Maklumat

Khusus untuk konten-konten sastra seperti puisi, cerpen dan esai silahkan kunjungi http://blog.edelweis-art.com. Terima kasih (Penulis)

Senin, Agustus 10, 2009

Usia

USIA. Atau bahasa lainnya umur. Merupakan waktu yang diberikan oleh Gusti kang Murbeng Dumadi, Allah SWT, kepada kita, makhluk hidup (baik manusia, jin, hewan, tumbuhan, ..) untuk menjalankan syariat-Nya, mengisi kehidupan di dunia ini. Mengisi kehidupan dengan peran yang telah kita "sepakati" sebelumnya dengan Dia. Syahdan, menurut sebuah hikayat, sebelum semua makhluk hidup "diturunkan" ke dunia, di "sana" masing-masing telah dibaiat oleh-Nya, apa-apa yang akan harus dijalankan; peranan apa yang akan diembannya, dan seberapa lama waktu yang diberikan kepadanya. Namun, syahdan pula, setelah melewati "perjalanan" panjang dari "sana" menuju ke dunia ini, di mana secara kasat mata proses itu berupa kehamilan di rahim ibunya, manusia seperti mengalami "amnesia" atas segala yang telah diperbincangkan dengan sang Rabbi tersebut. Ketika hadir (terlahir) ke dunia ini, manusia seperti tidak memiliki pengetahuan dan ingatan apa-apa. Segala baginya adalah baru.

Dengan tertatih-tatih, kita, manusia, mencoba merengkuhi keping demi keping pengetahuan. Dan dengan keping-keping pengetahuan itu, mencoba mereka-reka kembali tentang hakikat keberadaan kita. Darimana kita berasal. Akan kemana kita setelah sekarang ini. apakah akan selamanya di sini. Apakah akan hilang begitu saja setelah pergi dari sini (baca: mati). Dan, yang terpenting, apakah kita terlahir dengan sendirinya di sini. Apakah moyang pertama kita, ada dengan secara sendirinya.

Sebagian dari kita akhirnya bisa menemukan kembali ingatan tentang "perjanjian" itu. Hingga kemudian bisa membenahi kehidupan, seperti apa yang telah diwajibkan. Menjalankan peran yang semestinya. Namun ada juga yang telah mengingatnya, namun tidak bisa memahaminya. Sebagian yang lain, masih terus meraba-raba, terus mengingat-ingat, terus mencari-cari. Sebagian yang lain lagi, akhirnya enggan dan berhenti untuk mengingat-ingat, dan menjalani kehidupan dengan sesuai yang ada di benaknya sendiri.

Tanpa terasa, 29 tahun hampir sudah saya melewatkan perjalanan hidup ini. Ingatan itu telah begitu kuat di kepala saya. Saya bersyukur. Meski, barangkali, saya masih sering melalaikan kewajiban itu.

29 tahun. Ya, tahun demi tahun tanpa terasa bertambah usia. Meski dari sisi yang lain, berarti waktu saya untuk berada di sini, semakin berkurang. Bisa jadi tahun depan saya mesti kembali. Bisa jadi malam ini, saya harus kembali kepada-Nya. Bisa jadi, sesudah postingan ini selesai saya unggah.

Namun doa saya, semoga dalam perjalanan pulang nanti, saya tidak akan tersasar kemanapun. Dan orang-orang yang saya tinggal di sini, anak-anak tercinta, istri tercinta, dapat selalu menjaga ingatannya, tentang kewajiban itu, tentang hakikat kehidupan ini, tentang arah pulang nanti, tentang Gusti kang Murbeng Dumadi, Allah SWT ...

Ilahi lastu lil firdausi ahlan. Wa la aqwa 'alan-naril jahimi. Fa habli taubatan wa-ghfir dzunubi. Fa innaKa Ghafirudz-dzanbil 'adzimi ...

"Demi Masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. , kecuali mereka yang beriman dan berbuat kebajikan, dan saling mengingatkan akan kebenaran dan kesabaran ... Shadaqallahul 'adzim"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar