`s over!

“Benih itu telah mati dan, bagaimanapun, tidak mungkin lagi untuk kita pertahankan.”

No, Yud.” Elma menggelengkan kepalanya. “Please, jangan kau paksa aku `tuk memilih sesuatu yang tidak pernah aku mengerti.” Elma terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara dari sudut-sudut matanya, mulai mengalir bulir-bulir bening membasahi kedua pipinya.

Yuda mendesah. “Apakah ada benih lain yang telah tumbuh di hatimu?”

Elma mengangguk. Meski ragu. “Maafkan, Yud. Aku tidak ingin mengulang kesalahan `tuk yang kedua kali. Aku tak ingin melukai satu hati lagi!”

Yuda memejamkan matanya, mencoba menghalau perih yang semakin menusuk-nusuk hatinya.

Hening kembali menyela.

“Entahlah, El. Mungkin ini yang dinamakan karma.

“Aku masih sayang kamu. Dan aku pun yakin kau masih sayang padaku. Aku yakin benih itu belum mati.” Yuda menjeda kata-katanya. Diraihnya tangan Elma. Digenggamnya erat.

“Pergilah, kalau memang itu yang kau pikir terbaik. Terbanglah, kemanapun kau ingin terbang. Dan, jika kepakan sayapmu telah lelah, kembalilah. Sebelum mentari tenggelam. Sebelum gelap menghadang.

“Terbanglah tinggi. Pergilah. Kembalilah. Jika kau telah lelah!”

Yuda melepas tangan Elma dari genggamannya. Melepas segala ikatan yang pernah ia berikan pada perempuan itu. Segala cinta. Segala asa. Membiarkannya kembali bebas mengembara, mengarungi angkasa luas kehidupan. Toh iapun yakin, merpatinya itu pun `kan kembali pulang padanya. Seperti keyakinannnya pada matahari yang `kan kembali terbit esok hari.

Angin membeku di ambang senja yang menyemburatkan jingga di tepian barat cakrawala. Sepasang walet melintas, berkejaran, terus jauh ke utara.

Perempuan itu, masih terpaku.

* * *

JAM berdentang dua kali. Waktu telah beranjak dini.

Dari jendela kamarnya, perempuan itu, Elma, kembali ke tepian ranjang.

Diambilnya travel bag yang tergeletak di atas ranjang yang telah diisinya dengan setumpuk pakaian. Dipangkunya benda hitam itu.

Lima tahun sudah sejak kepulangannya ke Tanah Air, menemui Yuda.

Lima tahun yang penuh dengan pengembaraan-pengembaraan. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu hati ke hati lain. Dari satu lelaki ke lelaki lain. Namun, semuanya pun sama. Semua hanya menyisakan persoalan-persoalan. Kekecewaan. Hingga, ia pun lelah.

Tiba-tiba ia menyesali keputusannya. Tiba-tiba ia merasa rindu pada lelaki itu. Tiba-tiba ia merasakan arti kehadiran lelaki itu dalam hidupnya.

“Dan, jika kepakan sayapmu telah lelah, kembalilah.”

Kini ia benar-benar lelah. Namun, mungkinkah ia kembali?

Lima tahu sudah ia tinggalkan lelaki itu. Tanpa kabar apapun. Tanpa berita apapun. Tak ada surat. Tak ada telpon. Tak ada e-mail. Tak ada apapun yang ia kirimkan pada lelaki itu. Sementara surat-surat, deringan telpon dan e-mail dari lelaki itu, terus datang dan datang.

Ya, mungkinkah ia kembali?

Elma menarik nafas dalam-dalam. Sesayat luka kembali tergores di hatinya. Mengucurkan perih yang terus saja membasahi kalbunya.

Diturunkannya travel bag dari pangkuannya. Diletakkannya di atas lantai. Akhirnya, iapun merebahkan diri. Dan memejamkan mata. Membiarkan jendela kamarnya terus terbuka.

Di atas meja, tergeletak sebuah tiket penerbangan Roma – Jakarta. Dan di sampingnya, sebuah undangan baru nampak terbuka. Undangan perkawinan, dari Yuda.

PUISI CINTA

kau permata
kau batu
kau tugu
yang selalu menjulang tegar
yang selalu bersinar cerlang
di hamparan musim-musim
aku hanya penziarah
yang mabuk kepayang
oleh kilauanmu
haruskah kau terus diam
membisu
membekukanku dalam tabung
waktu

pro Anggit


ANGGIT terbelalak. Matanya menyorot merah, marah, menatap baris-baris kata di lembaran mading sekolahnya yang terpajang di boks kaca di dinding samping perpustakaan.

Dua kali sudah--dalam seminggu ini, puisi gila nongol di mading yang ditujukan untuknya.

Iapun bergegas, kembali ke kelasnya. Dan ...

Brakk!!

Dibantingnya pintu keras-keras, mengejutkan teman-teman gengnya: Wiwit, Esy, Maf dan Sophie yang lagi ngumpul di kelas, juga beberapa siswa lainnya, termasuk seorang cowok kerempeng yang lagi asyik menyelami Mimpi-mimpi Einstein di bangkunya di pojok ruangan. Sontak, cowok itu melongokkan kepalanya yang tersembunyi di balik bukunya Alan Lightman itu. Namun iapun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum-senyum saat tahu itu adalah ulah si Xena, Anggit. Iapun kembali membenamkan kepalanya, kembali menghanyutkan konsentrasinya ke dalam arus narasi novel sci-fi itu.

"Gila. Dasar gila!" Anggit menyeringai sembari terus melangkah ke tempat duduknya di depan meja guru.

Wiwit dan Sophie menghampiri. Begitu pun Maf dan Esy.

"Ada apa, Git? Datang-datang ngeraung kayak singa kelaparan aja lo.

"Tenang dikit kenapa sih?" Wiwit langsung nerocosin Anggit sembari tanpa permisi nongkrongin diri di samping Anggit.

"Bodo. Dia emang gila. Gila!

"Dia pikir gue siapa sih? Seenaknya aja nulis-nulis puisi buat gue di mading. Tanpa nyebutin diri lagi."

"O.. itu to." Esy mengangguk-anggukkan kepalanya.

"O.. itu to," Anggit mencibir.

"Pokoknya gue `gak terima," Anggit kembali ngotot, "Awas, kalo tahu orangnya, bakal gue cincang abis dia!"

"Ih.. atut! Sadis amat, Nek. Nggak usah dicincang, Git. Potong dua aja. Kepala ama tubuh. Kalo pas cakep, kan kepalanya bisa buat gue, biar dipajang di kamar." Wiwit kembali nerocos.

Anggit melotot.

Wiwit-pun cengengesan. begitu pun Sophie, Esy dan Maf. Juga cowok kerempeng di pojokan yang diam-diam nguping, membuat Anggit semakin mendelik.

* * *

"SELAMAT, Git! Elo dapat lagi."

"Apaan?"

"Tuh!" Esy menunjuk ke mading. Dan benar.

...

meski hancur terberai
tubuhku
namun rinduku
cintaku
`kan selalu untukmu
oh, bidadariku
kau memang bintang terang
yang selalu menyinari
setiap malamku

pro Anggit

Muka Anggit nampak memerah. Cairan di kepalanya kembali mendidih.

"Eh, tapi gue tahu kok, Git, siapa penyair sableng itu. Kemarin, kan gue pinjam buku catatan ama Anto. Eh, pas gue bolak-balikin isinya, gue dapatin coretan-coretan, puisi-puisi ini." Esy kembali menunjuk mading.

Anggit-pun membelalakkan matanya. Menatap tajam kepada Esy. Begitu pun Wiwit, Maf dan Sophie yang ikut-ikutan surprised.

"Elo jangan bohong, ya?" Anggit menudingkan telunjuknya ke muka Esy.

"Swear deh. Abis kalo bukan dia, siapa lagi?" Esy mengangkat bahunya.

"Oke deh. Gue percaya aja ama elo." Anggit tersenyum. "Ya, sekarang gue mesti bikin pembalasan." Anggit lantas ngacir, bergegas mencari cowok yang dimaksud. Keruan Esy, Wiwit, Sophie dan Maf jadi saling pandang.

"Bakal ada perang Baratayuda nih!" celetuk Maf sembari menggerakkan kakinya, menguntit Anggit, diikuti yang lain.

* * *

DENGAN isi kepala yang hampir meledak, Anggit pergi ke kelasnya. Mencari manusia Adam yang telah berani-beraninya mempermain-mainkan dirinya di mading sekolah. Ia pengen minta pertanggungjawaban cowok itu!

Sementara Wiwit, Esy, Sophie dan Maf terus mengikuti dari belakang.

Di dalam kelas, Anggit mendapati sosok yang dicarinya, Anto, cowok kerempeng kepala suku II.1, lagi mojok di singgasananya. Sendirian dalam kelas, cowok itu asyik corat-coret di atas paper book-nya. Anggit-pun menghampiri dan, dengan suara altonya yang berguntur-guntur, Anggit menggertak cowok itu sembari kedua tangannya keras menggebrak meja.

"Bangun!"

Anto nampak terkejut. Namun, dengan cepat, ia bisa mnguasai diri. Dan, dengan tanpa menyadari dosanya sedikitpun, ia justeru nyengir pada Anggit. Lalu kembali memain-mainkan pulpennya.

Anggit semakin sewot. "Elo budek atau tuli sih? Bangun!" Anggit beringsut ke samping meja, merebut pulpen dan mencekal pundak Anto, menariknya ke atas. Mau tak mau Anto pun menurutinya. Ia nggak mau atasan bajunya sobek hanya lantaran egois pada cewek itu. No, terlalu mahal!

"Tenang dulu dong, Neng. Yang adem ngomongnya. Emang ada apa sih? Sekolah kita diserbu teroris?" sergah Anto sembari menepiskan tangan Anggit dari pundaknya.

"Teroris, teroris. Elo yang teroris."

"Lho, kok malah aku yang teroris?"

"Ah.., udah deh ngaku. Elo, kan yang corat-coret puisi-puisi itu?"

"Puisi-puisi ...?"

"Udah deh, `gak usah ngebego. Elo, kan penyair sinting itu?"

Anggit benar-benar murka pada Anto. Ia pengen segera ngasih pelajaran pada cowok yang kurang ajar itu. Ia mau cowok itu ngaku dan lantas ampun-ampunan minta maaf pada dirinya.

Namun Anto nggak langsung menjawab. Ia justeru membetulkan krah bajunya yang sempat acak-acakan oleh cengkraman Anggit. Membuat Anggit makin melototkan matanya.

Sementara teman-teman geng Anggit, nampak menahan-nahan nafas, mengikuti adegan demi adegan itu dari balik jendela kaca kelas. Mereka tahu betul gimana Anggit kalo udah murka. Jangankan Anto yang kerempeng. Pak Septo, guru Matematika yang kekar lagi killer pun, pernah keok diceramahin Anggit gara-gara keliru ngasih nilai PR-nya.

Cukup lama Anto diam. Membuat dag-dig-dug di dada Sophie cs kian kencang.

Namun, Anto pun kemudian menganggukkan kepalanya. Toh, bukannya minta maaf. Ia justeru balik tanya pada Anggit.

"So?" Kini balik Anto yang menatap Anggit. Ia pengen lihat seberapa murka cewek itu bakal maki-maki dirinya.

"Jadi..?" Gigi Anggit nampak gemeretak. Namun, tiba-tiba cewek itupun menubruk Anto, mendekapnya. Membuat Anto terlongo-longo. Begitu pun Sophie dan kawan-kawan.

"Ngomong dong yang jelas. He.. he.. he.. gue juga, sayang ama elo kok," ucap Anggit sembari terus mendekap Anto. Sontak, Anto melototkan matanya. Kian terlongo-longo. Sementara Anggit cuman cengar-cengir, terus mendekapnya. Namun, Anto pun kemudian balik mendekap Anggit.

Berputar-putar. Mengayun-ayunkan bidadari pujaannya itu., dan ... melepaskannya.

Ah, dasar cinta!

PUISI BUKANLAH "SPEECH ACT"

DALAM sebuah perbincangan SMS, seorang teman di Semarang yang telah lama ‘jatuh hati’ pada puisi—dan kerapkali pula intens mempelajari puisi—dengan begitu pesimistis mengeluh, kendati ia telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memahami (bahasa) puisi, tetap saja ia kerepotan untuk bisa mengerti apa yang dimaksudkan oleh puisi. Hingga puisi pun, baginya, tak lain memang adalah ‘makhluk aneh’ yang mungkin tidak harus ‘dipusingkan’ keberadaannya.


Ironis! Sungguh saya dapat membayangkan betapa ‘putus asa’-nya ia karena kebuntuan yang dialaminya itu.


Toh ini bukanlah satu-satunya keluhan tentang puisi yang pernah saya temui. Seperti kali lain pada sebuah acara pembacaan puisi yang dilakukan oleh “presiden” penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Seorang penonton, mahasiswa sebuah PTN terkemuka di Jakarta yang berada di sebelah saya, mencak-mencak karena dirinya merasa tidak mudeng dengan apa yang dibacakan sang “presiden”, hingga ia pun ngeloyor meninggalkan tempat padahal pembacaan-pembacaan puisi lainnya masih ngantri di belakang.


Sungguh ironis. Nasib puisi sungguh begitu ironis. Di saat ia mencoba menyuarakan simpati dan empatinya terhadap berbagai polemik dan persoalan kehidupan, lingkungan (orang-orang) seakan tidak pernah dapat mendengarkan suaranya itu, meski ia telah lantang mengeluarkan seluruh potensinya. Suara puisi tetap saja bisu dan sunyi di tengah hingar-bingar suara-suara lain.


Namun, benarkah itu memang karena kesalahan penyair (sebagai “agen” puisi) yang tidak pandai mempresentasikan puisi? Atau, jangan-jangan itu justeru karena kesalahan kita, audiens, yang tidak mampu menangkap dan memahami suara (baca: pesan) puisi?


Anyway, sebelum kita ‘memvonis’ siapa yang salah dalam hal ini, ada baiknya kita ulas kembali tentang apa sebenarnya puisi itu sendiri.


Sebagai karya sastra, sebagaimana diterangkan A. Teeuw dari Universitas Leiden (Belanda) dalam bukunya Sastra dan Ilmu Sastra, puisi bukanlah speech act (tindak tutur yang normal) di mana ambiguitas dalam situasi puisi justeru built-in; pemaknaan puisi diserahkan kepada pembaca dengan merujuk pada kata-kata teksnya. Dan kata-kata teks itu sendiri, merupakan suatu ikatan yang menyeluruh, atau dengan meminjam istilah Saini KM, puisi merupakan “organisasi kata”. Pemaknaan puisi adalah menyeluruh pada kata-kata yang ada. Jadi, tidak bisa kita mengartikan sebuah puisi dengan membaca satu bait—apalagi satu baris—nya saja. Dan, makna kata pada puisi sendiri bersifat khas, di mana satu kata pada sebuah puisi, akan dapat berbeda konotasi dan orientasinya pada puisi lainnnya. Seperti kata tuhan dalam Saksikan oleh-Mu, Tuhan-ku/Ombak yang pecah tak lagi merdu (Elegi Pantai Kuta, 121002; Furry Setya Raharja) dan dalam yang mutakhir adalah membunuh tuhan (Jakarta, bukan Kotaku; Apito Lahire), di mana tuhan pada puisi yang pertama jelas-jelas yang dimaksud adalah tuhan pada sejati-Nya, baik dzat maupun sifat-Nya, berbeda dengan tuhan pada puisi kedua yang hanya sebagai simbol dari keimanan dan atau rasa/sifat keilahian yang ada dalam hati.


