Maklumat

Khusus untuk konten-konten sastra seperti puisi, cerpen dan esai silahkan kunjungi http://blog.edelweis-art.com. Terima kasih (Penulis)

Kamis, Juli 31, 2008

Badhekan

Humor merupakan salah satu faktor indikasi kesehatan mental seseorang. Ketika seseorang sudah tidak peka lagi terhadap humor atau bahkan ia telah kehilangan sense of humor dalam hidupnya: kerap menanggapi segala sesuatunya secara "serius" dan "tegang", mudah tersinggung, cenderung mengangap masukan (baca: kritik) orang lain sebagai cemoohan dan hujatan, atau lebih parah lagi, jika dalam kamus hukum kita ada istilah "praduga tak bersalah", maka asas yang dianutnya adalah asas "praduga bersalah" yang ia terapkan baik kepada orang lain ataupun kepada dirinya sendiri hingga ia cenderung menyalahkan dan mengutuki diri sendiri saat ia mengalami suatu kegalan dan terlarut terus dalam penyesalan dan ratapan yang tiada henti.

Begitu pentingnya humor dalam kehidupan seseorang, hingga dalam terapi psikologi, humor ditempatkan pada level yang cukup tinggi (baca, antara lain: Terapi Humor dalam Psikologi Islam oleh Rena Latifa).

Salah satu bentuk humor yang cukup "paten" dijadikan sebagai indikator tersebut adalah badhekan atau tebak-tebakan. Bahkan lebih dari sekedar humor, badhekan berkaitan pula dengan kecerdasan logika seseorang dalam menangkap, memahami dan mengurai suatu persoalan. Badhekan, meski tidak mutlak, juga bisa dijadikan alat ukur sejauh mana kadar ataupun tingkat relationship yang dimiliki seseorang dengan orang-orang lain terutama teman dan keluarga, sebab badhekan merupakan suatu hal (baca: tradisi) yang berkembang secara sosial, dapat diketahui seseorang hanya dengan melalui pergaulan dan interaksi dengan orang-orang lain—meski tidak menutup kemungkinan, dengan kecerdasan logika dan humor yang tinggi dalam diri seseorang, ia dapat langsung menebak secara cerdas badhekan yang diajukan kepadanya, toh tetap saja itu berhubungan dengan yang namanya "humor".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar