Maklumat

Khusus untuk konten-konten sastra seperti puisi, cerpen dan esai silahkan kunjungi http://blog.edelweis-art.com. Terima kasih (Penulis)

Selasa, April 08, 2008

Pengakuan*

Cerpen: Edgar Allan Poe

BENAR! Ya, aku memang sakit, sangat sakit. Tapi kenapa kau katakan aku telah kehilangan akal sehatku, kenapa kau katakan aku gila? Tidakkah kau melihat betapa sehat pikiranku? Tidakkah jelas aku tidak gila? Sungguh, rasa sakit itu justru membuat pikiran, perasaan dan indera-inderaku menjadi lebih kuat, lebih tajam. Pendengaranku terlebih menjadi lebih tajam. Aku dapat mendengar suara-suara yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Aku dengar suara-suara dari surga, dan aku dengar suara-suara dari neraka!

Dengar! Dengarlah, dan akan aku ceritakan bagaimana itu terjadi. Kaupun akan tahu betapa sehatnya pikiranku.

Sulit mengatakan bagaimana ide itu kali pertama masuk ke kepalaku. Tidak ada alasan untuk apa yang kulakukan. Aku tidak membenci orang tua itu, aku bahkan mencintainya. Dia tidak pernah menyakitiku. Aku tidak menginginkan uangnya. Aku kira itu karena matanya. Matanya yang menyerupai mata burung nazar, mata seekor burung bangkai yang menatap dan menunggui kematian seekor binatang, dan lalu memangsa bangkainya dan mencabik-cabiknya untuk dimakan. Saat orang tua itu menatapku dengan mata mautnya hawa dingin menyelimuti tengkukku, bahkan darahku menjadi beku. Hingga aku akhirnya merasa harus membunuh orang tua itu dan menutup mata itu selamanya!

Lalu kau pikir aku gila? Orang gila tidak dapat berpikir. Tapi seharusnya kau melihatku. Selama sepekan itu aku berusaha untuk tetap bisa bersahabat, dan akrab, dan sayang dengan orang tua itu.

Setiap tengah malam aku diam-diam membuka pintu kamarnya. Dan saat pintu itu sudah terbuka cukup lebar aku julurkan masuk tanganku, dan lalu kepalaku. Di tangan kugenggam sebuah lampu yang tertutup kain hingga tidak ada secuil pun cahaya tersorot. Dan aku pun terdiam di situ. Lalu, dengan hati-hati, kusingkapkan kain, hanya sedikit, hingga seberkas cahaya tipis tersorot melintasi mata itu. Selama tujuh malam aku melakukan ini, tujuh malam yang panjang, setiap malam di tengah malam. Selalu mata itu tertutup, hingga mustahil bagiku untuk melakukannya. Karena bukan lantaran orang tua itu aku merasa harus membunuh, tapi mata itu, Mata Setannya.

Dan setiap pagi harinya aku pergi ke kamarnya, dan dengan suara yang hangat, bersahabat aku tanyakan padanya bagaimana ia tidur. Dia tidak menyadari setiap malam, tengah malam, aku mengintai tidurnya.

Pada malam yang ke delapan aku lebih berhati-hati saat membuka pintu. Jarum jam yang berdetak pun lebih cepat dari gerakan tanganku. Tidak pernah sebelumnya aku merasa begitu yakin dengan kekuatanku; kini aku yakin berhasil.

Orang tua itu terbaring di sana tidak menyadari aku berada di pintu. Tiba-tiba dia bergerak. Kau mungkin mengira aku menjadi takut. Tapi tidak. Kegelapan kamarnya begitu hitam dan pekat. Aku tahu dia tidak dapat melihat terbukanya pintu. Aku teruskan membuka pintu itu, perlahan, lirih. Aku julurkan masuk kepalaku. Aku julurkan masuk tanganku, dengan lampu sorot yang tertutup. Tiba-tiba orang tua itu bangkit dan berteriak, “Siapa itu??!”

Akupun berhenti. Sesaat lamanya aku tidak melakukan gerakan apapun. Tidak juga kudengar dia kembali berbaring. Dia masih duduk, masih memperhatikan. Hingga kudengar suara, sebuah jerit halus ketakutan dari orang tua itu. Kini kutahu dia tengah duduk di tempat tidurnya, penuh ketakutan; aku tahu dia tahu keberadaanku. Dia tidak melihatku. Dia tidak dapat mendengarku. Dia merasakan keberadaanku. Kini dia tahu Kematian tengah berdiri di hadapannya.

Perlahan, sedikit demi sedikit, aku singkap kain penutup lampu, hingga seberkas, seberkas cahaya tersorot melintang—melintangi mata maut itu! Mata itu terbuka—lebar, terbuka lebar, dan kemarahanku menjadi saat ia menatap tajam kepadaku. Aku tidak dapat melihat wajah orang tua itu. Hanya mata itu, mata biru pekat itu, dan darah di tubuhku membeku seperti es.

Bukankah telah kukatakan padamu pendengaranku menjadi lebih tajam daripada biasanya? Kini aku dapat mendengar suara yang lembut, lirih, terburu, seperti suara jam yang terdengar di atas dinding. Suara detak jantung orang tua itu. Aku berusaha untuk tetap tenang. Tapi suara itu kian keras. Kecemasan orang tua itu kian menjadi sungguh. Dan seiring suara itu yang kian keras kemarahankupun kian memuncak dan kian menyakitkan. Bahkan lebih dari sekedar kemarahan. Pada malam yang lengang itu, dalam keheningan mencekam kamar tidur itu kemarahanku berubah menjadi katakutan—pada jantung itu yang berdenyut begitu keras yang kuyakin orang lain pun dapat mendengar. Tibalah saatnya! Aku menyeruak ke dalam kamar, berteriak, “Mati! Matilah!” Orang tua itu menjerit keras ketakutan saat kusergap dan kusekapkan selimut ke kepalanya. Masih juga jantungnya berdetak, tapi aku tersenyum karena kurasakan keberhasilan telah dekat. Untuk beberapa menit jantung itu tetap berdenyut, tapi akhirnya denyutan itu pun berhenti. Orang tua itu mati. Aku tarik kembali selimut dan kudekatkan telingaku ke jantungnya. Tidak ada suara. Ya. Dia mati! Mati seperti batu. Matanya takkanlah menggangguku lagi!

Lalu aku gila, katamu? Kau seharusnya melihat betapa hati-hatinya aku menyembunyikan mayat di mana seorang pun tidak dapat menemukannya. Mula-mula aku penggal kepalanya, lalu kedua lengan dan kakinya. Aku berhati-hati untuk tidak meninggalkan setetespun darah di atas lantai. Kubuka tiga papan yang menutup lantai, dan meletakkan potongan-potongan mayat itu ke dalamnya. Lalu kututupkan papan-papan itu kembali, dengan hati-hati, begitu hati-hati hingga tidak satu pun mata manusia dapat melihat papan-papan itu pernah terbuka.

Bersamaan kuselesaikan pekerjaan ini kudengar seseorang mengetuk pintu. Sekarang pukul empat pagi, namun cuaca masih gelap. Aku tidak takut, bagaimanapun, saat turun untuk membukakan pintu. Tiga orang berada di depan pintu, tiga orang petugas kepolisian. Seorang tetangga telah mendengar jeritan orang tua itu dan memanggil polisi; tiga orang ini yang telah datang untuk menyelidiki.

Aku menyilakan polisi-polisi itu masuk. Jeritan itu, kataku, adalah jeritanku, dalam mimpi. Orang tua itu, lanjutku, sedang pergi; dia pergi mengunjungi temannya di desa. Aku ajak mereka mengelilingi rumah, menyilakan mereka memeriksa, memeriksa dengan cermat. Kubawa mereka terakhir ke kamar orang tua itu. Layaknya mempermainkan mereka kuajak mereka duduk dan bercakap-cakap.

Sikapku yang ramah, tenang membuat polisi-polisi itu mempercayai ceritaku. Maka mereka pun duduk bercakap-cakap denganku dengan bersahabat. Tapi meski aku pun dapat beramah-ramah dengan mereka, aku berharap mereka akan segera pergi. Kepalaku pening dan ada suara aneh di telingaku. Aku keraskan suaraku, dan lebih keras. Suara itu pun semakin nyaring. Dan masih saja mereka duduk dan bertanya-tanya.

Lantas kutahu suara itu bukanlah di telingaku, bukan juga di dalam kepalaku. Seketika aku pun menjadi panik. Kukeraskan lagi suaraku dan lebih keras. Dan suara itu, pun, semakin keras. Suara yang lembut, lirih, terburu, seperti suara jam yang terdengar di atas dinding, sebuah suara yang kukenal benar. Makin keras suara itu, dan makin keras. Kenapa orang-orang itu tidak juga pergi? Makin keras, makin keras. Aku berdiri dan berputar-putar mengelilingi kamar. Kujatuhkan kursiku ke atas lantai untuk membuat lebih gaduh, untuk menutupi suara yang mengerikan itu. Aku bicara bahkan lebih keras. Dan masih juga orang-orang itu duduk dan bertanya-tanya, dan tersenyum. Mungkinkah mereka tidak dapat mendengarnya?

Tidak! Mereka dengar! Aku yakin itu. Mereka tahu! Kini merekalah yang mempermainkanku. Aku lebih menderita daripada yang kubayangkan, karena senyuman mereka, dan karena suara itu. Makin keras, makin keras, makin keras! Akupun tidak dapat menahannya lagi. Kutunjuk papan-papan itu dan berteriak, “Ya! Ya, aku membunuhnya. Angkatlah papan-papan itu dan kalian akan melihat! Aku membunuhnya. Tapi kenapa jantungnya tidak juga berhenti berdetak?! Kenapa tidak juga berhenti!?”

* dialihbahasakan dari cerpen The Tell-Tale Heart dalam antologi Edgar Allan Poe: Storyteller oleh Usman Didi Khamdani; dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 23 Februari 2003

Tidak ada komentar:

Posting Komentar