Adapun mengenai ilmu atau kaidah kebahasaan yang sering juga dipersoalkan, itu pun memang harus dikuasai oleh penyair dalam mengelola puisinya. Namun demikian, kaidah kebahasaan di sini bukanlah pada soal penggunaan tanda baca ataupun pemakaian besar kecilnya huruf. Toh, bagaimanapun, puisi itu berbeda dengan prosa. Dalam hal ini, penyair dibebaskan untuk memilih bentuk puisinya apakah itu menggunakan titik atau tidak, memakai huruf besar atau kecil, dan sebagainya, yang dikenal sebagai licenciae poetica—atau ‘kebebasan kreatif’ menurut istilah Jamal T. Suryanata. Kaidah kebahasaan yang dimaksud mengarah pada kata-kata teksnya yang harus ‘membumi’ di mana secara nalar dapat dipahami artinya, tidak ngawang-awang, lepas dari konteks pemaknaan yang selama ini disepakati bersama. Kata-kata tersebut harus inklusif terhadap pemahaman bersama. Seperti saat menggunakan kata "angsa putih", maka konotasi ataupun orientasi maknanya harus mengacu kepada "seekor unggas berleher panjang dengan bulu-bulu tubuhnya berwarna putih …", bukannya hewan lain atau entah apa yang maknanya eksklusif hanya disepakati si penyair sendiri. Apalagi menggunakan kata-kata yang sama sekali tidak ada dalam kamus bahasa apapun kecuali kamus bahasa si penyair.


Namun demikian, aspek kebahasaan, seperti dikutip Teeuw dari seorang ahli puisi asal Inggris, Jonathan Culler dalam bukunya di atas, pun bukanlah yang pertama-tama menjadikan sebuah tulisan sebagai puisi, melainkan konvensi, type of reading (cara baca) yang
‘dipaksakan’ pada pembaca hingga pembaca paham bahwa itu adalah puisi, yaitu meliputi, pertama, jarak dan diksi (distance and deixis). Kata diksi adalah kata yang referennya berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi pembicara serta saat dan tempat dituturkannya kata itu. misalnya aku, ini, di sini, kemarin dan lain-lain. Diksi berfungsi ikut membina dunia rekaan, mengarahkan pembaca sebagai persona yang meditatif, perenung. Puisi yang disajikan sebagai pernyataan pribadi dibaca dalam konteks referensi yang dibina dan memberi puisi itu koherensinya. Membaca puisi adalah lepas dari situasi tindak ujaran yang biasa; arti kata dalam pemakaian bahasa sehari-hari dimanfaatkan sekaligus dibuang untuk memberi makna pada puisi.


Seperti tentang puisi Joko Pinurbo: Pohon Cemara berikut:

Di depan rumahmu ia betah berjaga mengawal sepi,
dari jauh terlihat tenang dan tinggi.
Jaman berubah cepat, andaikan nasib dapat diralat,
dan pohon cemara masih saja serindang mimpi.


Pada dahannya masih tergantung sepotong celana:
gambar panah di pantat kanan, gambar hati
di pantat kiri; dicumbu angin ia menari-nari.


Burung bulan suka bersarang di ranting-rantingnya,
bulunya berhamburan di tangkai-tangkainya.


Aku pulang di malam yang tak kauduga.
Hallo, itu celana kok sudah beda pantatnya:
panah telah patah, hati telah berdarah;
darahnya kausimpan di botol yang tidak mudah pecah.


(2005)


Kata malam, aku dan atau kau pada puisi di atas, akan dapat berbeda referennya, ketika puisi tersebut dibaca orang lain. Aku bukan lagi aku sebagai Joko Pinurbo (penyair) tapi mungkin si A atau si B yang ‘berkepentingan’ dengan puisi tersebut. Kau tak lagi kau seperti yang dimaksud penyair saat menulis puisi tapi mungkin entah siapa, begitu pun malam tidak lagi menjadi malam pada pengalaman penyair tapi bisa jadi malam yang lain, mengacu pada referensi pengalaman pembacanya. Jarak (ruang dan waktu)-nya berubah menuruti ‘kepentingan’ yang ada.


Kedua, keseluruhan yang organik (organic wholes). Harapan koherensi dan kebulatan makna yang menentukan kegiatan penafsiran oleh pembaca, sebagaimana diterangkan di depan. Menafsirkan sebuah puisi adalah mengandaikan kebulatan, kemudian memberi makna pada kesenjangannya.


Ketiga, tema dan perwujudan (theme and ephiphany). Puisi diandaikan memiliki kekayaan implisit yang menjadikan usaha untuk memahaminya cukup menarik. Puisi yang pada lahirnya dapat kita baca sebagai peristiwa insidental atau pengalaman individual, mau tak mau kita berikan makna universal dan manusiawi.


Contohnya puisi Aku-nya Chairil Anwar yang pada lahirnya ditulis penyair sebagai resepsi pengalaman individual hidupnya yang perih—antara lain akibat perceraian orangtuanya, sebagimana pernah diceritakan karibnya, Asrul Sani, tiba-tiba saja menjadi universal. Puisi Aku dianggap sebagai “proklamasi” Angkatan ’45—seperti larik Aku ini binatang jalang yang sering dimaknai sebagai “yel” pemberontakan atau perjuangan melawan tradisi yang begitu ‘mengungkungi’ kala itu (tahun 1940-an).


Begitu pun puisi Pohon Cemara di atas dan puisi-puisi lainnya yang ‘sebenarnya’ merupakan pengalaman individual penyair, mau tak mau, ketika puisi hadir di tengah-tengah khalayak pembaca universal, itu pun menjadi pengalaman universal yang menjadi terserah untuk dimaknai atau disikapi oleh siapapun.


Demikianlah dan dari uraian di atas, kiranya dapat dipahami sekarang mengapa puisi selama ini sulit dipahami. Ini tidak lain karena konvensi yang ada pada puisi memang tak pernah dipahami secara utuh. Baik oleh penyair yang karenanya menjadikan puisinya “semau gue’ hingga yang terjadi kemudian adalah puisinya menjadi ‘gelap’, juga pembaca yang membaca dan menafsirkan puisi dengan ‘semau gue’ pula.


Thus, marilah kita bersama mulai menyikapi puisi dengan lebih ‘arif’, lebih intens dan sungguh-sungguh, hingga saat puisi (kembali) menyuarakan dirinya kita pun dapat mendengar dan menikmatinya dengan seksama, menangkap apa-apa yang disuarakan (baca: dipesankan) olehnya. Suara-suara puisi tidak lagi terbungkus kebisuan, namun dapat nyaring dan memberi kita makna dan pencerahan.

Senin, Mei 28, 2007

MEREDEFINISIKAN HUKUM ISLAM


BUKAN suatu kebetulan kiranya, jika Islam diturunkan Allah di jazirah Arab. Sebagaimana diketahui, Arab saat menjelang Islam diturunkan, merupakan wilayah dengan peradaban yang begitu parah. Tradisi mabuk-mabukan, kekerasan, perjudian, penguburan bayi perempuan hidup-hidup (ma`dul-banat), perbudakan, adalah contoh dari kerapuhan moral masyarakatnya. Termasuk, pelecehan seksual dan pelacuran. Toh, di tengah kondisi yang chaos itu, Islam bisa eksis bahkan berperan menyapu rupa kesangaran tersebut. Me-make up kembali `wajah` masyarakat yang bopeng penuh ke-jahil-an. Hingga ia pun diterima sebagai way of life yang niscaya.


Ini sebenarnya bukti bahwa Islam, betapapun, pada esensinya, memang dapat diterima adanya.


Lalu, mengapa sekarang, di saat peradaban umat manusia digembar-gemborkan kemajuannya, Islam justeru nampak hadir sebagai benalu? Islam, sebagaimana agama-agama lainnya, dianggap hanya sekumpulan dogma yang mengekang manusia, menjadi represi kekuasaan manusia atas kebebasannya, bahkan bagi banyak umat Islam sendiri, dan di `negara Islam` sekalipun.


Islam tidak lagi dianggap rahmatun lil `alamin. Islam tidak lebih hanya sebuah teror-isme, sebuah bom waktu yang kapanpun siap meledak, memporak-porandakan `peradaban`.


Sebenarnya, kalau mau kita kaji, ini merupakan kekeliruan kita sendiri. Pertama, adanya penafsiran dan pengejawantahan yang kaku (kalau tidak keliru) atas hukum-hukum Islam. Fundamentalisme agama (: kembali kepada Alqur`an dan Assunnah) kita definisikan `apa adanya`. Kita cenderung mengadopsi hukum-hukum--Alqur`an dan Assunnah--secara mentah-mentah, leksikal. Hingga yang kita dapati--atas hukum-hukum itu--pun adalah sesuatu yang memberatkan. Tidak relevan dengan perkembangan. Kuno. Padahal hukum-hukum itu sendiri fleksibel dan dinamis adanya. Tidak kaku dan dapat disesuaikan/dikembangkan menurut keadaan yang ada. Selalu ada toleransi pada setiap hukum. Tidak pernah ada `paksaan` dalam suatu hukum. Seperti halnya kewajiban untuk berdiri dalam shalat. Karena suatu keadaan yang tidak memungkinkan untuk berdiri (karena sakit, misalnya), maka kewajiban itu dapat gugur. Shalat kemudian bisa dikerjakan dengan duduk dan atau berbaring. Begitu pun dengan kewajiban berpuasa yang karena suatu sebab dapat ditinggalkan dan atau di-qadha` (diulang) di kemudian hari ataupun diganti dengan fidyah (tebusan).


Kedua, pemerintah (raja; presiden)--pada negara Islam--sebagai pelaksana daulat hukum agama, seringkali over dalam menafsirkan kedudukan. Kedudukan baginya adalah kekuasaan. Negara sama dengan privacy. Pemerintah merupakan `wakil` Tuhan (Allah) yang absolut, tidak dapat diganggu gugat, atas negara/rakyat. Fungsi sesungguhnya bahwa pemerintah adalah pelayan negara/rakyat, acapkali dilupakan dan ditinggalkan. Hingga yang ada kemudian adalah sebuah bentuk negara, sebuah pemerintahan yang otoriter. Rakyat ditekan dengan undang-undang yang berdalihkan agama. Dan, celakanya, banyak masyarakat/rakyatnya pun yang `mengamininya`.


Demikianlah, maka jika kekeliruan-kekeliruan itu dapat kita benahi, sesungguhnyalah Islam akan tetap dapat diterima. Islam senantiasa dapat dipercaya menjadi solusi atas segala persoalan yang terjadi.


Kamis, Mei 24, 2007

KETIKA MANUSIA HARUS (SALING) MENJAGA CINTA


KETIKA seseorang memutuskan untuk melakukan sesuatu, sesungguhnya ia telah meneguhkan dirinya pada apa yang dinamakan cinta. Kegiatannya berjalan, berangkat dari rasa cinta yang bangkit dalam dirinya. Seorang ayah yang bersusah payah mencari nafkah di bawah sengatan terik mentari dan cekaman gigil dingin hujan, ia melakukan hal itu karena kecintaannya pada anak-istrinya, pada keluarganya. Juga seorang anak yang mati-matian menjalani pendidikan, semata demi masa depannya yang tidak diingininya suram. Atau seorang sahabat, kakak, adik, kerabat yang mau melakukan sesuatu demi orang lain, demi keluarga, demi karib, demi saudaranya yang padahal kadang memberatkan dirinya, karena ia tidak ingin mengecewakan mereka, karena ia mencintai mereka.

Sunnatullah
Demikianlah, cinta adalah sunnatullah, suatu keniscayaan. Cinta ada dan akan terus mengada sepanjang kehidupan itu ada. Cinta yang membuat manusia punya alasan untuk meneruskan hidupnya. Cinta yang membuat manusia mau bertahan di belantara liar dunia ini. Cinta yang membuat dunia terasa damai dan indah.
Ketika Adam baru diciptakan Allah, betapa ia merasakan hidup sebagai suatu kehampaan, meski dalam glamour kemewahan surga. Namun, saat kemudian Allah ciptakan Hawa, iapun merasakan hidup menjadi bergairah. Hidup sebagai sesuatu yang indah. Meski kemudian dalam penuh kesusahan dunia. Hawa adalah sebuah cinta bagi Adam.

Tragedi
Namun, ada kalanya juga cinta mengalami dekadensi, erosi. Bahkan seringkali tumbuh secara tidak wajar, liar. Yang kemudian menimbulkan ekses yang negatif, naïf, fatal: pertentangan, pertikaian, bahkan peperangan. Hal ini terjadi karena ketidakmampuan mengendalikan cinta: salah menafsirkan cinta, menempatkan cinta pada tempat yang tidak semestinya.
Kisah Kabil adalah kisah yang bisa dijadikan ibrah atas tragedi yang terjadi karena hal itu. Ketika demikian besarnya cinta Kabil pada Iqlima namun ia tidak bisa mengejawantahkannya dengan `benar`, hingga kemudian yang timbul adalah ketidakpuasan. Kedengkian. Dan, pembunuhan.
Demikian halnya kisah Bandung Bondowoso - Roro Jonggrang, Dayang Sumbi - Sangkuriang yang harus mengalami sad ending karena tidak bisa menyikapi cinta yang ada.
Juga ketika orang-orang melanglang dunia demi mencari kekuasaan, invasi ke negara-negara lain, atau ketika mereka menduduki jabatan, memegang kekuasaan yang kemudian sewenang-wenang, menumpuk kekayaan dengan segala cara, korupsi, sebenarnya itu pun wujud dari sebuah cinta. Kecintaan pada bangsanya, pada dirinya-untuk memperbaiki nasib. Sayang, pewujudan cintanya tidak dijalankan pada lajur yang semestinya. Karena apa yang terjadi pada pewujudan cinta tersebut, justeru dengan merusak ke-cinta-an lain, merusak nasib yang lain.

Cinta Semestinya
Demikian, sehingga cinta pun tidak bisa disewenang-wenangkan.
Benar, cinta adalah hak asasi. Namun, bahwa hak asasi itu pun ada berbarengan dengan hak asasi-hak asasi orang lain. Maka, tidak benar, demi cinta, karena cinta, kita menghalalkan segala cara.
Seyogyanyalah kita saling menjaga cinta yang ada pada diri kita. Hendaknya kita arif dalam menyikapi cinta, mengejawantahkan cinta. Hingga tragedi ala Kabil - Habil, Dayang Sumbi - Sangkuriang, Malinkundang, Romeo - Juliet, Roro Jonggrang - Bandung Bondowoso, perang dunia, kerusuhan Poso, kerusuhan Ambon, pertikaian tanah Rencong, teror Kuta, perkelahian pelajar, tawuran antarwarga, tidak lagi terulang. Kita bisa menghindarinya. Setidaknya, meminimalisasikannya.
Cinta itu anugerah. Sepatutnyalah kita menjaga anugerah itu agar tidak menjadi sesuatu yang tercela dan menimbulkan ketercelaan.

SAJAK DI PERSIMPANGAN

(Surat Putih 3)


akhirnya kita sampai di sini, di tapal batas ini,

pada persimpangan ketika

cinta dan dendam

berbaur pada satu jalanan.

bukan aku hendak mengabaikanmu

tapi kesetiaan adalah

sejarah tentang luka. dan,

kemunafikan.

memandangmu aku seperti melihat

gunung berapi yang bergemuruh

menahan lahar

sementara tanah yang aku pijak

adalah biru laut yang setiap senja

menenggelamkan matahari.

lalu, aku menemukan kembali

arti kasih yang pernah kita urai.

bukan hujan setelah terik

seperti yang sering kita maknai dan rasai.

tapi kasih adalah lazuardi pada

senja hari.


140300


Surat Putih 1

Surat Putih 2



SURAT PUTIH 2


melewati hari dalam sepi

kadang dingin mencekam

menyelimuti tidurku

menawarkan mimpi-mimpi kelam

tentangmu

--setiap bangun tidur

aku selalu tertegun

meraba dan menatapi

senyummu dalam wajah

potret beku

lalu kembali segumpal

pilu menghantam

hari-hari yang panjang

dalam doa dan penantian

panjang menyeret angan

menyusuri jalanan ke

masa depan

--tumpuan harapan dan impian

bersamamu

aku selalu mengerti

bahwa dunia tidak hanya hari ini

tapi adalah kemarin dan esok hari



160399


Surat Putih 1

Surat Putih 3



SILUET PANJANG MATAHARI

(Surat Putih 1)


penatian kepadamu, membuat

keringatku semakin kering.

siluet panjang matahari telah

menikam keyakinanku yang mengental

--oleh duka masa lalu.

ingatkah kau, di taman itu

ketika kita tanam bougenvile,

mawar-mawar dan edelweis yang kaupetik?

aku masih memeliharanya

bahkan semuanya telah bertunas, kian

bertunas dan bercabang

menjalar-jalar sebagai dinding-dinding batu

--mengurungku dalam tabung waktu

yang menguap oleh

siluet panjang matahari.

sampaikah ia kepadamu

menyeretkan rinduku yang semakin

kaku, membeku oleh waktu?


161298


Surat Putih 2

Surat Putih 3



SAJAK TERAKHIR PADAMU

: Erum


mungkin aku tak bisa

lagi

merangkai puisi

padamu

karena kata-kata

telah jatuh

terberai

sebagai butir-butir

pasir

di pantai

yang setiap saat

satu-satu disapu

ombak

kiranya aku ingin

mengakhiri

kepenyairanku

karena sajak-sajakku

selalu gagal

saat mencoba

hadir

dalam meditasimu

aku ingin kembali

menjadi manusia biasa

yang bisa

menjelaskanmu tentang

terangnya bulan

tanpa harus

terbelit oleh

rumitnya kata-kata

setelah ini

mungkin aku tak

lagi

merangkai puisi

padamu

karena kata-kata

telah sama mati

dalam

meditasiku


Maghrib, 160504

SUNSET


tapi apalagi yang akan dipertanyakan

ketika langit tinggal jingga

dan hanya menyisakan

bayang-bayang yang kian tegak

di tepi utara

apakah siang hari kita

yang hilang dicuri sejarah

ataukah pagi hari yang terlambat

mencatat waktu

--sehingga kita harus terus

merenung di tepian ini

seharusnya kita menengok

hamparan gurun di depan kita

di sana pun masih tersisa oasis

--demikianlah, segalanya selalu

menuliskan kebenaran

tapi matahari selalu saja mengecoh kita

selalu

sampai ia akhirnya pergi

dan kita pun terus terlena dengan

perenungan-perenungan kita

yang kadang tanpa arti

apapun

190299


KESENYAPAN MERAMBAH PELAN-PELAN


Kesenyapan merambah pelan-pelan dalam kalbuku. Ia ber-

jalan diam-diam. Keheningan tak lagi menyisakan cerita

itu, yang tersusun atas nama-nama Cleopatra, Eva Braun, Margareth Yosephin, … dan se-

deretan ketenaran yang mewariskan dendam dan penyesalan.

Adam terkurung dalam surganya yang luas. Aku hanya

memandangnya dari balik terali. Kusodorkan anggur. Tapi

ia minta khuldi. Atau ketika Zulaikhah* memandang

Yusuf dengan cintanya sebagai seorang gadis.

Kesenyapan merambah pelan-pelan, diam-diam, dan …

diam.


10-1197


* Zulaikhah sebenarnya istri Raja Kitfir namun tak pernah digaulinya layaknya istri


KETIMPANGAN RETORIKA: FAKTOR UTAMA KEGAGUAN PUISI


TUJUAN dari suatu komunikasi adalah terjalinnya kesepakatan antara komunikator (penyampai pesan) dengan komunikan (penerima pesan), yaitu bahwa komunikasi dapat menghasilkan feedback (respon) positif dari komunikan atas message (pesan) yang disampaikan komunikator. Adapun proses atau hal penciptaan feedback positif, oleh komunikator, disebut dengan retorika.

Namun acapkali komunikasi pun menghasilkan feedback nol ataupun negatif; suatu kondisi di mana komunikan tidak dapat menerima ataupun menolak sama sekali message yang disampaikan komunikator. Hal ini dikarenakan adanya ketimpangan-ketimpangan dalam hal retorika tersebut.

Puisi sebagai form komunikasi, pun tidak luput dari permasalahn itu. Ia, dalam penyampaiannya oleh komunikator (dalam hal ini: penyair), seringkali terkesan `gagu` bahkan tidak jarang menimbulkan misunderstanding bagi pembaca dan penikmatnya (sebagai komunikan).

Ketimpangan-ketimpangan itu biasanya terjadi karena dua hal:

1. Kesalahan memilih dan menempatkan citra dan atau lambang

2. Kegelapan makna citra dan atau lambang



Puisi adalah Organisasi Kata


Puisi adalah organisasi kata. Yaitu bahwa masing-masing kata sebagai unsur pembentuknya yang tersaji dalam citra dan lambang, haruslah saling mengisi dan melengkapi. Hubungan di antara unsur tersebut begitu erat. Baik dalam lingkup internal bait maupun antarbait. Perhubungan ini berkaitan erat dengan interpretasi puisi nantinya. Yang pada kondisinya, kesalahan mengakomodasi kata, sekecil apapun, dapat megurangi nilai dari puisi. Bahkan dapat menjadikan gagalnya puisi.

Citra
, merujuk kepada konsepsi Saini KM, merupakan gambaran dari pemahaman penyair terhadap sesuatu obyek dan sekiranya gambaran tersebut dapat menunjukkan entitas warna pikir pemahaman tadi. Seperti puisi Eka Purwaningsih: 111 berikut, yang merupakan pencitraan penyair akan berbagai teror dan tragedi yang belakangan ini melanda umat manusia di berbagai penjuru dunia—tidak terkecuali Indonesia—yang dianggap penyair sebagai “permainan benang merah” ataupun “pantomim” Dewa (baca: Tuhan):


aih Dewa bermain benang merah

dari WTC ke Legian

berinjit-injit kecil melompati

gedung-gedung malam

aih Dewa berpantomim

menyulut api rokok

klatunya membara-bara

jatuh membakar kota


Sedang lambang, sebenarnya pun sama dengan citra. Hanya saja apreasiasi yang terjadi kepadanya bukanlah secara konvensional. Dalam Aku-nya Chairil Anwar, misalkan. Di sini kita dapati larik Aku ini binatang jalang. Namun, binatang jalang yang dimaksud di sini bukanlah binatang jalang pada sejatinya sebagai makhuk hidup. Binatang jalang di sini hanyalah lambang yang diberikan penyair pada dirinya yang memang merasa `sebagai` binatang jalang yang Dari kumpulannya terbuang.

Sekarang kita perhatikan dua kutipan `puisi` berikut:

(1)  Mungkin ini sudah saatnya, aku harus kembali

Melipat semua mimpi

Dan mendendangkan kembali sebongkah kenangan.

(2)  …

sebuah harapan kau gantungkan

di gerbang masa depan

yang teramat tandus


Pada `puisi` pertama, terlihat adanya pengorganisasian kata yang rancu. Adanya pengalokasian kata yang tidak memenuhi syarat-fungsinya. Yaitu pada larik terakhir: Dan mendendangkan kembali sebongkah kenangan.

Perhatikan! Pada larik ini kita dapati kata sebongkah yang berkorelasi dengan mendendangkan. Kendati kata sebongkah maupun sebait, misalkan, itu sama-sama mengacu-arti pada sebuah, namun lazimnya relasi dari sebongkah adalah hal-hal konkrit, batu, misalkan, sedang yang diharapkan dari mendendangkan adalah hal-hal abstraktif. Lain halnya dengan Melipat semua mimpi pada larik kedua bait `puisi` tersebut atau dalam puisi Pokok Murbei-nya Rayani Sriwidodo: sesosok kelam di bidang datar beranda, misalkan. Di sini daya imajinasi yang dimiliki oleh melipat dan di bidang datar beranda telah membebaskan mimpi dan kelam dari ikatan keabstraksian.

Begitu pun pada `puisi` berikutnya. Kerancuan, bahkan lebih jelas terlihat di sini. Secara nalar-rasional, adakah gerbang yang tandus? Mungkin akan tepat kiranya jika kata gerbang diubah menjadi ladang dan kata gantungkan diganti dengan tanam—sehingga menjadi sebuah harapan kautanam/di ladang masa depan/yang teramat tandus. Namun, memang demikianlah puisi. Sebagaimanapun rancunya, orang lain tidaklah berhak mengubahnya. Hanya penyairnyalah yang dapat menentukan, apakah puisinya akan terus dibiarkan keliru atau akan diluruskan kembali.

Terhadap hal ini, sehingga seorang penyair menjadikan puisinya incorrect, sebagaimana kedua contoh di atas, biasanya dikarenakan tingkat intelegensi bahasanya yang kurang mendukung atau kalau tidak dia tidak memperhatikan betul-betul kaidah yang ada. Atau karena faktor emosi yang menuntutnya untuk `segera` membuat puisinya jadi, dalam seketika, bahkan, sehingga dalam pengakomodasian kata pun, ia menjadi serabutan, asal comot. Atau juga karena asumsi bahwa dalam berpuisi seorang penyair diberi kebebasan dengan apa yang disebut sebagai licenciae poetica. Tentang faktor yang terakhir ini, sesungguhnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Jamal T. Suryanata, meski licenciae poetica (disebut Jamal dengan `kebebasan kreatif`) itu merupakan hak setiap penyair, namun kebebasan tersebut pun sudah tentu bukanlah kebabasan yang lepas-bebas dan tanpa dasar apapun. Dalam konteks ini, maka gramatika bahasa pun perlu diperhatikan oleh seorang penyair dalam menulis puisi.


Puisi bukanlah Teka-teki


Selanjutnya, dari hasil `pemantauan` Saini KM, didapati bahwa kita (baca: penyair pemula) dalam menulis puisi, seringkali tidak menenggang pembaca. Kita mengungkapkan pikiran-pikiran dan perasaan sejauh kebutuhan kita sendiri saja. Artinya, kalau kita sudah mengerti dan merasakan, kita menganggap segalanya sudah selesai, tidak terlintas dalam pikiran kita bahwa orang lain atau pembaca mungkin saja mendapat kesukaran untuk menghayati puisi kita. Puisi kita seringkali terkesan sebagai suatu teka-teki yang acapkali tidak dapat dipecahkan oleh pembaca. Sehingga, mau tidak mau, message yang terkandung di dalam puisi pun tidak dapat diterima oleh pembaca dan puisipun menjadi gagal.

Satu hal yang amat disayangkan. Padahal puisi bukanlah suatu teka-teki. Ia merupakan suatu bentuk pernyataan lugas, yang tidak menutup kemungkinan bagi pembaca untuk bisa memahaminya. Meski kelugasan di sini pun bukanlah kelugasan sebagaimana pada prosa. Kelugasan di sini tentunya terikat dengan hakikat puisi itu sendiri, sebagai rangkaian kata yang `padat` dan `berisi`. Ia tidaklah sepanjang-lebar cerpen dan atau novel dalam penuturannya. Kata-katanya begitu ekonomis dan partikular.


Bersikap Wajar dan Realistis


Itulah antara lain kiranya yang selama ini menjadikan kita akhirnya gagal dalam berpuisi. Emosi yang cenderung menggebu-gebu, seringkali justeru hanya mengantar pada kebuntuan dan kebekuan kreatifitas. Adanya sikap over-acting dalam berkarya di mana karya-karya yang tercipta—seringkali—begitu bombastis dan utopis.

Meski, itu pun bukan berarti kegagalan mutlak. Bagaimanapun, itu adalah `kewajaran manusiawi`. Siapapun, diakui ataupun tidak, tentunya pun pernah mengalami hal serupa: terjebak dalam fantastisme emosi.

Yang penting sekarang adalah, bahwa belajar bersikap dari kekeliruan dan kegagalan, merupakan satu hal yang teramat bijak, untuk dilakukan. Tulislah puisi secara wajar dan realistis. Dan tentunya pula, membekali diri dengan lebih banyak pengetahuan bahasa dan sastra (dalam hal ini: puisi). Karena hanya dengan semua itulah, segala bakat, segala kreatifitas yang dimiliki akan berarti dan dihargai. Kewajaran, kejujuran dan ke-amung-an adalah modal menuju kesuksesan. Termasuk dalam berpuisi.

Selamat berpuisi!


Rabu, Mei 23, 2007

ISRA` MI`RAJ, EINSTEIN DAN KEBENARAN FIRMAN ILAHI

(Sebuah Tinjauan)

ISRA`MI`RAJ, sebagai sebuah peristiwa metafisika (gaib), barangkali bukan sesuatu yang istimewa. Kebenarannya bukanlah sesuatu yang luarbiasa. Kebenaran metafisika adalah kebenaran naqliyah (: dogmatis) yang tidak harus dibuktikan secara akal, namun lebih bersifat imani. Valid tidaknya kebenaran peristiwa metafisika—secara akal, bukanlah soal selagi ia diimani.
Namun, Isra` Mi`raj bukanlah peristiwa metafisika. Ia adalah peristiwa fisika (: nyata; badaniah) yang dialami dan dijalani Nabi Muhammad saw dengan segenap kesadaran inderawinya, sebagaimana diterangkan dalam Alqur`an surat Al-isra` ayat 1 dan Annajm ayat 13.
Maka, sebagai peristiwa fisika, Isra` Mi`raj adalah sesuatu yang istimewa. Kebenaran Isra` Mi`raj adalah kebenaran yang luarbiasa. Keistimewaan ataupun keluarbiasaan tersebut, tidak lain karena pemberontakannya pada tradisi. Kebenaran Isra` Mi`raj adalah kebenaran inkonvensional.
Maka, wajar kiranya, jika banyak orang pun mempertanyakan (meragukan?) ke-shahih-an Isra` Mi`raj tersebut. Menganggap Isra` Mi`raj sebagai sesuatu yang mengada-ada dan dongeng Nabi belaka.
Toh, Isra` Mi`raj bukanlah cerita rekaan ataupun dongeng Nabi. Isra` Mi`raj adalah sebuah firman Ilahi dan, firman Ilahi tetaplah sebuah kebenaran. Kebenaran hakiki dan mutlak yang tidak dapat diganggu-gugat. Meski ia berseberangan dengan tradisi ilmu pengetahuan. Meski ia bertentangan dengan akal nalar manusia.


Albert Einstein
Maka, bukan suatu kebetulan kiranya, jika kemudian Allah ciptakan seorang manusia bernama Albert Einstein, ilmuwan berbangsa Yahudi (bangsa yang sejak awal `menentang` Islam), yang kelak dengan teorinya, kebenaran Isra` Mi`raj menjadi nyata adanya.
Lahir di Jerman tanggal 14 Maret 1879 dan meninggal di Amerika Serikat tanggal 16 April 1955. Sebagai ilmuwan, Einstein telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk menerobos dan membabat kelebatan dan kepekatan hutan ilmu pengetahuan. Dengan dedikasi dan vitalitasnya yang tinggi, iapun dapat membukakan jalan pencerahan bagi banyak orang. Ia telah menyumbangkan pikiran-pikirannya yang begitu berharga. Menyumbangkan teori-teorinya yang dapat memecahkan banyak teka-teki dan persoalan yang selama ini menyelimuti kehidupan.


Teori Relativitas
Satu dari sekian teorinya, adalah tentang relativitas. Sebuah teori yang mengupas hakikat alam semesta sebagai suatu susunan terpadu di mana segala yang ada di dalamnya, dengan kemajemukan dan keberagamannya, tunduk pada satu hukum universal, dengan kecepatan cahaya sebagai konstanta bandingnya. Sebuah teori yang, kelak melahirkan pula teori (ide) tentang bom atom yang begitu mengerikan itu.
Dalam teorinya itu, Einstein menerangkan bahwa tidak ada sesuatu yang mutlak dalam kehidupan ini. Segala sesuatu relatif dalam gerak dan kedudukannya. Sebuah bola yang bulat, suatu saat akan dapat berubah pipih. Begitu pun penggaris yang panjang, pada saat yang berbeda dapat mengerut, pendek. Sebuah benda yang berbobot ringan di satu saat, dapat menjadi berat atau tidak berbobot sama sekali di saat-saat lainnya. Jarum jam yang bergerak cepat mengukur waktu, ada kalanya menjadi lambat bahkan pada satu titik masa, berhenti sama sekali. Juga jantung yang berdenyut menandai usia, dapat mengalami kelambatan hingga usia pun berjalan lebih lambat dari yang semestinya.

Einstein merumuskan teorinya dalam sebuah persamaan:


t'
=
waktu benda yang bergerak
t
=
waktu benda yang diam
v
=
kecepatan benda
c
=
kecepatan cahaya

Diterangkan bahwa perbandingan nilai kecepatan suatu benda dengan kecepatan cahaya, akan berpengaruh pada keadaan benda tersebut. Semakin dekat nilai kecepatan suatu benda (v) dengan kecepatan cahaya (c), semakin besar pula efek yang dialaminya (t`): perlambatan waktu. Hingga ketika kecepatan benda menyamai kecepatan cahaya (v=c), benda itu pun sampai pada satu keadaan nol. Demikian, namun jika kecepatan benda dapat melampaui kecepatan cahaya (v>c), keadaan pun berubah. Efek yang dialami bukan lagi perlambatan waktu, namun sebaliknya.
Pada awalnya, teori Relativitas itu pun mendapat banyak tentangan. Seperti halnya Nabi saat memberitakan Isra` Mi`raj, Einstein saat mengumumkan teori tersebut, banyak dicemooh bahkan dianggap tidak waras karena, sebagaimana juga Isra` Mi`raj, teorinya itu pun telah menentang tradisi yang selama ini dianut dan dielu-elukan. Relativitas telah menolak kemutlakan ukuran bahwa semua benda selalu dalam keadaan tetap, tidak pernah berubah. Sebuah bola akan tetap bulat, sebuah penggaris akan tetap panjang, usia akan tetap berlari menua, bagaimanapun kondisinya.
Namun ketika laboratorium kemudian dapat menemukan gejala yang sama sebagaimana terurai dalam Relativitas, segera teori itu pun memperoleh kedudukannya yang semestinya sebagai sebuah kebenaran.
Studi tentang sinar kosmis, merupakan satu pembuktian.
Didapati bahwa di antara partikel-partikel yang dihasilkan dari persingungan partikel-partikel sinar kosmis yang utama dengan inti-inti atom Nitrogen dan Oksigen di lapisan Atmosfer atas, jauh ribuan meter di atas permukaan bumi, yaitu partikel Mu Meson (Muon), itu dapat mencapai permukaan bumi. Padahal partikel Muon ini mempunyai paruh waktu (half-life) sebesar dua mikro detik yang artinya dalam dua perjuta detik, setengah dari massa Muon tersebut akan meleleh menjadi elektron. Dan dalam jangka waktu dua perjuta detik, satu partikel yang bergerak dengan kecepatan cahaya (± 300.000 km/dt) sekalipun paling-paling hanya dapat mencapai jarak 600 m. padahal jarak ketinggian Atmosfer di mana Muon terbentuk, dari permukaan bumi, adalah 20.000 m yang mana dengan kecepatan cahaya hanya dapat dicapai dalam jangka minimal 66 mikro-detik.
Lalu, bagaimana Muon dapat melewati kemustahilan itu?
Ternyata, selama bergerak dengan kecepatannya yang tinggi—mendekati kecepatan cahaya, partikel Muon mengalami efek sebagaimana diterangkan teori Relativitas, yaitu perlambatan waktu.


Kebenaran Isra` Mi`raj
Demikianlah Relativitas telah dapat membuktikan kebenarannya. Menyingkap kebenaran-kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik keruwetan dan arogansi ilmu pengetahuan. Termasuk, kebenaran Isra` Mi`raj.
Sebagaimana diterangkan di depan, ketika sebuah benda bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, seperti halnya partikel Muon, benda itu akan mengalami efek perlambatan waktu. Seseorang yang meluncur ke angkasa dengan pesawat yang berkecepatan mendekati kecepatan cahaya, maka ia akan mengalami pertambahan usia yang lebih lambat dari yang semestinya di bumi. Ketika kembali ke bumi ia akan mendapati bumi telah begitu tuanya sedang dirinya hanya bertambah beberapa waktu saja. Ia telah terlempar ke masa depan. Namun jika kecepatannya ditambahkan hingga melampaui batas kecepatan cahaya, yang akan dialaminya bukanlah perlambatan waktu, namun sebaliknya. Ketika kembali ke bumi, bukan masa depan yang didapatinya. Namun, ia kembali ke masa lalu. Ia telah menjadi penziarah masa lalu.
Dan, inilah yang telah direfleksikan buraq, hewan sejenis kuda bersayap sebagai kendaraan Nabi saat melakukan perjalanan Isra`. Ketika memulai perjalanan yaitu dari Masjid Alharam (Mekkah), dengan daya kecepatan buraq (v>c), Nabi tidaklah mengarah ke masa depan. Namun kembali ke masa lalu. Dan, melewati masa lalu itulah Nabi memberangkatkan perjalanannya. Hingga, seiring guliran-guliran waktu perjalanan itu, perjalannpun melaju ke titik waktu saat mana beliau baru memulai. Hingga, kesan yang ada pun seolah-olah Nabi melakukan perjalanan Isra` Mi`raj hanyalah sesaat. Padahal, hakikatnya, beliau pun menjalani Isra` Mi`raj, berdasarkan `perhitungan` waktu pribadinya, lazimnya perjalanan-perjalanan sejenis lainnya dengan menghabiskan waktu berjam-jam atau berhari-hari atau bahkan lebih.
Demikianlah, Allah memang senantiasa memfirmankan kebenaran. Dan, firman-firman Allah memang senantiasa benar adanya. Meski terkadang akal & logika kita sangat sulit untuk menjangkaunya.
Shadaqallahul-adzim.


Kepustakaan:
  • Addardir, Ahmad. Qishatul Mi`raj lil `Alamah Najmuddin Alghaythy. Usaha Keluarga. Semarang.
  • Alkhaibawi, Usman dan Abdullah Shonhadji (Penj.). Durratun Nashihin: Mutiara Mubaligh, Jilid 2. Almunawar. Semarang.
  • Almuhally, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar Assuyuthy. Tafsirulqur`nilkarim. Toha Putra. Semarang.
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_relativitas
  • http://www.qurancomplex.org
  • Mekantronika, Edisi Maret 1979.
  • Mahmud, Musthafa, Dr. 1981. Einstein dan Teori Relativitas, Cetakan kedua. Al-Hidayah. Jakarta.
  • Hidayah, Edisi 25, Jumadil Ula 1424 H/Agustus 2003.

Selasa, Mei 22, 2007

CINTA TERPENDAR

JAKARTA. Sore. Langit biru. Awan berarak, menebarkan angin dingin, sisa hujan deras barusan.


Di beranda rumah. Aku masih terdiam di samping Ibu. Belum sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku tak berani menjawab. Apalagi membantah. Ibu terlalu bijak untuk kudebat.

"Asih, Ibu tidak bermaksud menekanmu, memaksamu untuk segera menikah. Pun tentang Irwan, kalau kamu merasa tidak cocok, Ibu juga tidak memaksa. Toh, Ibu juga sudah merasakan, betapa perkawinan, betapa rumah tangga yang tanpa dilandasi cinta, begitu berat terbina. Meski tidak mustahil, cinta itu pun dapat hadir seiring kebersamaan yang terus dijaga." Ibu kembali menjeda kata-katanya. Nampak kini pandangannnya beralih, menerawang angkasa. Seperti mengenangkan sesuatu. Sejarah hidupnya.


Ya, Ibu dan almarhum Bapak memang menikah tanpa didasari cinta. Mereka menikah hanya karena orangtua. Orangtua mereka yang saling berteman akrab. Mereka menikah hanya karena keegoisan orangtua yang ingin mempererat hubungan dengan saling menjodohkan anak-anak mereka: Ibu dan Bapak. Entah itu dengan atau tanpa persetujuan Ibu dan Bapak.


Meski akhirnya Ibu dan Bapak pun dapat menegakkan rumah tangga: saling menerima dan mengasihi dan pula kemudian melahirkan kami: aku; Mbak Pipit yang kini ikut suaminya dinas di Yogya; Mas Anto yang sekarang di Lampung bersama istri dan kedua anaknya; juga Wawang, adikku dan juga saudaraku satu-satunya yang masih setia tinggal bersama ibu dan merawatnya, yang juga telah menikah.


"Asih," Ibu kembali menatapku. "Ibu harap kamu mengerti. Ibu hanya mau mengingatkan bahwa usiamu kini telah lebih dari tiga puluh tahun. Wawang pun sudah menikah. Ibu sendiri juga sudah merasa tua. Ibu takut kamu lupa dengan kewajiban itu. Kamu tidak memikirkan perkawinan."


Kutatap wajah Ibu. Kutatap wajah yang mulai berkerut di sana-sini itu. Kutatap mata Ibu. Mata yang selalu menyejukkanku kala kegerahan menyergap hidupku.


Ada pengharapan yang tulus menyemburat dari mata Ibu.


Kuraih tangan Ibu yang menggeletak di atas meja yang membatasi kami.


Aku mencoba tersenyum. Meski begitu getir di bibir.


"Tidak, Bu. Asih tidak lupa. Asih juga tahu kewajiban itu.


"Hanya, kok ya Asih belum juga merasa siap."


"Kesiapan apalagi, Asih? Sebagai wanita, kamu telah cukup mapan dengan keadaanmu sekarang. Kamu punya titel. Kamu juga punya karir."


"Entahlah, Bu. Asih sendiri tidak tahu."


"Lho?" Ibu masih menatapku.


Aku mengalihkan kembali pandangan. Ke langit biru. Kuhela nafas dalam-dalam.


"Atau, kau masih mengharapkan Tirta?"


Ah, Ibu. Kenapa kau harus menyebut nama itu? Bahkan aku sendiri tidak tahu apakah Tirta masih juga mengharapkanku.


Meski, memang benar. Keenggananku untuk menjalin hubungan dengan lelaki, untuk membina rumah tangga selama ini, karena memang di dalam hatiku, masih mengganjal bayang Tirta, lelaki yang telah lebih dari empat tahun aku ‘tinggalkan’ namun juga masih kucintai.


"Benar, kan, Sih?"


"Tapi, mungkinkah, Bu?" kini balik aku yang bertanya. Entahlah. Tiba-tiba kalimat itu menyeruak dari dalam diriku. Seperti kerinduan itu yang tiba-tiba saja muncul.


Ah, Tirta. Andai waktu bisa diputar kembali.


Ibu menghela nafas panjang.


"Dulu, ketika kau hendak pergi ke Jepang, kau sendiri yang bersikeras untuk mengakhiri ‘hubungan’ dengan Tirta. Saat Ibu bilang apakah itu tidak akan menganggumu, kau malah bilang itu demi ketenangan dan keleluasaan kalian. Karena kau tak ingin membelenggu Tirta dan juga dirimu dengan `kepastian` hubungan. Belum tentu lima, sepuluh tahun kau bakal kembali, begitu ujarmu. Dan kau tak ingin selama itu, Tirta dan juga dirimu terbebani pikiran saling menunggu.


"Ketika kau juga tak pernah menyinggung dan mengeluh tentang Tirta pada tahun-tahun kemudian, Ibupun berpikir mungkin keputusanmu itu memang benar. Ibu pun merasa lega.


"Namun, sekarang, ketika ternyata kau masih memendam perasaan itu, ...


"Ibu tidak mengerti, Asih. Terus terang Ibu tidak mengerti kenapa kamu tega membebani diri dengan persoalan, dengan pikiran yang sebenarnya bisa kamu bagi dengan orang lain, dengan Ibu?!"


"Bu, pada mulanya Asih memang berpikir semuanya akan baik-baik saja. Dengan jarak yang tidak lagi dekat, Asih pikir itu suatu kesempatan untuk saling menata diri. Mengevaluasi diri. Mengevaluasi ..."


"Tapi akhirnya, kau tak mampu melupakannya?"


Lama aku terdiam. Ibu benar. Aku memang tak pernah bisa melupakan Tirta. Semakin aku menghindar, semakin bayang Tirta lekat menguntitiku.


"Bu, besok Asih mau ke Brebes. Menemui Eno. Sudah lama sejak kepergian Asih ke Jepang, Asih tak lagi bertemu dengan Eno."


"Menemui Tirta?"


"Entahlah. Tapi yang jelas, Asih tidak ingin terus larut dalam kubang ketidakpastian."


"Terserah kamu, Asih. Ibu hanya ingin kamu bahagia. Ibu tidak ingin anak-anak Ibu hidup menderita."


Aku tersenyum. Kembali merengkuh tangan Ibu di atas meja.


Langit meredup. Semburat jingga di tepi barat, menyiratkan siluet alam yang temaram.


Angin kian beku.


* * *




JAKARTA - Brebes. Sepanjang perjalanan pikiranku terus melayang-layang berkejaran dengan bayang Tirta, dengan bayang-bayang masa lalu dan juga impian-impian yang terus berkelebatan.


Enam belas tahun yang lalu, saat pertama kali kukenal, Tirta adalah seorang remaja dengan ambisi dan vitalitas hidup yang tinggi. Dia begitu idealis. Dia, dan juga Eno, adalah teman SLTA-ku yang kutempuh di Brebes mengikuti dinas Bapak. Meski kami (aku dan Tirta) tak pernah satu kelas, kami berteman baik. Toh kami kerap bertemu. Kami sama-sama aktif di sekolah. Aku aktif di paskibra dan pramuka sedang Tirta aktif di kesenian baik senirupa maupun teater. Dengan Eno sendiri, sejak kelas satu aku dan dia satu kelas. Hanya dia tidak aktif di sekolah—namun dia merupakan anak yang pandai. Sampai kemudian, memasuki tahun ketiga sekolah, Tirta mencurahkan isi hatinya, perasaan cintanya padaku. Entah, aku pun tak kuasa menolak. Dan, kamipun memulai babak-babak kebersamaan baru


Namun aku dan Tirta ternyata memang cenderung bertentangan. Baik dalam sikap, sifat, prinsip. Toh, kami tetap mempertahankan kebersamaan. Karena cinta, bagi kami, adalah satu sarana untuk merengkuhi sesuatu yang sulit ataupun mustahil terengkuhi dengan apapun kecuali cinta.


Dan Eno, dialah yang kerap memberiku semangat kala kelelahan menyergap langkah-langkahku dalam menjajari Tirta.


Sekian tahun aku mencoba menjalin kebersamaan dengan Tirta. Sekian tahun yang panjang dan melelahkan. Hingga aku benar-benar lelah. Letih. Tak berdaya mengimbangi gerak dan langkah Tirta. Dan, akhirnya kuputuskan melepas diri dari Tirta, melepas diri dari kehidupannya, seiring kepergianku ke negeri sakura; mutasi kerja dan juga melanjutkan studi atas beasiswa dari kantor tempatku bekerja, sebuah perusahaan agribisnis internasional. Terakhir, kudengar, Tirta sendiri menetap di Bali—setelah kepergianku itu, namun hanya bertahan setahun dan kemudian pindah ke Yogya namun akhirnya pun kembali ke Brebes. Dan, dua tahun yang lalu, saat aku mengikuti sebuah simposium di Bremen, Jerman, aku dengar dia pameran lukisan di Hamburg, sebuah kota yang tidak begitu jauh dari Bremen. Sayang, jadwalku yang padat dan sempitnya waktu yang tersedia, tidak memungkinkanku untuk bertemu dengannya.


"Mbak, Mbak, bangun, Mbak. Mbak turun di Brebes, kan?” suara lembut penumpang di sebelahku, seorang gadis duapuluhan, disertai guncangan halus tangannya di lenganku, membuyarkan lamunanku.


Ah, Tirta, semoga kau masih seperti yang dulu.


* * *




SORE. Di beranda.


Ibu masih menerawang angkasa. Menerawang awan-awan yang mulai menggumpal.


"Besok Asih mau kembali ke Jepang, Bu. Asih tidak jadi mutasi pulang tahun ini. Asih sudah mengajukan perubahan ke perusahaan dan itu sudah di-acc."


Ibu masih diam. Matanya masih mengangkasa. Namun jelas kulihat keletihan menggelayutinya.


"Mungkin Asih bisa memulai lagi sesuatu yang lebih berarti. Asih..."


"Ibu jadi teringat dengan almarhum bapakmu, Asih.


"Andai Bapak masih bersama kita."


"Maafkan Asih, Bu.


"Mungkin suratan nasib Asih harus begini."


"Tapi suratan nasib, kita sendirilah yang menulisnya."


"Karena itu Asih ingin memulai dengan lembar baru yang lebih bersih lagi, Bu."


Ibu menghela nafas. Sejenak menatapku.


"Pergilah, kalau kau merasa harus pergi. Ibu hanya mohon kau mau mengerti bahwa Ibu kini semakin tua. Ibu semakin letih, Asih."


Aku tak mampu lagi berkata. Hanya mata yang berkaca-kaca. Menahan nyeri yang menyentak-nyentak di benak.


Tirta kini telah tiada. Setahun yang lalu, sebuah kecelakaan telah merenggut nyawanya, saat ia hendak ke rumah sakit mengantar Eno, istrinya.


Mendung berarak. Hujan pecah.